Service Excellence, After Sales Beli CoolPad

Hp yang untuk jawabin order, rusak. Oke tidak ada pilihan lain selain ganti hp baru, ASAP.
Masalahnya, dana sedang cekak wkwkw

Menuju toko handphone langganan, sebenernya kepengen merk OP** seperti yang saya pakai sekarang, tapi dengan spesifikasi yang saya mau kok lumayan mihil.
Ngobrol ngobrol dengan penjaga counternya, ditawari Merk Coolpad.
Eh ngga pernah denger nih merk. secara tampilan sih lumayan stylish… tapi kan bukan itu yang dicari

singkat cerita saya memutuskan dengan membeli hp itu dengan pertimbangan ada fasilitas, dalam 1 minggu ada yang ga beres, bisa replace (ganti baru). okeeeh saya minta no hp mas nya yang pake baju coolpad

Sampe rumah, saya hanya install whatsaap saja, dan langsung jawabin order yang masuk.. alamak banyak banget pesen yang masuk, dan hp baru itu jadi lemot, loadingnya lambat, padahal hanya buka whatsaap. Dipasang di whatsaap web juga lola..
(sebenernnya itu juga terjadi di HP lama)

cuz telpon si mas coolpad, dan dia kemudian datang ke rumah setinggan hp di utek utek.
Dia penasaran, karena hp dia dengan tipe yang sama, dengan aplikasi chatting lebih banyak, lancar-lancar ajah..

Karena masih lola, dia bawa itu hp ke supervisornya, yang kemudian menyarankan menghapus chattingan lama lama yang udah ga aktif, dan untuk sementara tidak menutup aplikasi, karena itu yang menyebabkan lola

Okeh, hp di balikin ke saya, dan disuruh coba saran tersebut. “Ntar kalau masih lola dalam 3 hari lagi, saya ganti baru mbak”

Wooo saya terkesan. Bukan tentang hp nya sih, tapi tentang layanan purna jual si mas… katanya : ntar kalo ada apa apa telpon ajah, rumah saya deket, ntar saya langsung ke rumah mbak”..

Wokeh… chat lama lama, saya simpen nama dan alamatnya, lalu hapus chat… jiahhh baru sepanjang bulan agustus aja udah pegel… pantesan lola… pake hp canggih pun… lha chat sehari ada lebih dr 50 an, sejak th 2012 blm diapus

ga jadi diganti baru dong hp nya wkwkwkwk

Baru sekali ini beli hp, sampe salesnya datang ke rumah dua kali, mau lihatin hpnya utek utek, dan memastikan hpnya berjalan sempurna.
Yang sering terjadi, beli hp, pas di servis, orangnya cuek..
Service excellence yang oke *jempolan*
Semoga kamu sukses di manapun kamu bekerja mas Amir (semoga ga salah namanya yak)

Iklan

Mengubah Energi Negatif Menjadi Positif

Kemarin saya sempat merasa kesal dengan salah seorang yang “teman” yang ngomongnya enggak enak. Tetapi di tengah kekesalan itu saya mengingat ucapan saya sendiri ketika berdiskusi dengan team saya,  tentang mengubah energi negatif yang ada diri kita menjadi energi positif yang menggerakkan kita lebih cepat ke arah yang lebih baik.

Mengatur Waktu

gambar diambil dari bublenews.com

Omongan tidak enak dan meremehkan dari “teman” ini sebenarnya tidak bisa saya tolerir sebenarnya, karena benar-benar meremehkan fungsi waktu bagi seseorang. Bagi saya, mengatur waktu adalah hal yang penting, karena saya mau waktu saya benar-benar efektif untuk melakukan sesuatu. Apabila saya mengatur janji untuk bertemu orang lain, saya akan memastikan bahwa saya pada saat itu benar-benar tidak ada kegiatan lain, dan 100% fokus ke pertemuan tersebut.

Saya jadi ingat sekitar tahun 1992 saya bekerja di rumah seorang warga Amerika Serikat, sebut saja namanya Miss Eva. Disini saya belajar pentingnya mengatur waktu, karena Miss Eva sangat disiplin soal waktu. Jam kerja yang dimulai jam 08,00, harus dimulai dengan tepat, saya tidak boleh datang terlambat, meskipun masih pukul 08.01, saya juga tidak boleh datang lebih awal, meskipun jam menunjukkan pukul 07.59.

Saya pernah melihat Miss Eva pun menerapkan disiplin yang sama buat dirinya sendiri. Saya pernah melihatnya membuat jadwal, dia membuat jadwal secara detail, misalnya : membersihkan rumah 30 menit, memasak 45 menit, berbelanja 25 menit, dilengkapi dengan daftar belanja yang sangat detail. Apabila membuat janji pun, ia benar-benar tepat waktu dan sangat menghargai waktu orang lain dengan tidak datang terlambat. Dan apabila ada perubahan, secepatnya akan menghubungi dan melakukan konfirmasi ulang. Baginya, waktu orang lain juga penting dan sangat berharga.

