Langkah Menjual Rumah Agar Cepat Laku

Ingin menjual rumah agar cepat laku? Praktekkan langkah-langkah  berikut ini

Langkah Pertama : Mari Membenahi Rumah
Lakukan pembersihan secara keseluruhan dan  sekaligus mengecek kondisinya. Bila perlu lakukan perbaikan kecil, seperti pengecatan rumah. Ganti cat dengan warna-warna yang saat ini sedang disukai. Sebagian besar pembeli pasti ingin membeli rumah yang siap huni dan dalam kondisi baik

Langkah Kedua : Survei Harga Pasar
Lakukan survei atas harga pasar pada rumah yang kita jual, dengan melihat harga tanah dan rumah di sekitar lokasi. Berilah harga sewajarnya agar kedua belah pihak (penjual dan pembeli) tidak dikecewakan. Jangan sampai rumah kita tidak laku lantaran terlalu mahal, atau sebaliknya kita malah ‘rugi’ karena menjual dengan harga jauh dibawah harga pasar.

Langkah Ketiga : Pasang tulisan yang mudah dilihat dan dibaca
Pasanglah di muka rumah tulisan ‘RUMAH DIJUAL ’ atau ‘RUMAH DIJUAL TANPA PERANTARA’ dengan ukuran dan warna yang mencolok sehingga mudah dibaca orang. Jangan lupa cantumkan nomor telepon agar orang bisa lebih mudah menghubungi kita

Langkah Keempat : Pasang Iklan
Apabila dana mencukupi, jangan lupa iklankan rumah (kalau bisa dengan foto) di surat kabar. Pasang di beberapa surat kabar untuk menilai mana yang paling efektif.
Apabila tidak, di internet banyak situs yang menawarkan untuk memasang iklan penjualan rumah secara gratis Iklan harus jelas dan lengkap, mencantumkan kondisi rumah (misalnya 3 kamar tidur, garasi, taman dll) dan lebih baik mencantumkan harga yang kita harapkan, sehingga tidak membuat waktu kita dengan telepon yang hanya menanyakan harga rumah.

Langkah Kelima : Beritahu keluarga, teman, dan relasi
Ini adalah cara mudah, murah sekaligus kemungkinan berhasilnya transaksi akan lebih besar. Tawarkan saja rumah kita kepada orang-orang yang telah kita kenal selama ini, seperti keluarga, teman, maupun relasi

Langkah Keenam : Apabila Perlu, Hubungi Agen Properti
Tak ada salahnya kita menghubungi agen properti, karena mungkin saja mereka mempunyai klien yang sedang membutuhkan rumah seperti yang hendak kita jual. Tentunya ada komisi yang harus kita sisihkan dari nilai penjualan rumah, yang berkisar antara 2,5 – 5 % tergantung besarnya nominal penjualan.

Rumah Baru atau Rumah Second?

Selain membeli rumah baru, rumah second bisa merupakan pilihan. Namun memang ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

