Kantor Pos, Dulu Dan Sekarang, Nostalgia Dan Harapan

Siang ini saya mengunjungi Kantor Pos Besar Malang untuk mengirimkan paket orderan pelanggan, yang kebetulan alamatnya tidak terjangkau oleh jasa ekspedisi seperti T***, J**,P** atau yang lain. Adanya di daerah tersebut memang hanya kantor pos.

Saya pernah ke daerah tersebut, membutuhkan waktu minimal 15 jam perjalanan untuk sampai di lokasi, itu pun dengan kondisi jalan tanah, berlubang, dan melewati tengah hutan…

Sudah berapa tahun yah saya ga ke kantor pos? Mmmm… ada kali 5 tahunan.. Dulu saya pernah bekerja di suatu perusahaan, dan saya sering ngirim surat, faktur tagihan, maupun ngambil paket dari luar negeri biasanya ke kantor pos.

Waktu itu, yang saya ingat, untuk memperoleh layanan “cepat dan tepat” di kantor pos, adalah bagaimana kita bisa sejauh mungkin menembus antrian, dan meletakkan surat kita di tumpukan terbawah… di sebelah kanan petugas.  Jadi ketika pak petugas loket selesai dengan tumpukan di sebelah kirinya, dia akan meraih tumpukan surat di sebelah kanan, lalu membalik tumpukan itu, sehingga surat di tumpukan terbawah akan menjadi yang pertama dikerjakan.  Setelah mengerjakan semuanya dalam satu tumpukan, baru petugas akan memanggil nama satu-satu untuk membayar. Nah… itu akibatnya di depan loket selalu berdesakan… soalnya takut ga dengar kalo dipanggil…

Cerita lain tentang kantor pos, adalah jasanya dalam menyediakan layanan pembayaran pajak. Dulu, di kantor saya, saya bertugas membayar pajak ke bank, lalu lapor ke kantor pajak. DI hari terakhir pembayaran, biasanya di bank antri begitu panjang, ditambah dengan tutup layanan untuk pembayaran pajak jam 11 kalo ga salah. Maka saya pun segera menuju kantor pos, karena mereka melayani pembayaran sampai jam 14.00 untuk pajak… jadi ga kena denda..

Pos juga sangat berperan dengan sistem pengiriman paket, terutama dari luar negeri. Saya sering dimintain tolong mengambilkan paket kiriman dari luar negeri. Biasanya pihak pos mengirimkan nota pemberitahuan; bahwa ada paket yang dateng dan kudu diambil. Biasanya untuk mengambil harus membayar sejumlah uang untuk – pengepakan ulang – . Kelihatan banget bahwa isi paket sudah diperiksa, dengan sobekan bungkus yang kadang ga lazim…

Hal serupa juga terjadi di layanan Surat Tercatat. Pengertian saya kalo “surat tercatat” biasanya kan surat penting – karena biaya pengirimannya juga lebih mahal. Tapi kenapa pihak pos kudu kirim nota pemberitahuan dulu, baru kita bisa ambil surat tersebut di kantor pos? Kan kerja ga efisien… iya toh… kenapa ga langsung dikirim aja… daripada kirim nota pemberitahuan (1x kerja), lalu kita harus ambil sendiri (2x kerja), pak pos nya kudu nyari surat/paket  tersebut di tumpukan kiriman yang menggunung (3x kerja)…

Kantor Pos yang sepi…

Yaaaahhh… itu pengalaman saya duluuu... sekitar 5 tahun lalu…  Tadi siang ketika saya mengunjungi kantor pos, suasana cukup lengang. Antrian hanya terjadi di 3 loket dari 18 loket yang ada.. Mungkin karena saya kesananya jam 1.30 siang, jadi petugasnya masih istirahat…  di loket ada tulisan TUTUP,meski petugasnya ada..

Yang menarik perhatian saya, dibanding dulu, ini memang sangat sangat tertata. Di pintu masuk ada mesin antrian, namun tidak difungsikan (mungkin karena pengunjung tidak banyak..) Ada 11 loket terpadu, yang bisa melayani banyak kebutuhan sekaligus mulai dari layanan khas kantor pos, seperti beli perangko, beli meterai, pengiriman dokumen, pengiriman paket, sampai layanan pembayaran seperti : telepon, listrik, air, cicilan dan lain-lain. Saya lihat banyak juga yang memanfaatkan layanan pengiriman uang, Western Union. Jadi one stop shopping lah..