Awalnya saya cukup kaget dengan jadwal dan kebiasaan tepat waktu Miss Eva ini, tapi lama-lama saya pun terbiasa dan bisa mengikuti, karena dengan menghargai waktu, kita menghargai orang lain.

Saat ini ketika saya menjalankan bisnis saya sendiri, dari rumah, pengaturan waktu itu menjadi sangat penting. Membagi waktu antara keluarga, bisnis, dan diri sendiri secara seimbang menjadi perhatian saya.

Banyak orang mengira, saya bisa sedikit bersantai, karena semua saya kerjakan dari rumah. Iya sih, kalo mau bisnisnya segitu-gitu aja, boleh santai-santai, kerja kapan saja saya mau, tapi kan saya maunya bisnis saya terus berkembang, eh berkembang dengan cepat. Bagi saya waktu sangat berharga, karena saya HARUS menghasilkan sesuatu dari waktu saya.

Teman-teman yang mengenal saya, dan juga team saya sangat menghargai hal ini. Sehingga ketika melakukan order, pengiriman barang, pembayaran, membahas promo, semuanya sesuai jadwal yang disepakati, karena kami menyadari, selain hal ini, kami juga punya kepentingan lain.

Ah kok jadi kemana-mana….

Menoleh sedikit ke satu tahun yang lalu, dimana saya pernah berada dalam titik nol dalam kehidupan saya, bahkan berada di titik minus, mengolah energi negatif yang muncul menjadi energi positif adalah hal yang saya “perjuangkan” setiap hari. Jadi rasa kesal saya ke salah satu “teman” tadi menjadi energi positif yang baru bagi saya, yang membuat saya ingin lebih baik lagi, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.

Saya mengolah energi negatif dari kekesalan saya menjadi energi positif dalam membuat planning untuk pengembangan team saya, memperbaiki kekurangan dalam pelayanan customer, daaaaan hasilnya  bulan ini omzet toko online saya dan omzet grup mencapai angka tertinggi, dan saya dengan mulus melangkah ke jenjang karir berikutnya 😀

Saya tidak perlu peduli omongan orang lain, yang penting prestasi yang saya capai. Tidak perlu juga menunjukkan prestasi kita kepada orang lain, karena kalau kita berprestasi dan menghasilkan hal-hal positif, orang lain akan “memandang” kita tanpa diminta. Seperti kata Yoris Sebastian di Creative Junkies : Let other people chase you by doing something phenomenal”  Perhatian tidak perlu diminta apabila kita layak diperhatikan, dan cara yang paling mudah adalah melalui karya kita.

 

 

 

Look Back, and Move Forward – New Home, New Work

Kata orang, bekerja dari rumah itu enak, bisa sambil ngurus rumah, ngurus anak, tetap dapat penghasilan. Tapi ada juga lho yang sengaja maupun tidak sengaja, mengecilkan profesi bekerja di rumah ini, dan menganggapnya sesuatu yang tidak menjanjikan.

Pada bulan Januari 2012, saya memutuskan untuk pindah dan menempati rumah sendiri. Saya ingin benar-benar memulai semuanya dari baru, sehingga saya mengatur lagi semuanya dari nol.

Rumah baru, artinya lingkungan baru dan juga teman-teman baru, tetapi bukan berarti tidak bertemu seorang teman lama. Suatu hari saya ikut serta dalam lomba paduan suara, dan tenyata disana bertemu banyak teman lama yang salah satunya bertanya apakah saya masih bekerja di kantor saya yang lama. Saya jawab saya sudah resign, dan sekarang bekerja di rumah, menjalankan toko online. Komentarnya justru membuat saya geli, sekaligus sedikit kesal :

“Haduuh kasihan ya kamu, udah ga kerja lagi.. Apa cukup tuh dapetnya jalanin toko online, kan kebutuhan banyak. Yuk, kamu kerja aja ama aku yuk, di tokoku butuh karyawan..”Saya cuman tersenyum kecut aja, ngasih kartu nama, dan saya tinggal pergi. Wani piro? Nawarin saya kerjaan… hehe… wong pendapatan saya sekarang lebih besar dari waktu saya di kantor dulu.

