Kantor Pos, Dulu Dan Sekarang, Nostalgia Dan Harapan

Siang ini saya mengunjungi Kantor Pos Besar Malang untuk mengirimkan paket orderan pelanggan, yang kebetulan alamatnya tidak terjangkau oleh jasa ekspedisi seperti T***, J**,P** atau yang lain. Adanya di daerah tersebut memang hanya kantor pos.

Saya pernah ke daerah tersebut, membutuhkan waktu minimal 15 jam perjalanan untuk sampai di lokasi, itu pun dengan kondisi jalan tanah, berlubang, dan melewati tengah hutan…

Sudah berapa tahun yah saya ga ke kantor pos? Mmmm… ada kali 5 tahunan.. Dulu saya pernah bekerja di suatu perusahaan, dan saya sering ngirim surat, faktur tagihan, maupun ngambil paket dari luar negeri biasanya ke kantor pos.

Waktu itu, yang saya ingat, untuk memperoleh layanan “cepat dan tepat” di kantor pos, adalah bagaimana kita bisa sejauh mungkin menembus antrian, dan meletakkan surat kita di tumpukan terbawah… di sebelah kanan petugas.  Jadi ketika pak petugas loket selesai dengan tumpukan di sebelah kirinya, dia akan meraih tumpukan surat di sebelah kanan, lalu membalik tumpukan itu, sehingga surat di tumpukan terbawah akan menjadi yang pertama dikerjakan.  Setelah mengerjakan semuanya dalam satu tumpukan, baru petugas akan memanggil nama satu-satu untuk membayar. Nah… itu akibatnya di depan loket selalu berdesakan… soalnya takut ga dengar kalo dipanggil…

Cerita lain tentang kantor pos, adalah jasanya dalam menyediakan layanan pembayaran pajak. Dulu, di kantor saya, saya bertugas membayar pajak ke bank, lalu lapor ke kantor pajak. DI hari terakhir pembayaran, biasanya di bank antri begitu panjang, ditambah dengan tutup layanan untuk pembayaran pajak jam 11 kalo ga salah. Maka saya pun segera menuju kantor pos, karena mereka melayani pembayaran sampai jam 14.00 untuk pajak… jadi ga kena denda..

Pos juga sangat berperan dengan sistem pengiriman paket, terutama dari luar negeri. Saya sering dimintain tolong mengambilkan paket kiriman dari luar negeri. Biasanya pihak pos mengirimkan nota pemberitahuan; bahwa ada paket yang dateng dan kudu diambil. Biasanya untuk mengambil harus membayar sejumlah uang untuk – pengepakan ulang – . Kelihatan banget bahwa isi paket sudah diperiksa, dengan sobekan bungkus yang kadang ga lazim…

Hal serupa juga terjadi di layanan Surat Tercatat. Pengertian saya kalo “surat tercatat” biasanya kan surat penting – karena biaya pengirimannya juga lebih mahal. Tapi kenapa pihak pos kudu kirim nota pemberitahuan dulu, baru kita bisa ambil surat tersebut di kantor pos? Kan kerja ga efisien… iya toh… kenapa ga langsung dikirim aja… daripada kirim nota pemberitahuan (1x kerja), lalu kita harus ambil sendiri (2x kerja), pak pos nya kudu nyari surat/paket  tersebut di tumpukan kiriman yang menggunung (3x kerja)…

Kantor Pos yang sepi…

Yaaaahhh… itu pengalaman saya duluuu... sekitar 5 tahun lalu…  Tadi siang ketika saya mengunjungi kantor pos, suasana cukup lengang. Antrian hanya terjadi di 3 loket dari 18 loket yang ada.. Mungkin karena saya kesananya jam 1.30 siang, jadi petugasnya masih istirahat…  di loket ada tulisan TUTUP,meski petugasnya ada..

Yang menarik perhatian saya, dibanding dulu, ini memang sangat sangat tertata. Di pintu masuk ada mesin antrian, namun tidak difungsikan (mungkin karena pengunjung tidak banyak..) Ada 11 loket terpadu, yang bisa melayani banyak kebutuhan sekaligus mulai dari layanan khas kantor pos, seperti beli perangko, beli meterai, pengiriman dokumen, pengiriman paket, sampai layanan pembayaran seperti : telepon, listrik, air, cicilan dan lain-lain. Saya lihat banyak juga yang memanfaatkan layanan pengiriman uang, Western Union. Jadi one stop shopping lah..

Dan satu lagi.. saya baru sadar kenapa kok kantor pos terasa sepi… Selain kantor pos ini terasa modern, bersih, dingin, rapi ada yang berbeda dibanding  dulu.. yaitu tidak adanya pedagang-pedagang di dalam kantor pos maupun di luar.

Dulu di dalam kantor pos, disediakan space yang disewakan untuk pedagang, jadi ada penjual kartu ucapan, ada penjual handphone, penjual baju, kue-kue, sampai aksesoris dan perhiasan. Kalau yang diluar biasanya ramai dengan PKL yang menjajakan VCD (lengkap dengan TV dan Loudspeaker), penjual koran dan majalah.

