Bisnis Parcel Lebaran

Bisnis Parcel Lebaran adalah bisnis dari rumah yang nggak ada matinya sampai sekarang. Parcel sudah membudaya sebagai tanda ucapan terima kasih di hari hari besar tertentu.
Bisnis Parcel lebaran pernah dibahas beberapa tahun lalu di banyak media yang memberitakan larangan memberikan parcel (hadiah) kepada instansi tertentu, hal yang cukup meresahkan para pemilik usaha parcel, tapi ternyata sampai saat ini usaha parcel tetap berkembang mengikuti jaman

Bisnis parcel lebaran… hm… ceritanya beberapa hari ini banyak teman menghubungi saya untuk minta dibuatkan parcel lebaran. Jujur aja, saya kurang suka membuat parcel, not my favourite things 😀 . Dalam membuat parcel, yang saya suka adalah ide kreatifnya, tapi membuatnya sendiri? hehe.. no.. nooo..

parcel tupperware 2Untunglah ada asisten saya yang cantik, yang telaten dalam melakukannya, sehingga banyak parcel lebaran kemudian siap untuk dikirimkan.

Saya mengamati bahwa dalam banyak hal, parcel konvensional, masih banyak peminatnya. Iyaaa parcel yang isinya masih sirup dan kue-kue kemasan. Banyak toko yang menjual parcel siap bawa dalam berbagai range harga. Parcel berikutnya yang banyak peminatnya adalah parcel kue kering, baik yang dikemas cantik dalam keranjang, maupun yang siap bawa dalam kemasan box, lengkap dengan pita.

Anyway, sedikit pengamatan saya dalam bisnis parcel saat ini adalah

Isi parcel lebaran

  • parcel konvensional masih diminati, parcel yang isinya makanan dan minuman kemasan, seperti sirup dan biskuit. saran saya, seimbangkan isi parcel, dengan minuman, kue-kue, dan yang manis-manis seperti permen
  • parcel kue kering, saat ini banyak kue kering dibuat parcel dengan berbagai kemasan, dan berbagai harga. saran saya, kue kering harus enak, meski berdampak pada harga jual yang  lebih tinggi
  • parcel berisi bahan makanan pokok, seperti : minyak goreng, gula, kopi, beras, makanan kaleng dan lain-lain
  • parcel berisi perlengkapan rumah yang selalu diminati seperti parcel produk tupperware

parcel tupperware 3

Kemasan parcel
isi parcel sudah ditentukan, maka kemasan adalah hal terpenting setelah isinya. Secara umum kemasan parcel menggunakan

  • Keranjang, banyak keranjang parcel dijual dengan berbagai bentuk. saran saya pilih keranjang yang ketika dipacking kelihatan elegan, dan mewah
  • Box, banyak tersedia box parcel dengan berbagai bahan, sesuaikan dengan harga parcel
  • Dus, saat ini juga ada dus parcel siap pakai. Cukup dilipat, masukkan isi parcel, tutup, beres. Biasanya digunakan untuk parcel bahan makanan
  • Tas, nah kalau parcel menggunakan tas, mungkin lebih tepat disebut bingkisan. tapi, jangan salah, banyak juga peminatnya lho, dan biasanya pesanan dalam jumlah besar, dan biasanya berisi bahan makanan pokok

Perlengkapan parcel

  • Plastik pembungkus, gunakan plastik bening, namun lumayan tebal. jangan pilih plastik yang tipis karena mudah sobek disana sini
  • Pita, sesuaikan pita dengan warna dan kemasan parcel. Saat ini banyak dijual pita siap pakai, tinggal tarik, beres.
  • Perlengkapan lain, isolasi, lakban, gunting dan cutter

Nah.. siap berbisnis parcel lebaran? isi sudah siap, kemasan sudah cantik, sekarang saatnya melakukan pemasaran parcel.

1. buat foto contoh parcel dalam berbagai kemasan, misalnya 1 foto untuk parcel dengan keranjang, 1 foto untuk parcel dengan box, dst

2. tentukan harga : harga isi parcel, kemasan, transportasi, plus margin keuntungan yang diinginkan. jangan takut menentukan harga, asal parcel kita sesuai dengan kualitasnya

3. JUAL parcel anda, dan terima pesanan.

  • Pasang foto parcel sebagai DP di BBM dan WA
  • pasarkan melalui sosial media, manfaatkan facebook, twitter, instagram, path, dll
  • hubungi teman, saudara, kolega, tetangga bahwa Anda menyediakan parcel lebaran, jangan lupa tunjukkan contoh parcel atau foto parcel Anda