TupperwareOnline

TRANSISI

Bekerja di rumah bukanlah hal mudah. Kalau banyak teman mengira saya bisa bersantai karena bekerja di rumah anggapan tersebut benar-benar salah. Awal-awal bekerja di rumah, kadang saya seperti berharap waktu tidak pernah cukup 24 jam. Inginnya semua dikerjakan dengan sempurna , inginnya semua telepon, sms, bbm, email, direspon secepat mungkin. Bahkan kalo ngantor masih ada jam istirahat, bekerja dirumah justru seringkali terlewat waktu istirahat.

Kalau dibandingkan, dulu masuk kantor jam 07.30, pulang jam 16.00, waktu bekerja di rumah, pukul 06.00 pagi aktivitas sudah dilakukan, dan berhenti ketika sudah terasa lelah, sekitar pukul 20.00, itu pun, makan, mandi, dilakukan sesingkat mungkin. Jam 21.00 -23.00 masih membalas coment-comment di facebook. Bisa dibayangkan jam tidurnya jam berapa,belum lagi otak terus berputar dengan ide ini dan itu.

Beberapa teman justru khawatir tentang kondisi saya pasca resign, bagaimana dengan transisi dari ngantor dengan bekerja sendiri, tapi bagi saya, transisi itu justru tidak terasa karena aktivitas yang dilakukan tidaklah berbeda. Saya masih tetap buat jadwal bekerja di awal hari, masih mereview kegiatan di sore hari. Setiap kegiatan di buatkan planning dan target. Bedanya dulu saya bekerja dalam sebuah tim, sekarang saya bekerja sendiri.

KEUANGAN

Nah ini adalah hal yang bagi beberapa orang cukup sensitif hehe, saya pribadi sempet sedikit deg-degan ketika saya mengambil gaji terakhir saya, pada pertengahan Januari 2012. Deg-deg an karena mengingat bulan depan saya tidak lagi menerima amplop gaji, bahwa bulan depan saya berjalan dengan uang hasil usaha saya sendiri.
Setelah itu, mengecek rekening adalah kegiatan rutin saya. Selain mengecek transferan dari pelanggan, saya juga harus mengecek kondisi keuangan saya, hehe… kapan saatnya belanja barang, kapan saatnya membayar tagihan. Jujur sebenarnya itu membuat saya lebih rajin kerjanya,kalau melihat saldo sudah menipis.
Setelah resign pun, saya menginventarisasi kebutuhan saya, yang selama ini tidak terpikirkan oleh saya,karena begitu terima gaji langsung dibayar. Ternyata banyak kebutuhan-kebutuhan kecil yang harus dibayar, yang kalau dikumpulkan, jumlahnya tidak lagi kecil, tapi lumayan BESAR.

TIPS

Untuk teman-teman yang baru resign, maupun dalam proses resign, sedikit tips bagi saya mungkin berguna :
– Just DO IT!. Tidak usah ragu-ragu, apapun kegiatan yang teman-teman lakukan setelah tidak ngantor lagi, lakukan secara maksimal, dengan keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa kita akan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Anggap aja ini project yang harus kita selesaikan
– REWARD, adalah bagian penting buat diri kita. Kalau dulu kita berprestasi dapat bonus dari kantor, sekarang, kalau target project pribadi kita selesai, berilah reward buat diri sendiri, misalnya : beli baju baru, makan enak di luar, beli gadget terbaru dll.
BERDOA adalah sesuatu yang paling ampuh menghilangkan kegalauan yang mungkin muncul dalam proses penyesuaian pasca resign, mohon diberi kekuatan olehNya untuk bisa melakukan yang terbaik.

Salam,

2012: Look Back, and Move Forward – New Start

Tahun 2012 adalah tahun yang sangat luar biasa bagi saya. Di tahun ini saya bagaikan terlahir kembali dan menjadi “saya” dengan sisi yang berbeda.

Secara profesional, saya yang mulai 1 Januari 2012 adalah saya 100% melepaskan diri dari status : karyawan.  Secara pribadi, 2012 adalah tahun saya memulai menjadi “single” lagi.

Dieng, Wonosobo

Tahun 2012 diawali dengan perjalanan liburan saya ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, dimana saya merasa “sedikit bangga” melakukan perjalanan ke daerah itu dengan duit dari kantong saya sendiri. Sebelumnya saya memang menemui para sahabat di sana dalam rangka bekerja, yang artinya semua biaya selama ini ditanggung kantor, dan kali ini saya berangkat dengan biaya sendiri… yihaaa..

Tapi sejujurnya kebanggaan tersebut sedikit luntur lho, karena kebaikan hati teman-teman, eh saudara-saudara saya disana, mereka tidak memperbolehkan saya membayar untuk sekedar makan siang. Jadi hampir semua biaya yang diperlukan, makan, penginapan,jalan-jalan, oleh-oleh, dibayarin.. huwaaa… bikin saya juga sedikit malu..