Dan satu lagi.. saya baru sadar kenapa kok kantor pos terasa sepi… Selain kantor pos ini terasa modern, bersih, dingin, rapi ada yang berbeda dibanding  dulu.. yaitu tidak adanya pedagang-pedagang di dalam kantor pos maupun di luar.

Dulu di dalam kantor pos, disediakan space yang disewakan untuk pedagang, jadi ada penjual kartu ucapan, ada penjual handphone, penjual baju, kue-kue, sampai aksesoris dan perhiasan. Kalau yang diluar biasanya ramai dengan PKL yang menjajakan VCD (lengkap dengan TV dan Loudspeaker), penjual koran dan majalah.

Kalau Kantor Pos pusat saja sepi begini, apa kabar bis surat yang biasanya ada di pinggir jalan ya? Dulu saya sering kirim kartu pos untuk ngirim TTS via bis surat ini…

Tekhnologi memang cepat berkembang, dibanding menulis surat, membeli perangko dan amplop, lalu mengantarnya ke kantor pos, saat ini tinggal mengetik email, langsung terkirim dan langsung sampai saat itu juga.  Kartu ucapan lebaran dan natal pun tergeser oleh SMS, yang sekali “Send” bisa kekirim ke semua daftar kontak. Bayar tagihan pun sekarang bisa dilakukan dari rumah via SMS Banking dan Internet Banking.

Nah soal kirim paket, sebenarnya kantor pos punya potensi terbesar, karena jaringannya terluas di Indonesia,  kirim sampai pelosok pun bisa. Namun sayang layanannya kalah dengan layanan ekspedisi seperti J** yang juga menyediakan layanan pickup barang buat pelanggan.

Seperti saya misalnya, yang menjalankan toko online dan membutuhkan jasa pengiriman barang secara reguler, karena paket yang saya kirim cukup banyak dengan ukuran yang besar. Kan enggak mungkin, saya angkat-angkat dos itu ke kantor pos, dan kemudian mengantri di loket… Saya biasanya cukup BBM, maka petugas ekspedisi datang untuk pickup paket-paket saya. Mereka juga membantu untuk repackaging apabila kurang kuat, for free…

Seperti salah satu motto toko online saya : berikanlah layanan lebih dari yang diharapkan pelanggan. Seharusnya kekuatan kantor pos yaitu jaringan yang luas, bisa sangat di kembangkan menjadi layanan yang lebih baik. Misalnya ya tadi itu : jasa layanan pickup barang / surat.. Lalu jasa repackaging.. Jasa pengiriman parcel dalam kota…

Dan satu usulan lagi ya para petinggi PT Pos Indonesia.. tarif pos untuk paket lebih mahal lho dibandingkan jasa ekspedisi sejenis. Website sih sudah oke banget, tapi yang ditampilkan hanya tarif express saja, jadi kalo compare, misalnya lewat layanan OngkosKirim.com, selalu terlihat bahwa layanan pos paling mahal..

Salah satu contoh, saya ingin mengirimkan 1 paket, ke Jakarta dengan berat 1kg, trus ngecek ke website Pos Indonesia. …masa pake infonya  Kilat Khusus (4 hari) tarifnya 31.000/kg… *gubrak* Padahal ekspedisi langganan saya tarifnya cuman 6.000/kg jauhhh banget kan..

Balik lagi soal pengiriman paket saya tadi siang, ke Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau Kutai Timur, ternyata dikenakan HANYA Rp.28.500, untuk 1 kg paket. Kalo ini muraaah banget… mengingat begitu jauhnya jarak dan susahnya medan… See? Pak Pos, kehadiran Anda masih sangat diharapkan…

Anyway bagi saya, Pos berjasa lho, salah satunya saya pernah mendapatkan Wesel pertama saya, yang isinya honor menulis cerpen di salah satu majalah, meski waktu itu hanya Rp.50.000, itu nilainya besar banget…

Kantor pos juga punya kenangan bagi saya, karena saya belajar pake Internet pertama kali justru dari warnet yang ada di kantor pos.. kalo ga salah namanya Wasantara.Net.

