Kehangatan Sebuah Pelukan

Saya dibesarkan di sebuah keluarga tanpa kehadiran ayah. Keluarga kecil kami pun hanya terdiri dari ibu, adik, dan saya. Ibu membesarkan kami dengan disiplin yang tinggi dan mendidik kami untuk mandiri seawal mungkin. Saya ingat, ketika saya lulus SD, dan masuk ke SMP, saya mungkin satu-satunya anak yang mendaftar ke sekolah sendiri, tanpa didampingi orang tua, begitu juga waktu SMA. Semua urusan sekolah sebisa mungkin saya urus sendiri, dan ibu hanya datang ke sekolah ketika ada undangan rapat orang tua.

Adik saya, mandiri sejak lulus SMA, ia mulai bekerja di beberapa tempat, dari pekerja di sebuah home industri, karyawan di sebuah pabrik, mendaftar menjadi anggota Angkatan Laut, sampai kemudian menetap di Pulau Dewata.

image from : about my revovery.com

Di tengah kesibukannya mencari nafkah serta mengurus rumah, kami yakin 100% bahwa ibu sangat menyayangi kami. Rasa sayang ibu ini diwujudkan dalam mengurus keperluan kami sehari-hari seperti makanan dan pakaian (meskipun kami bisa melakukannya sendiri). Ibu juga sangat primpen (bhs Jawa : telaten terhadap barang-barang) sehingga beliau tahu dimana semua barang-barang kami  berada, jadi tidak ada satupun barang yang hilang dan tidak ditemukan, meski kami (saya terutama) sering meletakkan barang sembarangan.

Ketika saya sudah dewasa, saya menyadari bahwa bentuk rasa sayang ibu hampir tidak pernah diwujudkan dalam kedekatan fisik, seperti : pelukan. Ucapan selamat ulang tahun kepada anak, diwujudkan dalam masakan enak, ucapan selamat atas keberhasilan pun diberikan dalam bentuk yang lain. Hal ini kadang membuat kedekatan kami terasa kaku, mau peluk ibu kok rasanya wagu..

Tanpa saya sadari, hal ini pun terbawa dalam sikap saya sehari-hari, yang menurut teman-teman menjadi agak kaku dalam bergaul, dan merasa tidak nyaman dengan ucapan selamat seperti saling cium pipi dan berpelukan.

Beruntunglah saya, bahwa saya pernah bekerja di suatu lembaga yang dibangun berdasarkan sikap saling percaya, persahabatan, kedekatan, saling mendukung dan saling menghargai. Kami sekantor saling berkunjung ketika Lebaran dan Natal, saling mengunjungi ketika ada yang sakit, ikut berbahagia ketika ada yang menikah,  dan suasana kantor yang sangat supporting satu sama lain..

Lingkungan pekerjaan saya pun dibangun dengan basis komunikasi, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan berbagai tingkat sosial serta ekonomi. Berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai daerah, berbagai suku, dan dari negara lain, menuntut saya untuk lebih memahami seni berkomunikasi, pelan-pelan melunturkan “kekakuan saya..”

Ketika saya mempunyai anak , saya berusaha agar kekakuan dalam kedekatan ini tidak terjadi, seperti yang terjadi pada saya dulu. Saya mengajaknya ngobrol tentang kesehariannya, mencoba memahami hal-hal yang bagi saya aneh (misalnya : meributkan model rambut di pagi hari atau kuku yang dipasangi gambar-gambar). Ketika ia sudah remaja pun, saya masih menciumnya keningnya sebelum tidur, dan mencium kepalanya ketika berangkat sekolah.

Anak saya pun membalas kedekatan kami dengan caranya sendiri, ia membelikan coklat kesukaan saya, ketika saya ulang tahun (meski separuhnya ia yang makan), membereskan barang-barang saya, mengecek kunci pintu, mematikan lampu, ketika saya ketiduran.

Meskipun semuanya berjalan lancar, ya itu tadi, pelukan bagi saya adalah hal yang masih agak wagu untuk dilakukan.

Sampai suatu saat saya sempat marah pada anak saya karena pergi dengan teman-temannya tanpa berpamitan dulu dan meminta ijin, padahal pada saat yang sama saya ada acara penting dan ingin anak saya ikut hadir. Anak saya kemudian meminta maaf dan kami pun kemudian… berpelukan…

Dan saya pernah dibuatnya terperangah, ketika saya memberinya kejutan berupa handphone baru, karena hpnya yang lama sudah rusak. Ia pun berteriak kesenangan, berlari, dan kemudian memeluk saya erat-erat… sambil melompat-lompat..

Meskipun sederhana, ekspresi  anak saya dan kejadian itu membuat saya merasa seperti memandang dunia dengan cara yang berbeda, cara yang lebih indah dari sebelumnya. Dan jujur, setelahnya semuanya menjadi terasa lebih mudah dan ringan dalam mengekspresikan rasa sayang. Hubungan kami pun bisa menjadi lebih akrab, lebih seperti teman, daripada anak-orang tua

Jadi, tidak ada salahnya dan lebih baik juga kita mengekspresikan rasa sayang kepada keluarga dengan sebuah pelukan bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s