Perjalanan yang dimulai dari Klaten, Yogyakarta,Wonosobo, dan kemudian berakhir di Temanggung ini sebenarnya merupakan bagian dari diri saya mempersiapkan diri paca resign. Bertemu dengan saudara seperjuangan di dunia credit union, membuka (lagi) mata saya bahwa, tanpa status kekaryawanan saya pun, saya masih memiliki mereka sebagai saudara, tidak ada yang berubah. (Thx to : Erwin, Novi, Ruriet, Aji, Rio)

Kembali dari liburan, saya mau tidak mau menghadapi realita bahwa saya tidak lagi harus ngantor, yang artinya harus mengisi hari saya dengan tetap bekerja. Saya pun meneruskan kegiatan saya mengurus toko online yang saya kerjakan sambil lalu sejak Agustus 2011.

Hal yang tersulit pada awalnya ternyata adalah manajemen waktu,salah seorang sahabat saya, Susan, mengatakan, “Meskipun kita bekerja di rumah, dan berharap bahwa waktu kita lebih dari 24 jam, untuk terus bekerja dan memperoleh hasil sebanyak-banyaknya, kita tetap harus menjaga jadwal untuk kita bekerja.” Dia juga mengatakan, bahwa lambat laun saya akan menemukan ritme kerja sesuai diri saya sendiri.

Dan dia 100% benar, awalnya saya bahkan tidak bisa lepas dari handphone dan laptop, untuk bisa secepatnya membalas pertanyaan pelanggan, bahkan sampai pukul 12 malam pun saya masih menjawab BBM yang belum juga berhenti. Sehingga akhirnya saya kelelahan, serasa seperti dikejar-kejar sesuatu. Lha saya ini bekerja di rumah, saya sendiri yang mengatur perkerjaan saya sendiri kok rasanya melebihi dikejar deadline di kantor.

So i stopped being such a workaholic, and try to enjoy my days. And it works!

Kehangatan Sebuah Pelukan

Saya dibesarkan di sebuah keluarga tanpa kehadiran ayah. Keluarga kecil kami pun hanya terdiri dari ibu, adik, dan saya. Ibu membesarkan kami dengan disiplin yang tinggi dan mendidik kami untuk mandiri seawal mungkin. Saya ingat, ketika saya lulus SD, dan masuk ke SMP, saya mungkin satu-satunya anak yang mendaftar ke sekolah sendiri, tanpa didampingi orang tua, begitu juga waktu SMA. Semua urusan sekolah sebisa mungkin saya urus sendiri, dan ibu hanya datang ke sekolah ketika ada undangan rapat orang tua.

Adik saya, mandiri sejak lulus SMA, ia mulai bekerja di beberapa tempat, dari pekerja di sebuah home industri, karyawan di sebuah pabrik, mendaftar menjadi anggota Angkatan Laut, sampai kemudian menetap di Pulau Dewata.

image from : about my revovery.com

Di tengah kesibukannya mencari nafkah serta mengurus rumah, kami yakin 100% bahwa ibu sangat menyayangi kami. Rasa sayang ibu ini diwujudkan dalam mengurus keperluan kami sehari-hari seperti makanan dan pakaian (meskipun kami bisa melakukannya sendiri). Ibu juga sangat primpen (bhs Jawa : telaten terhadap barang-barang) sehingga beliau tahu dimana semua barang-barang kami  berada, jadi tidak ada satupun barang yang hilang dan tidak ditemukan, meski kami (saya terutama) sering meletakkan barang sembarangan.

Ketika saya sudah dewasa, saya menyadari bahwa bentuk rasa sayang ibu hampir tidak pernah diwujudkan dalam kedekatan fisik, seperti : pelukan. Ucapan selamat ulang tahun kepada anak, diwujudkan dalam masakan enak, ucapan selamat atas keberhasilan pun diberikan dalam bentuk yang lain. Hal ini kadang membuat kedekatan kami terasa kaku, mau peluk ibu kok rasanya wagu..

Tanpa saya sadari, hal ini pun terbawa dalam sikap saya sehari-hari, yang menurut teman-teman menjadi agak kaku dalam bergaul, dan merasa tidak nyaman dengan ucapan selamat seperti saling cium pipi dan berpelukan.

Beruntunglah saya, bahwa saya pernah bekerja di suatu lembaga yang dibangun berdasarkan sikap saling percaya, persahabatan, kedekatan, saling mendukung dan saling menghargai. Kami sekantor saling berkunjung ketika Lebaran dan Natal, saling mengunjungi ketika ada yang sakit, ikut berbahagia ketika ada yang menikah,  dan suasana kantor yang sangat supporting satu sama lain..