Sedikit cerita, saya juga mengamati bahwa beberapa langganan parcel saya, lebih senang apabila mereka bisa memilih isi parcel yang mereka sukai. bagi mereka harga bukan masalah, yang penting isinya sesuai dengan yang mereka inginkan

Tentukan nilai plus parcel anda dibanding parcel-parcel yang sudah ada, dan raihlah hati pelanggan Anda 🙂

Salam, Pipiw

 

 

Cara Mengurus Kartu NPWP Yang Hilang

Kartu NPWP saya hilang, entah kemana… untuk kartu yang jarang digunakan, memang salah sendiri kurang perhatian naruh dimana… alhasil begitu diperlukan, saya kelabakan mencarinya….
karena sudah dicari kemana mana ga ketemu, akhirnya menyerah, harus minta kartu baru lagi ke kantor pajak. Tapi entah kenapa, sesuatu yang berbau “goverment stuffs” bikin saya males, apalagi dulu pernah bekerja di bagian yang ngurus2 pajak begini…
Abis browsing kesana-kesini, informasinya ga sama, ada yg bilang : harus bawa surat kehilangan, atau bukti potong pajak dari bendahara, ada juga yang bilang cukup datang saja bawa ktp

Nah, akhirnya setelah saya menjejakkan kaki ke kantor pajak, kesan ramah langsung saya disambut security yg bertanya : ada yang bisa dibantu?
namun, dari dua security itu saya mendapat dua info berbeda, yang satu bilang cukup bawa ktp, nah yang satu, yang mecegat saya di pintu masuk, meminta saya kembali lagi dengan membawa surat kehilangan dari kepolisian… nah lho mana yang bener
Karena saya agak ngotot, bahwa yang diperlukan cuma ktp.. akhirnya pak security bilang, “ya udah terserah, tanya sendiri ke loket”

antrian kantor pajak

Antrian dapat no 170, dan keterangannya harus menunggu 3 orang… eeeehh belum sempet duduk, no antrian saya udah dipanggil…
Setelah menjelaskan, bahwa kartu saya hilang, petugasnya ga tanya apa-apa, cuma minta ktp. Ga sampe semenit, kartu nya udah dilletakkan di depan saya, “tolong di cek dulu datanya”
eh… ternyata semudah itu…
sama parkir tadi, ga sampe 10 menit urusan udah kelar….
*semoga ga parno lagi kalo urus urus beginian* haha

Service excellence adalah bintangnya!

Hari ini saya berencana cuci mobil, tapi ragu-ragu karena tampaknya mendung sudah menggantung.Mau gak dicuci, udah kotor sekali, karena kemarin dibawa ke luar kota.

Tempat cuci mobil langganan saya dikelola oleh dua orang bapak yang seusia ibu saya, mungkin sekitar 60 tahun-an, salah satunya bertangan satu. Yang saya sukai adalah : meskipun cuci mobil diselesaikan oleh karyawan-karyawan yang masih muda, finishing selalu dilakukan sendiri oleh Bapak berdua ini, jadi bersih bangeeet…

Mobil udah bersih, selesai dicuci, yang saya khawatirkan terjadi., pas mobil udah mau keluar, hujan turun. Saya pun tanpa sadar langsung berkeluh kesah kepada sang Bapak, tentang keraguan saya sebelum berangkat tadi

Jawaban si Bapak, sungguh mencengangkan saya : Jangan khawatir, besok, kalo sempat, mampir kesini lagi, mobilnya akan dicuci lagi, gratis.
Lha, saya melongo : Bener pak?

Serius mbak… itu kan garansi dari kami, kalo pelanggan pas keluar dari sini, pas turun hujan.. akan dicuci lagi, jadi…. ga usah “awang-awangen”
(padahal kan hujan turun bisa dibilang force majeur :p)

Sampai saya sudah mulai menyetir, sang Bapak berkata lagi : Jangan lupa mbak, besok, kesini lagi ya….

Baru sekali ini dapat Service excellence kayak begini..

Look Back, and Move Forward – New Home, New Work

Kata orang, bekerja dari rumah itu enak, bisa sambil ngurus rumah, ngurus anak, tetap dapat penghasilan. Tapi ada juga lho yang sengaja maupun tidak sengaja, mengecilkan profesi bekerja di rumah ini, dan menganggapnya sesuatu yang tidak menjanjikan.

Pada bulan Januari 2012, saya memutuskan untuk pindah dan menempati rumah sendiri. Saya ingin benar-benar memulai semuanya dari baru, sehingga saya mengatur lagi semuanya dari nol.