Ah kok saya jadi bernostalgia? Harapan saya, semoga lebih baik lagi ya, dan kembali rame seperti dulu….

Go Pos Indonesia!!!

Salam,

 

*** Sedikit info tentang sejarah Pos Indonesia

Perubahan Status Pos Indonesia
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Pos Indonesia Masa Kini
Dengan berjalannya waktu, Pos Indonesia kini telah mampu menunjukkan kreatifitasnya dalam pengembangan bidang perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Seiring dengan perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, jejaring Pos Indonesia sudah memiliki 3.700 Kantorpos online, serta dilengkapi elektronic mobile pos di beberapa kota besar. (dari berbagai sumber)

 

 

Iklan

Muara Wahau Journey : Wisata (dan) Religi

Perjalanan saya ke Muara Wahau kebetulan bertepatan dengan bulan Maria – bulan Oktober 2011 lalu. Bulan yang bagi umat Katolik di dedikasikan untuk Bunda Maria dengan berdoa rosario setiap hari, dari rumah ke rumah selama 30 hari penuh.

Seminggu sebelum bulan oktober itu, beberapa orang mengajak saya untuk ikut serta ke Goa Maria Kung Beang pada hari pertama bulan rosario itu. Awalnya saya kurang tertarik, karena menganggap ziarah ke Goa Maria adalah hal yang biasa. Biasanya kita datang, memasang lilin, dan berdoa… kadang disertai dengan jalan salib di lokasi goa.

Namun penduduk desa Nehas Liah Bing yang mengajak saya silih berganti.. dan mereka mewanti-wanti agar saya tidak punya acara lain pada hari itu.  Nah, saya kan jadi penasaran.. apalagi hampir semua orang di desa membicarakan hal itu, tentang jam keberangkatan, cara mereka menuju tempat goa berada, sampai acara-acaranya… Mereka begitu antusias akan hari keberangkatan ke goa sehingga menjadi begitu semangatnya… Seolah acara berangkat ke goa merupakan event yang sangat istimewa bagi semua orang..  tapi apa?

Altar Misa yang sangaaat sederhana dari kayu yang ditumpuk

Maka, didorong rasa ingin tahu, pagi itupun saya menuju tempat berkumpul yang sudah di tetapkan, di rumah salah satu warga. Jam keberangkatan adalah pukul 07.00 pagi… tapi mulai pukul 6, sudah puluhan orang berdiri di pinggir jalan menunggu bus-bus berwarna kuning yang merupakan dukungan dari perusahaan, untuk membawa mereka berangkat… Semua berpakaian rapi, baju bagus untuk bepergian (sehari-hari mereka berpakaian sangat sederhana…) dan membawa bekal, seperti tikar dan rantang… Saya jadi merasa saltum… hehe

Bus datang, dan langsung diserbu oleh para penduduk desa… saking banyaknya… bus ada 6 dan masih kurang sehingga sebagian memilih naik motor. Saya pun bertanya ke sebelah saya : “Perjalanan berapa lama?”  Jawabnya… “yaaahh… sekitar 2-3 jam..” waduuuh, 2-3 jam dalam bus non ac yang panas? ampun dah… ditambah dalam bus banyak yang kemudian mabuk dan muntah… hiyahahaha… bayangkan…

Hm… karena beberapa hari hujan, jalan yang dilewati bus ternyata lebih menantang… berlobang, dan licin… beberapa kali bus terasa tergelincir… hih ngeri…. Perjalanan ternyata melewati kebun-kebun sawit milik beberapa perusahaan yang artinya jalanan berlumpur dan licin karena hujan… (jangan bayangkan jalanan beraspal mulus disini…)

Supaya para pesiarah ga kesasar, ada rambu-rambu sederhana yang dipasang di pinggir jalan… Yaah… kalo ga ada rambu kesasar kali ya… kiri kanan depan belakang = pohon sawit semuaaaa = tampak sama… Beberapa kali saya melihat banyak motor yang terpaksa didorong krn ga bisa melewati jalanan yang licin… banyak juga yang terjatuh dan penuh berlepotan lumpur… tapi mereka teteeep jalan terus…

Jalan Tanah yang licin diantara kebun sawit… bikin pengendara motor berjatuhan..