Lingkungan pekerjaan saya pun dibangun dengan basis komunikasi, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan berbagai tingkat sosial serta ekonomi. Berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai daerah, berbagai suku, dan dari negara lain, menuntut saya untuk lebih memahami seni berkomunikasi, pelan-pelan melunturkan “kekakuan saya..”

Ketika saya mempunyai anak , saya berusaha agar kekakuan dalam kedekatan ini tidak terjadi, seperti yang terjadi pada saya dulu. Saya mengajaknya ngobrol tentang kesehariannya, mencoba memahami hal-hal yang bagi saya aneh (misalnya : meributkan model rambut di pagi hari atau kuku yang dipasangi gambar-gambar). Ketika ia sudah remaja pun, saya masih menciumnya keningnya sebelum tidur, dan mencium kepalanya ketika berangkat sekolah.

Anak saya pun membalas kedekatan kami dengan caranya sendiri, ia membelikan coklat kesukaan saya, ketika saya ulang tahun (meski separuhnya ia yang makan), membereskan barang-barang saya, mengecek kunci pintu, mematikan lampu, ketika saya ketiduran.

Meskipun semuanya berjalan lancar, ya itu tadi, pelukan bagi saya adalah hal yang masih agak wagu untuk dilakukan.

Sampai suatu saat saya sempat marah pada anak saya karena pergi dengan teman-temannya tanpa berpamitan dulu dan meminta ijin, padahal pada saat yang sama saya ada acara penting dan ingin anak saya ikut hadir. Anak saya kemudian meminta maaf dan kami pun kemudian… berpelukan…

Dan saya pernah dibuatnya terperangah, ketika saya memberinya kejutan berupa handphone baru, karena hpnya yang lama sudah rusak. Ia pun berteriak kesenangan, berlari, dan kemudian memeluk saya erat-erat… sambil melompat-lompat..

Meskipun sederhana, ekspresi  anak saya dan kejadian itu membuat saya merasa seperti memandang dunia dengan cara yang berbeda, cara yang lebih indah dari sebelumnya. Dan jujur, setelahnya semuanya menjadi terasa lebih mudah dan ringan dalam mengekspresikan rasa sayang. Hubungan kami pun bisa menjadi lebih akrab, lebih seperti teman, daripada anak-orang tua

Jadi, tidak ada salahnya dan lebih baik juga kita mengekspresikan rasa sayang kepada keluarga dengan sebuah pelukan bukan?

Kantor Pos, Dulu Dan Sekarang, Nostalgia Dan Harapan

Siang ini saya mengunjungi Kantor Pos Besar Malang untuk mengirimkan paket orderan pelanggan, yang kebetulan alamatnya tidak terjangkau oleh jasa ekspedisi seperti T***, J**,P** atau yang lain. Adanya di daerah tersebut memang hanya kantor pos.

Saya pernah ke daerah tersebut, membutuhkan waktu minimal 15 jam perjalanan untuk sampai di lokasi, itu pun dengan kondisi jalan tanah, berlubang, dan melewati tengah hutan…

Sudah berapa tahun yah saya ga ke kantor pos? Mmmm… ada kali 5 tahunan.. Dulu saya pernah bekerja di suatu perusahaan, dan saya sering ngirim surat, faktur tagihan, maupun ngambil paket dari luar negeri biasanya ke kantor pos.

Waktu itu, yang saya ingat, untuk memperoleh layanan “cepat dan tepat” di kantor pos, adalah bagaimana kita bisa sejauh mungkin menembus antrian, dan meletakkan surat kita di tumpukan terbawah… di sebelah kanan petugas.  Jadi ketika pak petugas loket selesai dengan tumpukan di sebelah kirinya, dia akan meraih tumpukan surat di sebelah kanan, lalu membalik tumpukan itu, sehingga surat di tumpukan terbawah akan menjadi yang pertama dikerjakan.  Setelah mengerjakan semuanya dalam satu tumpukan, baru petugas akan memanggil nama satu-satu untuk membayar. Nah… itu akibatnya di depan loket selalu berdesakan… soalnya takut ga dengar kalo dipanggil…

Cerita lain tentang kantor pos, adalah jasanya dalam menyediakan layanan pembayaran pajak. Dulu, di kantor saya, saya bertugas membayar pajak ke bank, lalu lapor ke kantor pajak. DI hari terakhir pembayaran, biasanya di bank antri begitu panjang, ditambah dengan tutup layanan untuk pembayaran pajak jam 11 kalo ga salah. Maka saya pun segera menuju kantor pos, karena mereka melayani pembayaran sampai jam 14.00 untuk pajak… jadi ga kena denda..