Rumah baru, artinya lingkungan baru dan juga teman-teman baru, tetapi bukan berarti tidak bertemu seorang teman lama. Suatu hari saya ikut serta dalam lomba paduan suara, dan tenyata disana bertemu banyak teman lama yang salah satunya bertanya apakah saya masih bekerja di kantor saya yang lama. Saya jawab saya sudah resign, dan sekarang bekerja di rumah, menjalankan toko online. Komentarnya justru membuat saya geli, sekaligus sedikit kesal :

“Haduuh kasihan ya kamu, udah ga kerja lagi.. Apa cukup tuh dapetnya jalanin toko online, kan kebutuhan banyak. Yuk, kamu kerja aja ama aku yuk, di tokoku butuh karyawan..”Saya cuman tersenyum kecut aja, ngasih kartu nama, dan saya tinggal pergi. Wani piro? Nawarin saya kerjaan… hehe… wong pendapatan saya sekarang lebih besar dari waktu saya di kantor dulu.

TupperwareOnline

TRANSISI

Bekerja di rumah bukanlah hal mudah. Kalau banyak teman mengira saya bisa bersantai karena bekerja di rumah anggapan tersebut benar-benar salah. Awal-awal bekerja di rumah, kadang saya seperti berharap waktu tidak pernah cukup 24 jam. Inginnya semua dikerjakan dengan sempurna , inginnya semua telepon, sms, bbm, email, direspon secepat mungkin. Bahkan kalo ngantor masih ada jam istirahat, bekerja dirumah justru seringkali terlewat waktu istirahat.

Kalau dibandingkan, dulu masuk kantor jam 07.30, pulang jam 16.00, waktu bekerja di rumah, pukul 06.00 pagi aktivitas sudah dilakukan, dan berhenti ketika sudah terasa lelah, sekitar pukul 20.00, itu pun, makan, mandi, dilakukan sesingkat mungkin. Jam 21.00 -23.00 masih membalas coment-comment di facebook. Bisa dibayangkan jam tidurnya jam berapa,belum lagi otak terus berputar dengan ide ini dan itu.

Beberapa teman justru khawatir tentang kondisi saya pasca resign, bagaimana dengan transisi dari ngantor dengan bekerja sendiri, tapi bagi saya, transisi itu justru tidak terasa karena aktivitas yang dilakukan tidaklah berbeda. Saya masih tetap buat jadwal bekerja di awal hari, masih mereview kegiatan di sore hari. Setiap kegiatan di buatkan planning dan target. Bedanya dulu saya bekerja dalam sebuah tim, sekarang saya bekerja sendiri.

KEUANGAN

Nah ini adalah hal yang bagi beberapa orang cukup sensitif hehe, saya pribadi sempet sedikit deg-degan ketika saya mengambil gaji terakhir saya, pada pertengahan Januari 2012. Deg-deg an karena mengingat bulan depan saya tidak lagi menerima amplop gaji, bahwa bulan depan saya berjalan dengan uang hasil usaha saya sendiri.
Setelah itu, mengecek rekening adalah kegiatan rutin saya. Selain mengecek transferan dari pelanggan, saya juga harus mengecek kondisi keuangan saya, hehe… kapan saatnya belanja barang, kapan saatnya membayar tagihan. Jujur sebenarnya itu membuat saya lebih rajin kerjanya,kalau melihat saldo sudah menipis.
Setelah resign pun, saya menginventarisasi kebutuhan saya, yang selama ini tidak terpikirkan oleh saya,karena begitu terima gaji langsung dibayar. Ternyata banyak kebutuhan-kebutuhan kecil yang harus dibayar, yang kalau dikumpulkan, jumlahnya tidak lagi kecil, tapi lumayan BESAR.

TIPS

Untuk teman-teman yang baru resign, maupun dalam proses resign, sedikit tips bagi saya mungkin berguna :
– Just DO IT!. Tidak usah ragu-ragu, apapun kegiatan yang teman-teman lakukan setelah tidak ngantor lagi, lakukan secara maksimal, dengan keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa kita akan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Anggap aja ini project yang harus kita selesaikan
– REWARD, adalah bagian penting buat diri kita. Kalau dulu kita berprestasi dapat bonus dari kantor, sekarang, kalau target project pribadi kita selesai, berilah reward buat diri sendiri, misalnya : beli baju baru, makan enak di luar, beli gadget terbaru dll.
BERDOA adalah sesuatu yang paling ampuh menghilangkan kegalauan yang mungkin muncul dalam proses penyesuaian pasca resign, mohon diberi kekuatan olehNya untuk bisa melakukan yang terbaik.