Kalau Kantor Pos pusat saja sepi begini, apa kabar bis surat yang biasanya ada di pinggir jalan ya? Dulu saya sering kirim kartu pos untuk ngirim TTS via bis surat ini…

Tekhnologi memang cepat berkembang, dibanding menulis surat, membeli perangko dan amplop, lalu mengantarnya ke kantor pos, saat ini tinggal mengetik email, langsung terkirim dan langsung sampai saat itu juga.  Kartu ucapan lebaran dan natal pun tergeser oleh SMS, yang sekali “Send” bisa kekirim ke semua daftar kontak. Bayar tagihan pun sekarang bisa dilakukan dari rumah via SMS Banking dan Internet Banking.

Nah soal kirim paket, sebenarnya kantor pos punya potensi terbesar, karena jaringannya terluas di Indonesia,  kirim sampai pelosok pun bisa. Namun sayang layanannya kalah dengan layanan ekspedisi seperti J** yang juga menyediakan layanan pickup barang buat pelanggan.

Seperti saya misalnya, yang menjalankan toko online dan membutuhkan jasa pengiriman barang secara reguler, karena paket yang saya kirim cukup banyak dengan ukuran yang besar. Kan enggak mungkin, saya angkat-angkat dos itu ke kantor pos, dan kemudian mengantri di loket… Saya biasanya cukup BBM, maka petugas ekspedisi datang untuk pickup paket-paket saya. Mereka juga membantu untuk repackaging apabila kurang kuat, for free…

Seperti salah satu motto toko online saya : berikanlah layanan lebih dari yang diharapkan pelanggan. Seharusnya kekuatan kantor pos yaitu jaringan yang luas, bisa sangat di kembangkan menjadi layanan yang lebih baik. Misalnya ya tadi itu : jasa layanan pickup barang / surat.. Lalu jasa repackaging.. Jasa pengiriman parcel dalam kota…

Dan satu usulan lagi ya para petinggi PT Pos Indonesia.. tarif pos untuk paket lebih mahal lho dibandingkan jasa ekspedisi sejenis. Website sih sudah oke banget, tapi yang ditampilkan hanya tarif express saja, jadi kalo compare, misalnya lewat layanan OngkosKirim.com, selalu terlihat bahwa layanan pos paling mahal..

Salah satu contoh, saya ingin mengirimkan 1 paket, ke Jakarta dengan berat 1kg, trus ngecek ke website Pos Indonesia. …masa pake infonya  Kilat Khusus (4 hari) tarifnya 31.000/kg… *gubrak* Padahal ekspedisi langganan saya tarifnya cuman 6.000/kg jauhhh banget kan..

Balik lagi soal pengiriman paket saya tadi siang, ke Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau Kutai Timur, ternyata dikenakan HANYA Rp.28.500, untuk 1 kg paket. Kalo ini muraaah banget… mengingat begitu jauhnya jarak dan susahnya medan… See? Pak Pos, kehadiran Anda masih sangat diharapkan…

Anyway bagi saya, Pos berjasa lho, salah satunya saya pernah mendapatkan Wesel pertama saya, yang isinya honor menulis cerpen di salah satu majalah, meski waktu itu hanya Rp.50.000, itu nilainya besar banget…

Kantor pos juga punya kenangan bagi saya, karena saya belajar pake Internet pertama kali justru dari warnet yang ada di kantor pos.. kalo ga salah namanya Wasantara.Net.

Ah kok saya jadi bernostalgia? Harapan saya, semoga lebih baik lagi ya, dan kembali rame seperti dulu….

Go Pos Indonesia!!!

Salam,

 

*** Sedikit info tentang sejarah Pos Indonesia

Perubahan Status Pos Indonesia
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Pos Indonesia Masa Kini
Dengan berjalannya waktu, Pos Indonesia kini telah mampu menunjukkan kreatifitasnya dalam pengembangan bidang perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Seiring dengan perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, jejaring Pos Indonesia sudah memiliki 3.700 Kantorpos online, serta dilengkapi elektronic mobile pos di beberapa kota besar. (dari berbagai sumber)

 

 

5 thoughts on “Kantor Pos, Dulu Dan Sekarang, Nostalgia Dan Harapan

  1. Pengalaman unik yang saya ingat di kantor pos zaman dulu adalah saat rame-rame orang mengantri lem untuk menempelkan prangko. Kalau menjelang lebaran penuhnya bisa kayak pasar.

  2. novellia berkata:

    saya jadi inget waktu lulus kuliah tiap minggu kekantor pos buat kirim lamaran hehehe… tempatnya masih simpel banget n lem yang tersedia disitu kering smua …. beda banget dengan tampilan sekarang… oh iya sista bs minta info franchise pancake bakar nya tengkyu

  3. Ya gitu lah kantor pos Indonesia, pelayanan kelas teri harga pertamax, kapan BUMN bisa maju klo gini terus, harus ada solusi wong Garuda Indonesia aja bisa maju. (manajemennya kalee)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s