Look Back, and Move Forward – New Home, New Work

Kata orang, bekerja dari rumah itu enak, bisa sambil ngurus rumah, ngurus anak, tetap dapat penghasilan. Tapi ada juga lho yang sengaja maupun tidak sengaja, mengecilkan profesi bekerja di rumah ini, dan menganggapnya sesuatu yang tidak menjanjikan.

Pada bulan Januari 2012, saya memutuskan untuk pindah dan menempati rumah sendiri. Saya ingin benar-benar memulai semuanya dari baru, sehingga saya mengatur lagi semuanya dari nol.

Rumah baru, artinya lingkungan baru dan juga teman-teman baru, tetapi bukan berarti tidak bertemu seorang teman lama. Suatu hari saya ikut serta dalam lomba paduan suara, dan tenyata disana bertemu banyak teman lama yang salah satunya bertanya apakah saya masih bekerja di kantor saya yang lama. Saya jawab saya sudah resign, dan sekarang bekerja di rumah, menjalankan toko online. Komentarnya justru membuat saya geli, sekaligus sedikit kesal :

“Haduuh kasihan ya kamu, udah ga kerja lagi.. Apa cukup tuh dapetnya jalanin toko online, kan kebutuhan banyak. Yuk, kamu kerja aja ama aku yuk, di tokoku butuh karyawan..”Saya cuman tersenyum kecut aja, ngasih kartu nama, dan saya tinggal pergi. Wani piro? Nawarin saya kerjaan… hehe… wong pendapatan saya sekarang lebih besar dari waktu saya di kantor dulu.

TupperwareOnline

TRANSISI

Bekerja di rumah bukanlah hal mudah. Kalau banyak teman mengira saya bisa bersantai karena bekerja di rumah anggapan tersebut benar-benar salah. Awal-awal bekerja di rumah, kadang saya seperti berharap waktu tidak pernah cukup 24 jam. Inginnya semua dikerjakan dengan sempurna , inginnya semua telepon, sms, bbm, email, direspon secepat mungkin. Bahkan kalo ngantor masih ada jam istirahat, bekerja dirumah justru seringkali terlewat waktu istirahat.

Kalau dibandingkan, dulu masuk kantor jam 07.30, pulang jam 16.00, waktu bekerja di rumah, pukul 06.00 pagi aktivitas sudah dilakukan, dan berhenti ketika sudah terasa lelah, sekitar pukul 20.00, itu pun, makan, mandi, dilakukan sesingkat mungkin. Jam 21.00 -23.00 masih membalas coment-comment di facebook. Bisa dibayangkan jam tidurnya jam berapa,belum lagi otak terus berputar dengan ide ini dan itu.

Beberapa teman justru khawatir tentang kondisi saya pasca resign, bagaimana dengan transisi dari ngantor dengan bekerja sendiri, tapi bagi saya, transisi itu justru tidak terasa karena aktivitas yang dilakukan tidaklah berbeda. Saya masih tetap buat jadwal bekerja di awal hari, masih mereview kegiatan di sore hari. Setiap kegiatan di buatkan planning dan target. Bedanya dulu saya bekerja dalam sebuah tim, sekarang saya bekerja sendiri.

KEUANGAN

Nah ini adalah hal yang bagi beberapa orang cukup sensitif hehe, saya pribadi sempet sedikit deg-degan ketika saya mengambil gaji terakhir saya, pada pertengahan Januari 2012. Deg-deg an karena mengingat bulan depan saya tidak lagi menerima amplop gaji, bahwa bulan depan saya berjalan dengan uang hasil usaha saya sendiri.
Setelah itu, mengecek rekening adalah kegiatan rutin saya. Selain mengecek transferan dari pelanggan, saya juga harus mengecek kondisi keuangan saya, hehe… kapan saatnya belanja barang, kapan saatnya membayar tagihan. Jujur sebenarnya itu membuat saya lebih rajin kerjanya,kalau melihat saldo sudah menipis.
Setelah resign pun, saya menginventarisasi kebutuhan saya, yang selama ini tidak terpikirkan oleh saya,karena begitu terima gaji langsung dibayar. Ternyata banyak kebutuhan-kebutuhan kecil yang harus dibayar, yang kalau dikumpulkan, jumlahnya tidak lagi kecil, tapi lumayan BESAR.