1.    Usahakan untuk membeli rumah dari pemiliknya sendiri tanpa perantara, karena disana kita bisa memperoleh informasi secara detail tentang rumah yang akan dibeli. Selain itu dengan membeli langsung, harganya akan lebih murah karena penjual tidak perlu memberi komisi kepada broker/perantara.
2.    Tanyakan usia bangunan rumah. Secara sederhana kita bisa mengklasifikasi usia bangunan rumah yaitu : baru (kurang dari 10 tahun), sedang (10 s/d 20 tahun) dan tua (lebih dari 20 tahun). Jika pernah dilakukan renovasi, tanyakan kapan terakhir kali dilakukan renovasi. Tentunya ini bukan patokan baku, karena tentu akan sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan bangunan, tipe struktur dan kualitas pengerjaan yang dipergunakan pada rumah tersebut. Yang jelas, semakin tua usia bangunan maka performa-nya semakin menurun, dan berarti kita  harus bersiap menganggarkan dana untuk merenovasi rumah tersebut.
3.    Periksa kondisi fisik rumah. Periksa secara detail kondisi fisik rumah pada setiap bagian-bagiannya, bila perlu buat check list agar lebih mudah dalam melakukan pemeriksaan, antara lain :
a.    Kondisi struktur rumah, periksalah barangkali ada retak-retak di pondasi, dinding, kolom dan balok
b.    Periksalah dinding, barangkali ada flek-fek bekas rembesan air tanah
c.    Periksa kualitas lantai, apa masih baik atau sudah mengalami penurunan/retak-retak lantai
d.    Periksalah barangkali ada bekas-bekas serangan rayap pada kusen, jendela, pintu, plafon dan atap rumah.
e.    Pastikan bahwa struktur atap masih dalam kondisi baik, lihatlah barangkali ada balok/gording yang keropos, atau kebocoran serius pada talang
f.    Jangan lupa cek pula kondisi jaringan listrik di rumah tersebut
g.    Apakah kualitas airnya masih layak, dan cek pula jaringan air apa masih dalam kondisi baik
h.    Rasakan kondisi ruangan-ruangan, dan sirkulasi udara apakah segar, lembab atau malah terasa gerah
i.    Cek lingkungan sekitar rumah. Dapatkan informasi tentang kondisi lingkungan sekitar rumah, terutama jika rumah itu hendak anda tempati bersama keluarga. Jangan sampaikita kecewa karena ternyata lokasi rumah tersebut sulit diakses, rawan keamanan, jauh dari sarana umum
4.    Cek dokumen kelengkapan rumah. Periksalah keaslian sertifikat rumah, IMB, PBB dan kemudian lakukan cross check pada semua dokumen tersebut. Apabila ternyata nama yang tertera disitu tidak sama dengan nama penjual rumah, tanyakan status hubungannya. Bila ternyata belum dilakukan proses Balik Nama, mintalah Akta Jual Beli yang sah atas rumah tersebut. Untuk rumah yang berstatus harta warisan, tanyakan berapa banyak ahli waris sahnya. Poin ini penting sekali buat kita , demi menghindari masalah hukum yang tidak diinginkan di kemudian hari.
5.    Cek harga. Carilah informasi sebanyak mungkin tentang harga pasaran tanah dan rumah di sekitar lokasi rumah tersebut, sehingga kita bisa melakukan penawaran dalam kisaran harga yang sewajarnya. Terlebih-lebih jika kita berencana membeli rumah tersebut untuk kemudian menjualnya lagi.

Berbagi Pengalaman : Aspek Legal Dalam Membeli Rumah

Dalam membeli rumah, sebaiknya kita tidak hanya memikirkan faktor harga dan lokasi, namun juga aspek legalnya. Mengetahui proses sertifikasi rumah sehingga akhirnya sah secara hukum menjadi milik kita juga perlu dipahami.
Sertifikat hak atas tanah menjadi dambaan dari setiap pemegang hak atas tanah. Serasa masih ada yang kurang dan belum mantap bila pemilikan atau penguasaan atas tanah itu belum disertai bukti pemilikan berupa sertifikat. Sertifikat memiliki banyak fungsi bagi pemiliknya. Dari sekian fungsi yang ada, dapat dikatakan bahwa fungsi utama dan terutama dari sertifikat adalah sebagai alat bukti yang kuat Yang jelas bahwa sertifikat hak atas tanah itu akan memberikan rasa aman dan tenteram bagi pemiliknya karena segala sesuatunya mudah diketahui dan sifatnya pasti serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.
Apa Yang Dimaksud Dengan Akta Jual Beli (AJB)?
AJB merupakan bukti autentik secara hukum bahwa Anda sudah membeli tanah atau bangunan dari pihak penjual secara lunas. Yang sudah disahkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) melalui PPAT setempat.
AJB juga berfungsi untuk mengurus surat-surat peralihan dari pemilik lama ke pemilik baru. Sebab dalam penerbitan sertifikat untuk pemilik baru, AJB harus turut disertakan. Pihak Kantor Pertanahan selaku pihak yang menerbitkan sertifikat akan menanyakan AJB yang disyaratkan dalam pendaftaran.
Prosedur penandatanganan AJB adalah sebagai berikut :
1.    Penjual dan calon pembeli atau kuasanya harus menghadiri pembuatan akta.
2.    Pembuatan akta harus dihadiri sekurang-kurangnya 2 orang saksi.
3.    Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) membacakan dan menjelaskan isi dan maksud dari pembuatan akta.
4.    Jika isi akta telah disetujui oleh penjual dan calon pembeli, akta ditandatangani oleh penjual, calon pembeli, saksi – saksi, dan PPAT.
5.    Akta dibuat 2 (dua) lembar asli, 1 (satu) lembar disimpan di kantor PPAT dan 1 (satu) lembar lainnya disampaikan ke kantor pertanahan (BPN) untuk keperluan pendaftaran (balik nama), untuk penjual dan pembeli mendapatkan salinan akta.