Akhirnya setelah hampir 3 jam.. (misa dimulai jam 10 pagi) bus sampai juga… disana sangat ramai dan penuh sehingga bus memutuskan untuk parkir agak jauh… artinya kami harus turun dan berjalan kaki di tengah lumpur ke lokasi misa… Untung saya pakai sepatu kets, sehingga kaki tidak kotor.. meskipun berjalan juga susah, karena lumpur menempel sekitar 3cm di sepatu…. Saya juga menyesal tadi ga sarapan… jadi lapaaar

Berjalan sekitar 15 menit di tengah lumpur, akhirnya kami sampai.. daaaan… wooww.. saya terperangah dengan keindahan tempat ini. Yang membuat saya terharu adalah… semua begitu sederhana… begitu apa adanya…

Lihatlah bangku-bangku misa yang berasal dari kayu papan (setelah misa, kayunya dikumpulin lagi)… Lihatlah kayu sederhana penyangga microphone untuk petugas koor.. Lihatlah sound system sederhana bagi Romo…  dan altar dari kayu yang berada di muka  gua…

Koor dengan mic diikat di kayu pohon…

Bangku Misa Kayu dari Kayu Papan

lah saya jadi pengen nangis… Ini toh yang membuat para penduduk di desa-desa dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai beramai-ramai kesini… Ini toh yang membuat mereka begitu bersemangat untuk datang dari jauh ditengah lumpur… Tuhan yang hadir di tengah kesederhanaan…

Tapi saya ga jadi nangis, dan lupa dengan sepatu saya yang berat dan berlumpur, begitu terdengar suara musik khas dayak… *tung tung tung…. tung… tung..* dan ada gadis-gadis cantik menari mengawali prosesi Romo memasuki area misa.. Semua perhatian terpusat di tengah area, dan seperti daya magis melingkupi… semua terpesona…Kesan pertama saya : Indah…Magis…

Prosesi

Umat Paroki Santa Maria Ratu Damai yang lokasinya berjauhan dan medan yang sangat sulit memang membuat umat tidak mudah memperoleh layanan rohani seperti misa. Misa hari Minggu biasanya diadakan bergantian di tiap desa. jadi bisa dibilang, umat di satu desa hanya bisa mengikuti misa sekali dalam 1-2 bulan…  Pantas saja event istimewa seperti ini sangat mereka nantikan… Bahkan percaya atau tidak, ada rombongan yang menginap sejak malam sebelumnya. Menginap di dalam mobil lho, di tengah hutan, tanpa listrik… untuk bisa ikut misa disana… luar biasa…

Selesai misa, ibu-ibu mengajak saya masuk ke dalam gua yang gelap, licin, dan harus naik tangga yang tinggi.. hiiiii… mana saya takut ketinggian bangeeet…. but maybe it’s  once of a life time,jadi yaah, diberanikan! Sempet narsis juga naik ke atas batu2 dan foto2 bareng anak-anak mahasiswa yang lagi KKN disana…

Di Dalem Gua, ini tinggi banget dan licin lho… saya sebenernya takuuut

Narsis bareng temen mahasiswa yang KKN

Setelah manjat-manjat gua… jadinya lapar… dan ternyata semua rombongan membawa makanan.. semacem piknik bagi mereka… ada yang bawa ubi… nasi dengan sayur… ikan asin… semangka… pisang… bawa termos air panas dan kopi…  Dan saya melihat inilah hal yang dirindukan oleh mereka, wisata yang sederhana tapi bermakna…  Sederhana tapi indah… *jadi pengen nangis lagi deh*

**Goa Maria Kung Beang, atau juga dikenal sebagai Gua Maria Pengantara Segala Rahmat yang dipahat oleh alam

Muara Wahau Journey : Very First Day

Dear friends, karena banyak yang kontak saya, dan pengen cerita saya tentang muara wahau dilanjutkan… Meski udah agak lama… ya udah deh… saya publish tulisan-tulisan yang belom sempet diupload kapan ituh.. tapi judulnya ganti ya… bukan Blom Bea Ling Journey lagi, tapi Muara Wahau Journey ya…