Pos juga sangat berperan dengan sistem pengiriman paket, terutama dari luar negeri. Saya sering dimintain tolong mengambilkan paket kiriman dari luar negeri. Biasanya pihak pos mengirimkan nota pemberitahuan; bahwa ada paket yang dateng dan kudu diambil. Biasanya untuk mengambil harus membayar sejumlah uang untuk – pengepakan ulang – . Kelihatan banget bahwa isi paket sudah diperiksa, dengan sobekan bungkus yang kadang ga lazim…

Hal serupa juga terjadi di layanan Surat Tercatat. Pengertian saya kalo “surat tercatat” biasanya kan surat penting – karena biaya pengirimannya juga lebih mahal. Tapi kenapa pihak pos kudu kirim nota pemberitahuan dulu, baru kita bisa ambil surat tersebut di kantor pos? Kan kerja ga efisien… iya toh… kenapa ga langsung dikirim aja… daripada kirim nota pemberitahuan (1x kerja), lalu kita harus ambil sendiri (2x kerja), pak pos nya kudu nyari surat/paket  tersebut di tumpukan kiriman yang menggunung (3x kerja)…

Kantor Pos yang sepi…

Yaaaahhh… itu pengalaman saya duluuu... sekitar 5 tahun lalu…  Tadi siang ketika saya mengunjungi kantor pos, suasana cukup lengang. Antrian hanya terjadi di 3 loket dari 18 loket yang ada.. Mungkin karena saya kesananya jam 1.30 siang, jadi petugasnya masih istirahat…  di loket ada tulisan TUTUP,meski petugasnya ada..

Yang menarik perhatian saya, dibanding dulu, ini memang sangat sangat tertata. Di pintu masuk ada mesin antrian, namun tidak difungsikan (mungkin karena pengunjung tidak banyak..) Ada 11 loket terpadu, yang bisa melayani banyak kebutuhan sekaligus mulai dari layanan khas kantor pos, seperti beli perangko, beli meterai, pengiriman dokumen, pengiriman paket, sampai layanan pembayaran seperti : telepon, listrik, air, cicilan dan lain-lain. Saya lihat banyak juga yang memanfaatkan layanan pengiriman uang, Western Union. Jadi one stop shopping lah..

Dan satu lagi.. saya baru sadar kenapa kok kantor pos terasa sepi… Selain kantor pos ini terasa modern, bersih, dingin, rapi ada yang berbeda dibanding  dulu.. yaitu tidak adanya pedagang-pedagang di dalam kantor pos maupun di luar.

Dulu di dalam kantor pos, disediakan space yang disewakan untuk pedagang, jadi ada penjual kartu ucapan, ada penjual handphone, penjual baju, kue-kue, sampai aksesoris dan perhiasan. Kalau yang diluar biasanya ramai dengan PKL yang menjajakan VCD (lengkap dengan TV dan Loudspeaker), penjual koran dan majalah.

Kalau Kantor Pos pusat saja sepi begini, apa kabar bis surat yang biasanya ada di pinggir jalan ya? Dulu saya sering kirim kartu pos untuk ngirim TTS via bis surat ini…

Tekhnologi memang cepat berkembang, dibanding menulis surat, membeli perangko dan amplop, lalu mengantarnya ke kantor pos, saat ini tinggal mengetik email, langsung terkirim dan langsung sampai saat itu juga.  Kartu ucapan lebaran dan natal pun tergeser oleh SMS, yang sekali “Send” bisa kekirim ke semua daftar kontak. Bayar tagihan pun sekarang bisa dilakukan dari rumah via SMS Banking dan Internet Banking.

Nah soal kirim paket, sebenarnya kantor pos punya potensi terbesar, karena jaringannya terluas di Indonesia,  kirim sampai pelosok pun bisa. Namun sayang layanannya kalah dengan layanan ekspedisi seperti J** yang juga menyediakan layanan pickup barang buat pelanggan.

Seperti saya misalnya, yang menjalankan toko online dan membutuhkan jasa pengiriman barang secara reguler, karena paket yang saya kirim cukup banyak dengan ukuran yang besar. Kan enggak mungkin, saya angkat-angkat dos itu ke kantor pos, dan kemudian mengantri di loket… Saya biasanya cukup BBM, maka petugas ekspedisi datang untuk pickup paket-paket saya. Mereka juga membantu untuk repackaging apabila kurang kuat, for free…

Seperti salah satu motto toko online saya : berikanlah layanan lebih dari yang diharapkan pelanggan. Seharusnya kekuatan kantor pos yaitu jaringan yang luas, bisa sangat di kembangkan menjadi layanan yang lebih baik. Misalnya ya tadi itu : jasa layanan pickup barang / surat.. Lalu jasa repackaging.. Jasa pengiriman parcel dalam kota…

Dan satu usulan lagi ya para petinggi PT Pos Indonesia.. tarif pos untuk paket lebih mahal lho dibandingkan jasa ekspedisi sejenis. Website sih sudah oke banget, tapi yang ditampilkan hanya tarif express saja, jadi kalo compare, misalnya lewat layanan OngkosKirim.com, selalu terlihat bahwa layanan pos paling mahal..