Apa Perbedaan SHM (Sertifikat Hak Milik) dan SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan)?
Sertifikat Hak Guna Bangunan adalah jenis sertifikat dimana pemegang sertifikat hanya bisa memanfaatkan tanah tersebut baik untuk mendirikan bangunan atau untuk keperluan lain, sedang kepemilikan tanah adalah milik negara. Sertifikat Hak Guna Bangunan mempunyai batas waktu tertentu misalnya 20 tahun. Setelah melewati batas 20 tahun, maka pemegang sertifikat harus mengurus perpanjangan SHGB-nya.

Sertifikat Hak Milik adalah jenis sertifikat yang pemiliknya memiliki hak penuh atas kepemilikan tanah pada kawasan dengan luas tertentu yang telah disebutkan dalam sertifikat tersebut. Berbeda dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan yang memiliki batas waktu tertentu, Sertifikat Hak Milik tidak ada batas waktu kepemilikan.

Apakah SHGB dapat ditingkatkan menjadi SHM ?
Tanah dengan status SHGB bisa dijadikan SHM dengan melakukan pengurusan pada kantor pertanahan di wilayah tanah SGHB berada. Tanah dengan sertifikat HGB tersebut harus dimiliki oleh WNI  dengan luas kurang dari 600 meter persegi,

Syarat mengajukan permohonan mengubah SHGB ke SHM :
1.    Sertifikat asli HGB yang akan diubah status
2.    Fotokopi IMB (izin mendirikan bangunan) yang memperbolehkan dipergunakan untuk didirikan bangunan
3.    Bukti identitas diri
4.    Fotokopi SPPT PBB (pajak bumi dan bangunan) terakhir
5.    Surat permohonan kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat
6.    Surat penyataan tidak memiliki tanah lebih dari 5 bidang dan luas kurang dari 5000 meter persegi.

– artikel pada metrosawiran edisi Januari 2011 http://www.cusawiran.org

Membeli Rumah=Memilih Jodoh

Benarkah membeli rumah seperti memilih jodoh? Idiom ini sering sekali kita dengar dari orang tua, saudara dan teman.

Ada juga yang bilang : “Beli rumah itu jodoh-jodohan. Kalau cocok tidak akan lari kemana.   Dari pengalaman beberapa anggota yang mengajukan PPTR dan membeli rumah yang diinginkan, “jodoh” yang mungkin dimaksudkan adalah : rumah yang dibeli sesuai dengan yang dibayangkan sebelumnya, harga terjangkau, proses mudah, dan pada waktu yang tepat. Pada intinya semua terasa mudah, dari proses pencarian, pengambilan keputusan, pengajuan , akad kredit, hingga pembangunan atau renovasi rumah. Tidak ada kendala yang rumit dan menyulitkan dalam memiliki rumah.

Memilih rumah, terutama untuk ditempati sendiri bersama keluarga, memang tidak mudah. Selain faktor keinginan (lokasi, type rumah, fasilitas, kondisi lingkungan) faktor kemampuan (harga rumah dan biaya-biaya lain) menjadi bahan pertimbangan. Yang diharapkan adalah menyatukan keduanya, sehingga impian akan rumah sendiri menjadi kenyataan, istilah sederhananya : pas di hati dan tentunya pas di kantong.