Bagi yang belum baca tulisan saya sebelumnya tentang wahau, check this out ya…

Blom Bea Ling Journey : Episode Durian Di Tepi Mahakam

Blom Bea Ling Journey : The Long Road

Blom Bea Ling Journey : Antara Bahasa Jawa Dan Dayak

Jadi…. mari kita lanjutkan ceritanya…

Very First Day :

Desa tempat saya tinggal, namanya Desa Nehas Liah Bing. Karena nyebutnya agak susah, saya sering menyingkatnya menjadi Slabing saja…. hehe kedengarannya kan mirip..

Desa Nehas Liah Bing berada di Kecamatan Muara Wehea, Kabupatennya ikut Kutai Timur. Menurut teman-teman disana,  Liah Bing termasuk desa termodern diantara 3 desa yang nantinya akan menjadi wilayah jelajah kami.

Pagi pertama saya disana, saya terbangun oleh suara “grok-grok” yang berasal dari bawah lantai kayu rumah panggung yang saya tinggali. Hehe… spontan saya melompat bangun, dan mencari tahu… Eeehh… ternyata ada Babi Hutan gedeeeee, lagi makan nangka, tepat disana.. Setengah geli, setengah pengen tahu… saya pun meraih kamera… Ehh, nggak lama, datanglah baby-baby si Babi Hutan.. lari-lari kecil… *ucluk-ucluk* ikut makan…

Babi Hutan Si Pemakan

Setelah tanya ke penduduk sekitar, ternyata disana memang hewan peliharaan seperti Babi Hutan dan ayam berkeliaran bebas, tapi di desa ini mereka kalo agak siang dimasukkan ke kandang jadi ga bikin kotor.. Beda dengan desa Diak Lay dan Ben Heas (saya ceritakan nanti ya..) dimana hewan-hewan ini memang dibiarkan bebas berkeliaran di sekitar kita…. Bahkan suatu hari saya hampir terjungkal dari motor gara-gara ngerem mendadak sebelum nubruk si Babi Hutan hehe

Eh balik tentang cerita Desa Slabing tadi… Si keluarga babi hutan dan ayam-ayam ternyata menjadi hiburan saya di hari-hari menjelajah Muara Wahau… Ceritanya saya sempet bingung cari tempat sampah ketika memasak…misalnya ngebuang potongan sawi atau wortel.. karena plastik u sampah yang ada rata-rata berisi sampah kering… Ternyataaa… ya ampun solusinya mudah.. ngelempar sayuran itu keluar jendela, dan tak lama amblas disantap si babi hutan…

Jadi kalo pagi saya masak sarapan, saya selalu menyisihkan sebagian sayur untuk mereka… Abis dilempar, trus nunggu mereka dateng… lucu… Jujur yaa… saya sempet khawatir, kebiasaan jelek ngelempar keluar jendela akan terbawa sampe saya pulang hehe… untuuung enggak… saya akan penjaga kebersihan – membuang sampah pada tempatnya- :p

Keterbatasan bukan penghalang

Di Slabing, waktu berjalan terlalu cepat menurut saya…  Pukul 7.30 WITA, saya mulai berangkat dengan berjalan kaki ke CU Mitra Mandiri melewati kampung dan sebuah sekolah SD.. saya cukup heran, kok jam segini belum masuk sekolah ya… Jawab mereka : gurunya belum datang tanteee.. waduuuhh…

Mungkin karena penampilan saya yang aneh kali ya… pake kacamata item, pake topi, sepatu kets, bawa kamera, mereka semua mengikuti saya sambil minta difoto..  Begitu hasil fotonya ditunjukkan… haduh senengnya mereka..