Salah satu contoh, saya ingin mengirimkan 1 paket, ke Jakarta dengan berat 1kg, trus ngecek ke website Pos Indonesia. …masa pake infonya  Kilat Khusus (4 hari) tarifnya 31.000/kg… *gubrak* Padahal ekspedisi langganan saya tarifnya cuman 6.000/kg jauhhh banget kan..

Balik lagi soal pengiriman paket saya tadi siang, ke Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau Kutai Timur, ternyata dikenakan HANYA Rp.28.500, untuk 1 kg paket. Kalo ini muraaah banget… mengingat begitu jauhnya jarak dan susahnya medan… See? Pak Pos, kehadiran Anda masih sangat diharapkan…

Anyway bagi saya, Pos berjasa lho, salah satunya saya pernah mendapatkan Wesel pertama saya, yang isinya honor menulis cerpen di salah satu majalah, meski waktu itu hanya Rp.50.000, itu nilainya besar banget…

Kantor pos juga punya kenangan bagi saya, karena saya belajar pake Internet pertama kali justru dari warnet yang ada di kantor pos.. kalo ga salah namanya Wasantara.Net.

Ah kok saya jadi bernostalgia? Harapan saya, semoga lebih baik lagi ya, dan kembali rame seperti dulu….

Go Pos Indonesia!!!

Salam,

 

*** Sedikit info tentang sejarah Pos Indonesia

Perubahan Status Pos Indonesia
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Pos Indonesia Masa Kini
Dengan berjalannya waktu, Pos Indonesia kini telah mampu menunjukkan kreatifitasnya dalam pengembangan bidang perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Seiring dengan perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, jejaring Pos Indonesia sudah memiliki 3.700 Kantorpos online, serta dilengkapi elektronic mobile pos di beberapa kota besar. (dari berbagai sumber)

 

 

Muara Wahau Journey : Wisata (dan) Religi

Perjalanan saya ke Muara Wahau kebetulan bertepatan dengan bulan Maria – bulan Oktober 2011 lalu. Bulan yang bagi umat Katolik di dedikasikan untuk Bunda Maria dengan berdoa rosario setiap hari, dari rumah ke rumah selama 30 hari penuh.

Seminggu sebelum bulan oktober itu, beberapa orang mengajak saya untuk ikut serta ke Goa Maria Kung Beang pada hari pertama bulan rosario itu. Awalnya saya kurang tertarik, karena menganggap ziarah ke Goa Maria adalah hal yang biasa. Biasanya kita datang, memasang lilin, dan berdoa… kadang disertai dengan jalan salib di lokasi goa.

Namun penduduk desa Nehas Liah Bing yang mengajak saya silih berganti.. dan mereka mewanti-wanti agar saya tidak punya acara lain pada hari itu.  Nah, saya kan jadi penasaran.. apalagi hampir semua orang di desa membicarakan hal itu, tentang jam keberangkatan, cara mereka menuju tempat goa berada, sampai acara-acaranya… Mereka begitu antusias akan hari keberangkatan ke goa sehingga menjadi begitu semangatnya… Seolah acara berangkat ke goa merupakan event yang sangat istimewa bagi semua orang..  tapi apa?

Altar Misa yang sangaaat sederhana dari kayu yang ditumpuk

Maka, didorong rasa ingin tahu, pagi itupun saya menuju tempat berkumpul yang sudah di tetapkan, di rumah salah satu warga. Jam keberangkatan adalah pukul 07.00 pagi… tapi mulai pukul 6, sudah puluhan orang berdiri di pinggir jalan menunggu bus-bus berwarna kuning yang merupakan dukungan dari perusahaan, untuk membawa mereka berangkat… Semua berpakaian rapi, baju bagus untuk bepergian (sehari-hari mereka berpakaian sangat sederhana…) dan membawa bekal, seperti tikar dan rantang… Saya jadi merasa saltum… hehe

Bus datang, dan langsung diserbu oleh para penduduk desa… saking banyaknya… bus ada 6 dan masih kurang sehingga sebagian memilih naik motor. Saya pun bertanya ke sebelah saya : “Perjalanan berapa lama?”  Jawabnya… “yaaahh… sekitar 2-3 jam..” waduuuh, 2-3 jam dalam bus non ac yang panas? ampun dah… ditambah dalam bus banyak yang kemudian mabuk dan muntah… hiyahahaha… bayangkan…