Selain mencari rumah yang cocok, biasanya kita  mencari lembaga keuangan  untuk kredit kepemilikan rumah. Bagi yang tidak memiliki tabungan untuk membeli secara tunai, kredit di lembaga keuangan menjadi pilihan, meskipun tentu saja harus membayar angsuran yang terdiri dari pokok dan bunga.

Beberapa lembaga keuangan mengharuskan adanya  downpayment (DP) yang nilainya sekitar 20% -30% dari harga rumah, baru sisanya dibiayai dari kredit. Caranya ? Ya disarankan untuk memiliki tabungan minimal untuk DP dulu, dan sebaiknya jangan pernah membayar DP rumah dari uang pinjaman.  Mengapa? Karena selain DP,  harus tersedia ready cash untuk biaya surat menyurat (dokumen dokumen bukti kepemilikan).
Dengan spesifikasi rumah yang kita idamkan, mulailah mengkalkulasi sendiri kira kira berapa dana yang harus kita siapkan. Karena jika kita menunda untuk mulai menabung, beberapa tahun lagi uangnya baru bisa terkumpul? Mengapa begitu ?  Masalahnya, ketika uang sudah terkumpul, harga rumah juga pasti sudah naik lagi. Artinya, uang yang sudah kita kumpulkan akan terus tidak cukup jika kita terus menginginkan rumah seperti yang kita idamkan. Rasanya memiliki rumah idaman baru bisa sebatas angan-angan.

Jadi, bagaimana ?
Mengatur keuangan, dengan dua cara : memperkecil pengeluaran atau memperbesar pendapatan. Atau malah kedua-duanya dijalankan bersama, sementara terus mencari rumah yang menjadi “jodoh” kita. Mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang kredit untuk pembelian rumah. Memutuskan mana yang terbaik, dan ketika saatnya tiba, rumah impian di depan mata, kita sudah siap menyambutnya.

Pilih yang terbaik, pilih yang teraman, pilih yang paling nyaman.  Kalau membeli rumah seperti memilih jodoh, barangkali credit union adalah jodoh kita menggandeng masa depan yang lebih baik. Salam

– Artikel ini dimuat di buletin metrosawiran http://www.cusawiran.org

Mengubah Mindset : Habiskan Uang Anda!

Hari ini hari terakhir bulan April. Saya harus membayar angsuran KPR yang menjadi tanggungan saya… Jumlahnya lumayan BESAR…*ngeri* kalo mikirin harus nyicil setiap bulan… huwaaaa… apalagi ini cicilan yang pertama dari 120 cicilan yang harus dibayar… masih kurang 119 lagiiiiii……

Apalagi kalau dihitung-hitung ngepassss banget ama pendapatan *hiks* kok kalo dirasa-rasakan berat banget…

Dari link seorang teman, saya mengunjungi websitenya Pak Ahmad Gozali

Judulnya lucu : Jangan Sisakan Gaji Anda!

Kalau menurut saya sih, tidak usah mencari cara untuk menyisakan uang, karena uang memang sulit untuk bersisa. Uang itu seperti air, mudah menguap, mudah mengalir.

Uang memang diciptakan untuk dipakai, untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Itulah sebabnya uang sulit sekali untuk bersisa.

Maka sebagai perencana keuangan, saya TIDAK menyarankan untuk menyisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Sekali lagi, JANGAN sisakan uang.

Saya ulang lagi ya… JANGAN sisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Setiap Anda gajian, langsung HABISKAN saja.