TIPS

Untuk teman-teman yang baru resign, maupun dalam proses resign, sedikit tips bagi saya mungkin berguna :
– Just DO IT!. Tidak usah ragu-ragu, apapun kegiatan yang teman-teman lakukan setelah tidak ngantor lagi, lakukan secara maksimal, dengan keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa kita akan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Anggap aja ini project yang harus kita selesaikan
– REWARD, adalah bagian penting buat diri kita. Kalau dulu kita berprestasi dapat bonus dari kantor, sekarang, kalau target project pribadi kita selesai, berilah reward buat diri sendiri, misalnya : beli baju baru, makan enak di luar, beli gadget terbaru dll.
BERDOA adalah sesuatu yang paling ampuh menghilangkan kegalauan yang mungkin muncul dalam proses penyesuaian pasca resign, mohon diberi kekuatan olehNya untuk bisa melakukan yang terbaik.

Salam,

2012: Look Back, and Move Forward – New Start

Tahun 2012 adalah tahun yang sangat luar biasa bagi saya. Di tahun ini saya bagaikan terlahir kembali dan menjadi “saya” dengan sisi yang berbeda.

Secara profesional, saya yang mulai 1 Januari 2012 adalah saya 100% melepaskan diri dari status : karyawan.  Secara pribadi, 2012 adalah tahun saya memulai menjadi “single” lagi.

Dieng, Wonosobo

Tahun 2012 diawali dengan perjalanan liburan saya ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, dimana saya merasa “sedikit bangga” melakukan perjalanan ke daerah itu dengan duit dari kantong saya sendiri. Sebelumnya saya memang menemui para sahabat di sana dalam rangka bekerja, yang artinya semua biaya selama ini ditanggung kantor, dan kali ini saya berangkat dengan biaya sendiri… yihaaa..

Tapi sejujurnya kebanggaan tersebut sedikit luntur lho, karena kebaikan hati teman-teman, eh saudara-saudara saya disana, mereka tidak memperbolehkan saya membayar untuk sekedar makan siang. Jadi hampir semua biaya yang diperlukan, makan, penginapan,jalan-jalan, oleh-oleh, dibayarin.. huwaaa… bikin saya juga sedikit malu..

Perjalanan yang dimulai dari Klaten, Yogyakarta,Wonosobo, dan kemudian berakhir di Temanggung ini sebenarnya merupakan bagian dari diri saya mempersiapkan diri paca resign. Bertemu dengan saudara seperjuangan di dunia credit union, membuka (lagi) mata saya bahwa, tanpa status kekaryawanan saya pun, saya masih memiliki mereka sebagai saudara, tidak ada yang berubah. (Thx to : Erwin, Novi, Ruriet, Aji, Rio)

Kembali dari liburan, saya mau tidak mau menghadapi realita bahwa saya tidak lagi harus ngantor, yang artinya harus mengisi hari saya dengan tetap bekerja. Saya pun meneruskan kegiatan saya mengurus toko online yang saya kerjakan sambil lalu sejak Agustus 2011.

Hal yang tersulit pada awalnya ternyata adalah manajemen waktu,salah seorang sahabat saya, Susan, mengatakan, “Meskipun kita bekerja di rumah, dan berharap bahwa waktu kita lebih dari 24 jam, untuk terus bekerja dan memperoleh hasil sebanyak-banyaknya, kita tetap harus menjaga jadwal untuk kita bekerja.” Dia juga mengatakan, bahwa lambat laun saya akan menemukan ritme kerja sesuai diri saya sendiri.

Dan dia 100% benar, awalnya saya bahkan tidak bisa lepas dari handphone dan laptop, untuk bisa secepatnya membalas pertanyaan pelanggan, bahkan sampai pukul 12 malam pun saya masih menjawab BBM yang belum juga berhenti. Sehingga akhirnya saya kelelahan, serasa seperti dikejar-kejar sesuatu. Lha saya ini bekerja di rumah, saya sendiri yang mengatur perkerjaan saya sendiri kok rasanya melebihi dikejar deadline di kantor.

So i stopped being such a workaholic, and try to enjoy my days. And it works!