Hm… karena beberapa hari hujan, jalan yang dilewati bus ternyata lebih menantang… berlobang, dan licin… beberapa kali bus terasa tergelincir… hih ngeri…. Perjalanan ternyata melewati kebun-kebun sawit milik beberapa perusahaan yang artinya jalanan berlumpur dan licin karena hujan… (jangan bayangkan jalanan beraspal mulus disini…)

Supaya para pesiarah ga kesasar, ada rambu-rambu sederhana yang dipasang di pinggir jalan… Yaah… kalo ga ada rambu kesasar kali ya… kiri kanan depan belakang = pohon sawit semuaaaa = tampak sama… Beberapa kali saya melihat banyak motor yang terpaksa didorong krn ga bisa melewati jalanan yang licin… banyak juga yang terjatuh dan penuh berlepotan lumpur… tapi mereka teteeep jalan terus…

Jalan Tanah yang licin diantara kebun sawit… bikin pengendara motor berjatuhan..

Akhirnya setelah hampir 3 jam.. (misa dimulai jam 10 pagi) bus sampai juga… disana sangat ramai dan penuh sehingga bus memutuskan untuk parkir agak jauh… artinya kami harus turun dan berjalan kaki di tengah lumpur ke lokasi misa… Untung saya pakai sepatu kets, sehingga kaki tidak kotor.. meskipun berjalan juga susah, karena lumpur menempel sekitar 3cm di sepatu…. Saya juga menyesal tadi ga sarapan… jadi lapaaar

Berjalan sekitar 15 menit di tengah lumpur, akhirnya kami sampai.. daaaan… wooww.. saya terperangah dengan keindahan tempat ini. Yang membuat saya terharu adalah… semua begitu sederhana… begitu apa adanya…

Lihatlah bangku-bangku misa yang berasal dari kayu papan (setelah misa, kayunya dikumpulin lagi)… Lihatlah kayu sederhana penyangga microphone untuk petugas koor.. Lihatlah sound system sederhana bagi Romo…  dan altar dari kayu yang berada di muka  gua…

Koor dengan mic diikat di kayu pohon…

Bangku Misa Kayu dari Kayu Papan

lah saya jadi pengen nangis… Ini toh yang membuat para penduduk di desa-desa dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai beramai-ramai kesini… Ini toh yang membuat mereka begitu bersemangat untuk datang dari jauh ditengah lumpur… Tuhan yang hadir di tengah kesederhanaan…

Tapi saya ga jadi nangis, dan lupa dengan sepatu saya yang berat dan berlumpur, begitu terdengar suara musik khas dayak… *tung tung tung…. tung… tung..* dan ada gadis-gadis cantik menari mengawali prosesi Romo memasuki area misa.. Semua perhatian terpusat di tengah area, dan seperti daya magis melingkupi… semua terpesona…Kesan pertama saya : Indah…Magis…

Prosesi

Umat Paroki Santa Maria Ratu Damai yang lokasinya berjauhan dan medan yang sangat sulit memang membuat umat tidak mudah memperoleh layanan rohani seperti misa. Misa hari Minggu biasanya diadakan bergantian di tiap desa. jadi bisa dibilang, umat di satu desa hanya bisa mengikuti misa sekali dalam 1-2 bulan…  Pantas saja event istimewa seperti ini sangat mereka nantikan… Bahkan percaya atau tidak, ada rombongan yang menginap sejak malam sebelumnya. Menginap di dalam mobil lho, di tengah hutan, tanpa listrik… untuk bisa ikut misa disana… luar biasa…

Selesai misa, ibu-ibu mengajak saya masuk ke dalam gua yang gelap, licin, dan harus naik tangga yang tinggi.. hiiiii… mana saya takut ketinggian bangeeet…. but maybe it’s  once of a life time,jadi yaah, diberanikan! Sempet narsis juga naik ke atas batu2 dan foto2 bareng anak-anak mahasiswa yang lagi KKN disana…

Di Dalem Gua, ini tinggi banget dan licin lho… saya sebenernya takuuut

Narsis bareng temen mahasiswa yang KKN

Setelah manjat-manjat gua… jadinya lapar… dan ternyata semua rombongan membawa makanan.. semacem piknik bagi mereka… ada yang bawa ubi… nasi dengan sayur… ikan asin… semangka… pisang… bawa termos air panas dan kopi…  Dan saya melihat inilah hal yang dirindukan oleh mereka, wisata yang sederhana tapi bermakna…  Sederhana tapi indah… *jadi pengen nangis lagi deh*

**Goa Maria Kung Beang, atau juga dikenal sebagai Gua Maria Pengantara Segala Rahmat yang dipahat oleh alam