Salam,

2012: Look Back, and Move Forward – New Start

Tahun 2012 adalah tahun yang sangat luar biasa bagi saya. Di tahun ini saya bagaikan terlahir kembali dan menjadi “saya” dengan sisi yang berbeda.

Secara profesional, saya yang mulai 1 Januari 2012 adalah saya 100% melepaskan diri dari status : karyawan.  Secara pribadi, 2012 adalah tahun saya memulai menjadi “single” lagi.

Dieng, Wonosobo

Tahun 2012 diawali dengan perjalanan liburan saya ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, dimana saya merasa “sedikit bangga” melakukan perjalanan ke daerah itu dengan duit dari kantong saya sendiri. Sebelumnya saya memang menemui para sahabat di sana dalam rangka bekerja, yang artinya semua biaya selama ini ditanggung kantor, dan kali ini saya berangkat dengan biaya sendiri… yihaaa..

Tapi sejujurnya kebanggaan tersebut sedikit luntur lho, karena kebaikan hati teman-teman, eh saudara-saudara saya disana, mereka tidak memperbolehkan saya membayar untuk sekedar makan siang. Jadi hampir semua biaya yang diperlukan, makan, penginapan,jalan-jalan, oleh-oleh, dibayarin.. huwaaa… bikin saya juga sedikit malu..

Perjalanan yang dimulai dari Klaten, Yogyakarta,Wonosobo, dan kemudian berakhir di Temanggung ini sebenarnya merupakan bagian dari diri saya mempersiapkan diri paca resign. Bertemu dengan saudara seperjuangan di dunia credit union, membuka (lagi) mata saya bahwa, tanpa status kekaryawanan saya pun, saya masih memiliki mereka sebagai saudara, tidak ada yang berubah. (Thx to : Erwin, Novi, Ruriet, Aji, Rio)

Kembali dari liburan, saya mau tidak mau menghadapi realita bahwa saya tidak lagi harus ngantor, yang artinya harus mengisi hari saya dengan tetap bekerja. Saya pun meneruskan kegiatan saya mengurus toko online yang saya kerjakan sambil lalu sejak Agustus 2011.

Hal yang tersulit pada awalnya ternyata adalah manajemen waktu,salah seorang sahabat saya, Susan, mengatakan, “Meskipun kita bekerja di rumah, dan berharap bahwa waktu kita lebih dari 24 jam, untuk terus bekerja dan memperoleh hasil sebanyak-banyaknya, kita tetap harus menjaga jadwal untuk kita bekerja.” Dia juga mengatakan, bahwa lambat laun saya akan menemukan ritme kerja sesuai diri saya sendiri.

Dan dia 100% benar, awalnya saya bahkan tidak bisa lepas dari handphone dan laptop, untuk bisa secepatnya membalas pertanyaan pelanggan, bahkan sampai pukul 12 malam pun saya masih menjawab BBM yang belum juga berhenti. Sehingga akhirnya saya kelelahan, serasa seperti dikejar-kejar sesuatu. Lha saya ini bekerja di rumah, saya sendiri yang mengatur perkerjaan saya sendiri kok rasanya melebihi dikejar deadline di kantor.

So i stopped being such a workaholic, and try to enjoy my days. And it works!

Kura-Kura Makan Ikan, Teman Makan Teman

Hari minggu pagi ini di kejutkan oleh teriakan anak saya Agata, yang secara tidak sengaja melihat aquarium kecil yang kami letakkan diatas lemari es. Tidak hanya terkejut, ditambah sedih dan shock, ia melihat ikan kecil peliharaan kami yang dikunyah oleh sang kura-kura.

Memang beberapa bulan lalu, kami membeli beberapa ekor ikan dan dua kura-kura. Karena pengalaman memelihara ikan sebelumnya yang ga pernah sukses, banyak ikan akhirnya mati, dan hanya bertahan tiga ekor, sedangkan sang kura-kura tetap bertahan hidup hehe..

Perbedaan mencolok terlihat diantara dua kura-kura peliharaan itu, yang satu kecil kurus, yang satu gendut. Yang semula ketika kami beli berukuran sama, dengan berjalannya waktu, yang satu ukurannya dua kali lebih besar dari yang lain… Setelah saya perhatikan… laaah gimana ga kurus, wong makanannya dimakan semua ama yang gede.. jadi dia ga kebagian, trus “mogok makan” dan akhirnya mati

Suatu hari saat membersihkan aquarium kami sempat kaget, karena jumlah ikannya berkurang satu.Pertanyaan “masa kura-kura makan ikan?”itu pun muncul… tapi sempet kepikiran… ah… kura-kura kan makan daun-daunan… masa makan ikan yang hidup bareng dia.. (kesannya kok kejam banget…) Tapi pagi ini pertanyaan itu terjawab sudah,si kura-kura gendut “tertangkap basah” mengunyah ikan “teman hidupnya”