Jangan cari cara untuk menyisakan uang, karena uang diciptakan memang untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Yang seharusnya kita lakukan adalah, mencari cara untuk MENGHABISKAN uang kita dengan benar. Bukan menyisakannya.

hehehhe…. lucu ya…. kita yang setiap bulan rajin menabung… (buat masa depan ceritanyaaa…) kok malah ga boleh menyisakan gaji

Yang saya pelajari di credit union, dan sering saya bicarakan pada saat sosialisasi CU adalah seperti ini :

Pandangan umum selama ini adalah : PENDAPATAN – PENGELUARAN = TABUNGAN

Yang dianjurkan pada di credit union adalah : PENDAPATAN-TABUNGAN = PENGELUARAN

Tapi kadang kita menghitung dahulu jumlah pengeluaran yang kita akan lakukan,dan berusaha seminim mungkin menyisihkan pos untuk tabungan…

Maka menurut saya sih, apa yang di tulis pak Gozali ini sungguh menarik tentang mengubah mindset “menghabiskan uang”..

Biar gak salah kaprah, yuk kita lihat kembali pernyataan mengenai cara menghabiskan uang.

Prioritas pertama adalah “Pay your God first” tentu artinya bukan membayar pada Allah, karena tidak Allah memerlukan apapun dari makhluknya. Yang saya maksud adalah membayar kewajiban yang diminta Allah SWT. Baik itu berupa zakat, maupun infaq dan sedekah yang bersifat sukarela.

Prioritas pengeluaran kedua adalah, bayar hutang. Kenapa harus bayar hutang duluan sebelum yang lain? Karena risikonya besar kalau tertunda. Kena denda, kena bunga tambahan, dan lain-lain. Semakin ditunda, akan semakin besar lagi konsekuensinya.

Prioritas pengeluaran yang ketiga adalah untuk saving. Dari namanya saja sudah jelas, saving di sini maksudnya adalah menabung. Baik itu menabung untuk dana cadangan, ataupun investasi untuk masa depan seperti dana pensiun dan sebagainya. Asuransi pun saya masukkan di sini. Karena pos ini saya anggap sebagai keperluan di masa depan.

Dan prioritas terakhir yaitu pengeluaran untuk shopping alias konsumsi. Mulai dari makanan, transport, dan sebagainya yang kita nikmati saat ini juga. Pengeluaran yang ini saya sarankan ambil dari sisanya saja setelah membayar zakat, setelah dipotong zakat, dan setelah menabung. Karena pengeluaran ini cenderung tidak ada batas maksimalnya. Kalau ada uang 1 juta, bisa habis untuk konsumsi saja. Kalau ada uangnya 10 juta bisa habis hanya untuk konsumsi.

Mungkin ada juga nyeletuk “Lho, kalo gitu sama aja dong… selama ini juga habis-habis aja kok, malah kadang kurang… Ya, paling urutannya aja yang beda. Biasanya belanja dulu, kalo ada sisa baru deh ditabung, kalo ditagih baru deh bayar hutang. Sedekah? Kalo inget….”

Beda dong kalo gitu…!

Kenapa selama ini gagal menabung dengan rutin? Karena menunggu SISA. Dan seperti yang sudah saya katakan di atas, uang sulit sekali untuk bersisa.

Pengeluarannya mungkin sama saja, jumlahnya juga sama saja. Tapi mindset kita adalah MENGHABISKAN, bukan MENYISAKAN. Sehingga lebih mudah dan menyenangkan untuk dijalankan.

Jadi kesimpulannya adalah, mari kita HABISKAN uang kita di jalan yang benar dan menyenangkan. Bukan MENYISAKANNYA dgn sakit hati dan terpaksa.

Jadi…. bagaimana? mau tetap seperti sekarang… terus menerus menunggu sisa, atau mengubah mindset kita ?

Salam  🙂

Kalau menurut saya sih, tidak usah mencari cara untuk menyisakan uang, karena uang memang sulit untuk bersisa. Uang itu seperti air, mudah menguap, mudah mengalir.

Uang memang diciptakan untuk dipakai, untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Itulah sebabnya uang sulit sekali untuk bersisa.

Maka sebagai perencana keuangan, saya TIDAK menyarankan untuk menyisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Sekali lagi, JANGAN sisakan uang.