Anak-Anak SDN Muara Wahau

Pukul 08.00 seharusnya jadwal kami dimulai,  biasanya kami mereview dan membuat rencana lanjutan.. tapi karena kebaikan hati mereka, biasanya dibelikan sarapan dulu, dan ngopi… karena tempat sarapannya jauh, nih cerita sarapan bisa sampe jam 09.30…  Jam 12.00 WITA malah udah break buat makan siang… huwaaaa kapan kerjanyaaa…

Yang paling menghambat pekerjaan kami adalah terbatasnya asupan listrik di siang hari… dan ketiadaan sinyal telepon maupun internet… Kalo siang kita maksimalkan pake genset... sungkan juga kalo mereka kudu nyalain genset hanya supaya kita bisa nyalain laptop… bukan apa-apa… disana bensin harganya 11rb /liter 😀 dan belinya: jauuuuhhh

Jadi yang lucu, kalo jam 17.00 WITA listrik nyala… semua colokan penuh dengan charger handphone dan charger baterai laptop hihihihi… tapi jangan salah… kapasitas listriknya juga terbatas… kalo ada yang lupa, trus nyolokin TV atau kulkas…. langsung *jeglek* matiiii…. langsung deh, kena omelan tetangga.. hiks

Jadiiiiii untuk survive.. hehe cara yang saya lakukan adalah menyesuaikan diri, yaitu merubah mindset dan kebiasaan saya yang internet dan social media minded, menjadi :menikmati alam sekitar.. hehe bener loh…  Jadinya saya ga bingung lagi soal kenapa status saya ga bisa diupdate, dan kenapa ga bisa ngetweet lagi… Trus ga bisa nulis blog juga… dan ga bisa cari info ke mbah Google… Blackberry saya selama disana berfungsi sama dengan MP3 Player dan Video Player… 😀

Kesibukan Baru

Yang paling menggemaskan di sini adalah soal makanan,minuman, snack dan toko-toko sekitar. Kenapa?… Yaaah…. pertama saya belanja di sebuah warung cuman : Aqua 1,5liter 2 botol + mi instan 10 biji, saya harus bayar 50.000 *gubrak*

Beli makanan pun gitu… selain jauh dari kantor dan tempat tinggal (kalo naik motor antara 20 – 30 menit) harganya bikin melongo… paling murah 25rb, untuk sepiring nasi pecel + teh manis. Kalo kita maemnya pake lauk kayak ayam + daging sapi… yaaah bisa berkisar 35rb – 40rb satu orangnya… Untungnya rasanya enak dan pas di lidah, karena yang punya warung rata-rata orang Jawa Timur… wah cocok dah… Kerennya lagi makan dimanapun, selalu ditambahin nasi 1 bakul per orang oleh si empunya warung… haduuuhhh bu… saya kan jadi cepet gemuuk…

Nasi Ayam Lalapan seharga 35rb saja… 😀

Nasi Pecel Favorit Saya 15rb (tanpa ayam goreng) Rp. 25rb (dengan ayam goreng) + es teh

Nah.. dengan tujuan menghemat saya pun ke pasar… disini pusat perekonomian disebut dengan SP (Satuan Pemukiman). Disini ada SP 1, SP2, SP3 dan SP 4. Jadi kalo misalnya kita mo beli udang dan ikan, ke SP3… kalo mo beli kertas dan perlengkapan kantor, ke SP 4. Kalo beli bakso aja bisa ke Sp1… harganya 15rb semangkok.. hiiiii

Masakan Saya lho

Ternyata ga benar-benar menghemat… ternyata luar biasa mahalnya kalo dibanding di Jawa sih… tempe 3rb sepotong kecil, tahu 5rb, sayur seikat kecil 5rb, pisang 25rb, mangga 50rb.. hehehe… pantesan harga mahal kalo makan di warung… Jadi belanja ke pasar pun jadinya malah boros… saya pernah belanja buah dan bumbu2 untuk bikin rujak manis… untuk 5 orang lah… (panas2 makan rujak kan enak) habisnya 100rb lebih hihihi

Tapi saya menikmati, di sore hari naik motor ke SP untuk berbelanja, meski jalannyakudu bersaing ama debu,ama truk… Karena pulang dari pasar saya punya kesibukan sendiri yaitu memasak… lha kalo ga gitu ga ngapa-ngapain…. TV aja bisanya cuman 1 channel… *melas*

(continued….)