Terlepas dari mencari penyebabnya..(ih kayaknya lupa ngasih makan deh.. kata anak saya…) saya memandang ini menjadi suatu pelajaran berharga.. Nggak cuma kura-kura yang notabene binatang yang tidak memiliki akal seperti manusia, dalam kehidupan nyata “makan-memakan” ini juga terjadi kok.. Dalam keadaan kepepet, dan dalam titik tertentu, keinginan, kehendak,pemikiran, niat, tekad “how to survive” ini pun muncul. Dalam keadaan itu apapun akan dilakukan asal seseorang bisa bertahan.

Pernah baca buku dan ikutan seminar “The Power Of Kepepet?” saya belum hehe… namun bisa dilihat bahwa dalam keadaan itu banyak orang mengeluarkan kemampuan terbaiknya… sel-sel otak bekerja lebih keras, kreativitas mencapai puncaknya, dan energi seakan tidak pernah habis… Energi positif inilah yang akan menjadi luar biasa apabila dimanfaatkan secara maksimal…

Sayangnya banyak orang pula dalam keadaan kepepet, tidak memandang sisi positif dan mencari solusi, malahan menggunakan sisi negatif untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi. Makanya kita mungkin pernah mendengar (atau mengalami) istilah “teman makan teman ” dalam dunia kerja.. di kantor, maupun di dunia bisnis..

Anyway, kembali ke kura-kura kecil peliharaan saya… dia sekarang berenang-renang sendiri tanpa teman… (lah temannya sudah dimakan semua) apakah dia bisa bertahan?

*ngeliat akuarium* apa harus saya belikan temen lagi ya ?

Langkah Menjual Rumah Agar Cepat Laku

Ingin menjual rumah agar cepat laku? Praktekkan langkah-langkah  berikut ini

Langkah Pertama : Mari Membenahi Rumah
Lakukan pembersihan secara keseluruhan dan  sekaligus mengecek kondisinya. Bila perlu lakukan perbaikan kecil, seperti pengecatan rumah. Ganti cat dengan warna-warna yang saat ini sedang disukai. Sebagian besar pembeli pasti ingin membeli rumah yang siap huni dan dalam kondisi baik

Langkah Kedua : Survei Harga Pasar
Lakukan survei atas harga pasar pada rumah yang kita jual, dengan melihat harga tanah dan rumah di sekitar lokasi. Berilah harga sewajarnya agar kedua belah pihak (penjual dan pembeli) tidak dikecewakan. Jangan sampai rumah kita tidak laku lantaran terlalu mahal, atau sebaliknya kita malah ‘rugi’ karena menjual dengan harga jauh dibawah harga pasar.

Langkah Ketiga : Pasang tulisan yang mudah dilihat dan dibaca
Pasanglah di muka rumah tulisan ‘RUMAH DIJUAL ’ atau ‘RUMAH DIJUAL TANPA PERANTARA’ dengan ukuran dan warna yang mencolok sehingga mudah dibaca orang. Jangan lupa cantumkan nomor telepon agar orang bisa lebih mudah menghubungi kita

Langkah Keempat : Pasang Iklan
Apabila dana mencukupi, jangan lupa iklankan rumah (kalau bisa dengan foto) di surat kabar. Pasang di beberapa surat kabar untuk menilai mana yang paling efektif.
Apabila tidak, di internet banyak situs yang menawarkan untuk memasang iklan penjualan rumah secara gratis Iklan harus jelas dan lengkap, mencantumkan kondisi rumah (misalnya 3 kamar tidur, garasi, taman dll) dan lebih baik mencantumkan harga yang kita harapkan, sehingga tidak membuat waktu kita dengan telepon yang hanya menanyakan harga rumah.

Langkah Kelima : Beritahu keluarga, teman, dan relasi
Ini adalah cara mudah, murah sekaligus kemungkinan berhasilnya transaksi akan lebih besar. Tawarkan saja rumah kita kepada orang-orang yang telah kita kenal selama ini, seperti keluarga, teman, maupun relasi

Langkah Keenam : Apabila Perlu, Hubungi Agen Properti
Tak ada salahnya kita menghubungi agen properti, karena mungkin saja mereka mempunyai klien yang sedang membutuhkan rumah seperti yang hendak kita jual. Tentunya ada komisi yang harus kita sisihkan dari nilai penjualan rumah, yang berkisar antara 2,5 – 5 % tergantung besarnya nominal penjualan.