Saya ulang lagi ya… JANGAN sisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Setiap Anda gajian, langsung HABISKAN saja.

Jangan cari cara untuk menyisakan uang, karena uang diciptakan memang untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Yang seharusnya kita lakukan adalah, mencari cara untuk MENGHABISKAN uang kita dengan benar. Bukan menyisakannya.

Dedikasi dan Pelayanan

Pelayanan CU Sawiran di Gedog-Turen



 

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya, panas menyengat begitu terasa bagi kami yang sedang melangkah di deretan rumah-rumah di  daerah Turen, Kabupaten Malang. Pelayanan seminggu sekali ini tampaknya memang sangat ditunggu oleh penduduk sekitar. Begitu kami mengucapkan salam di depan pintu, setumpuk buku tabungan sudah disiapkan beserta isinya, ditambahkan senyum dan keramahan si pemilik rumah, sungguh panas matahari tadi berubah menjadi kesejukan di hati.

 

Berjarak 26 km dari TP Kepanjen,  daerah Turen memang tidak bisa dilayani setiap hari, jarak yang cukup jauh dan keterbatasan jumlah staff menjadi kendala. Namun kami ingin tetap melayani, menerima anggota yang menabung, mengangsur pinjaman, dan berkonsultasi tentang kebutuhan keuangan mereka. Pembicaraan seputar perkembangan usaha dan kehidupan sehari-hari pun mengalir bagai air. Di beberapa tempat ibu-ibu sambil menggendong anak, berkumpul untuk menunggu kedatangan kami.

 

Orang bijak mengatakan : dedikasi adalah kunci menuju kesuksesan.  Dedikasi melibatkan kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Sejarah mencatat, orang-orang yang berdedikasi pada suatu hal merupakan orang-orang yang berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah.  Warga Turen memang tidak tercatat dalam sejarah, namun dedikasi dalam keseharian yang dilakukan sangat nyata terlihat. Pemilik usaha yang ada,  merangkul tetangga, saudara, dan warga sekitar untuk ikut serta menjalankan usahanya.  Lihatlah usaha yang ada, pengrajin tahu, peternak sapi, pengrajin sangkar burung, pengrajin mebel, pandai besi, petani tebu dan banyak lagi yang belum disebutkan. Masing-masing dengan keuletan dan kerja kerasnya membangun ekonomi lokal.  Tidak ada keinginan bersaing secara tidak sehat atau meraih peluang yang ada sendirian. Semuanya dilakukan secara bersama sama demi kesejahteraan bersama pula.

 

Bertahun-tahun sedikit demi sedikit hasil yang diperoleh dikumpulkan untuk membangun masa depan. Membeli peralatan untuk usaha, membeli tanah, membangun rumah, membeli kendaraan, serta mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak mereka.

 

Kepercayaan dan kedekatan yang tumbuh dari pelayanan bertahun-tahun memang tidak diperoleh dengan mudah.  Seperti masyarakat Kepanjen, kami harus menjunjung tinggi dedikasi dalam pelayanan. Kesabaran menempuh jarak yang jauh, cuaca yang tidak bersahabat, keluletan melayani ratusan orang dengan ratusan latar belakang, konsisten melayani dari waktu kewaktu dengan memberikan yang terbaik. Dan yang penting : menumbuhkan kedekatan dan kepercayaan.

 

Tidak mudah, namun menghasilkan sesuatu yang indah. Senyum dan tawa anggota yang menyambut kami menjadi pelepas dahaga di siang yang terik itu. Masih banyak yang menanti kami untuk menjalin mimpi masa depan keluarga mereka bersama Sawiran, jadi kami harus melangkah lagi.

 

Salam Credit Union

Pak Arifin : Bagi saya, Sawiran adalah sebuah keluarga

Pak Arifin, pengusaha tahu dan peternak sapi



 

Bapak Arifin, anggota CU Sawiran TP Kepanjen,  benar-benar memulai usahanya dari nol. Baginya belajar adalah hal mutlak dengan tidak memandang usia dan kondisi seseorang. Pembelajaran hidup  yang bermula dari kesehariannya sebagai buruh pabrik tahu itulah, yang kemudian mengubah hidupnya.

 

Sebagai buruh pabrik tahu, ia bertugas mengolah ampas tahu yang dihasilkan dan dianggap sebagai limbah. Dari situlah ia belajar bahwa di, limbah tahu ternyata juga menghasilkan uang. Ampas tahu diproduksi ulang menjadi  bahan baku tempe gembos, dan juga bisa dijual sebagai penganan yang disebut “tahu jegug” . Ampas tahu juga dipergunakan sebagai tambahan makanan bagi sapi.Berbekal pengalaman itulah ia nekat membuka pabrik tahu kecil-kecilan.  Namun karena kurang persiapan dan perhitungan yang matang, usahanya ambruk. “Saya waktu itu sempat bingung mengembalikan pinjaman dari sebuah bank swasta,” ceritanya.”Ketika saya menyampaikan permasalahan saya dan meminta  solusi, saya memperoleh kekecewaan.”

 

Pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. Berbekal dari tabungan istrinya, iapun mulai memproduksi tahu kembali.  “Saya hanya memegang uang sebesar tiga juta rupiah,” kenangnya. Padahal modal untuk peralatan mencapai lebih dari dua puluh juta , belum termasuk bahan baku utama seperti kedelai.

 

Saat itulah ia mengenal Sawiran dari pembicaraan rekan-rekannya bahwa ada lembaga keuangan yang concern mendukung gerakan ekonomi masyarakat di sekitar Gedog Wetan.  “Begitu menjadi anggota saya sangat terkesan  karena Sawiran menerima saya sebagai suatu keluarga.  Kesulitan permodalan saya dibantu, pengelolaan usaha saya memperoleh dukungan dan konsultasi, serta hubungan baik yang tetap terjaga sampai saat ini.

 

Maka Pak Arifin pun mulai bangkit, tanpa kenal lelah ia bersama istri menjalankan semuanya sendiri. Mencari bahan baku, mengolahnya menjadi tahu, menggoreng, kemudian menjual ke pasar.Pukul satu dini hari  ia sudah mulai berjualan di pasar sampai pukul tujuh pagi. Setelah beristirahat sejenak, ia  memproduksi tahu sampai pukul delapan malam, sementara istrinya menggoreng tahu yang sudah jadi sehingga siap dipasarkan.  Setelah semua siap,  ia  mengulangi rutinitasnya sebagai pedagang tahu di pasar. Saat ini semua itu tidak perlu ia lakukan sendiri, empat orang karyawan sudah siap membantunya membuat dan mengolah tahu sehingga siap jual.  Namun berjualan di Pasar Besar masih dilakukannya sendiri.

 

Kerja kerasnya bukan tanpa pemikiran keras dan proses pembelajaran terus menerus. Lima ekor sapi yang dimilikinya sekarang bukan hasil seketika. Ketekunannya belajar tentang cara merawat sapi membuatnya mengetahui seluk-beluk pemeliharaan sapi, bagaimana sistem pemasarannya,  dan yang penting  bagaimana cara menggunakan limbah tahu sebagai makanan sapi.

 

“Sawiran selalu hadir ketika saya membutuhkan,”tuturnya,”kepercayaan yang diberikan Sawiran sangat saya hargai, dan saya ingin sekali mengajak sebanyak mungkin orang untuk menjadi anggota.”Kemauan dan keinginan belajar dari pengalaman hidup, memang tidak pernah berhenti bagi Pak Arifin. Bapak yang sedang menunggu kelahiran anak keduanya ini  berencana untuk menjadi menjadi  pewaralaba satu minimarket terkenal, karena melihat peluang yang cukup besar di daerah tepat tinggalnya.

 

Semoga lancar ya, Pak Arifin. Kami dukung selalu langkah anda menuju masa depan, dan terima kasih telah menjadi bagian dan keluarga besar kami, keluarga CU Sawiran.