Rumah Kami : Before And After

Ini foto rumah kami sebelum di renovasi. Eh belum dibeli ding… setelah bertahun-tahun mempunyai mimpi ingin beli rumah sendiri… ahirnya terwujud, meski harus kredit… dan masih nyicil 10 tahun lagi hwhwhw… semangaaaattt…

Rumah ini lokasinya di sebuah perumahan di pinggiran kota Malang, tempatnya masih sejuk dan dingin. Udaranya juga segar… Dan yang penting enggak terlalu mahal… hehe

Bener, setelah hunting kesana-kesini… mencoba mencocokkan kebutuhan-keinginan dan kemampuan (yang mentok2nya soal harga rumah) kami memilih yang ini…

Pertimbangannya :

  1. Bisa langsung ditempati, nggak usah terlalu banyak renovasi, udah nyaman kok
  2. Lokasi aman dan terjangkau… ga gitu jauh… lagian dekat ama bandara…kurang lebih 15 menit…
  3. Udah ada pagar + temboknya… karena rumah standard tak berpagar sama sekali
  4. Harganya terjangkau.. J

Akhirnya kami pun menandatangani akta jual beli dan balik nama dinotaris, sekalian meng SHM kan… dan juga menandatangani perjanjian kredit hehe ….dan biaya juga lumayan… kurang lebih kalo dihitung sekitar 5% dari harga rumah untuk biaya pengurusan…. 2% untuk administrasi kreditnya…

Setelah serah terima kunci, dan saatnya renovasi… ternyata… tidak “Seindah” yang dibayangkan. Setelah di cek dengan seteliti mungkin ama tukang yang mo renov, ternyata banyak kayu atap yang lapuk… dan gawatnya lagi… bocor… apalagi saat itu musim hujan…

Jadi yang semula maunya cuma mengganti warna cat… biaya terbesar adalah, memperbaiki yang bocor, menambah saluran angin, karena sebelumnya sirkulasi kurang bagus, dan bagian belakang gelap…

Dan yang kurang kami perhitungkan adalah : cat bagian dalam yang berwarna hijau… ternyata sangat sulit diganti warna dengan warna lain… alhasil jumlah waktu kerja + jumlah cat membengkak = biaya membengkak jugaaaa…

Setelah sebulan.. akhirnya selesai… ini hasilnya…

Tanaman yang banyak itu sebagian besar adalah hasil “merampok” punya teman yang kebetulan tinggal bersebelahan…. alasannya biar enggak gersang… hehe

Dan ini merupakan hobi saya yang baru, mengurus tanaman di halaman yang kecil…. senangnya merasakan bau tanah, bau air, dan tanaman hijau…. apalagi kalau sudah keluar bunganya… wuiiihhh seneeeeng banget…

 

Iklan

Catatan Perjalanan Malang-Surabaya pp Dan Cerita Tentang Internet Marketing Training

Seminggu yang lalu, 18 Juni 2011, saya pergi ke Surabaya bareng temen saya namanya Yustianingrum, untuk mengikuti Internet Marketing Training nya Mbak Dini Shanti dan Training Binar-Binarnya Mbak Nadia Meutia.

Ini adalah acara offline pertama saya di dBC Network dan tentu saja Oriflame. Dan seperti biasa, saya kurang suka dengan acara rame-rame kayak gituh… enggak nyaman hehe.. Tapi karena pengen banget dapet ilmu dari Mbak Dini Shanti (terutama) berangkatlah saya.

Karena udah lama enggak ke Surabaya, maka saya nurut aja ama Yustia, yang emang pernah tinggal di Surabaya sono selama 4 tahun, jadi tahu jalur bus kota. Dan disanalah saya, naik bus antar kota, disambung bus kota, dan kemudian berjalan kaki… hehehehe…

Nah Yustianingrum ini ternyata sudah ada di friendlist FB saya, dan dia sudah follow twitter saya, bahkan ada dalam satu milis dan group bernama TDA Ngalam,tapi lucunya baru ketemu langsung di dBC Network dengan nama Rumah Amira (nggak nyambung ya…)

Cerita punya cerita, dia sudah ikut dBC Network setahun an ini, dan masih stuck di level 3%. Dan dia terheran-heran saya sudah di level 15% dalam waktu sesingkat ini. Nah saya heran, diapun ikut heran. Loh kenapa? Ternyata dia punya 6 don*line, enam-enamnya teman yg didapat secara offline, dan enam-enamnya pasif. Sekarang dia hanya mengandalkan penjualan pribadi. Nggak heran dia stuck di 3%terus.Lah saya punya 60 don*line, 80% nya online, yang jalan aktif sekitar 60% aja… yang 40% pasif, termasuk didalamnya 20% dari offline.

Jadilah kita membahas, apakah lebih baik punya don*line offline atau online? Atau dua duanya? Nah pembahasan ini panjang… sepanjang perjalanan Malang-Surabaya dan gak selesai… hehe..

Anyway kita naik bis patas AC jurusan Malang-Sby, disambung Bus Damri BerAC, abis ongkos 15.000+ 4000= 19.000. Kondekturnya berdasi, rapi, dan wangi…wah pelayanan baru nih… Panasnya Surabaya jadi tak terasa 😀

Dan setelah 3,5 jam perjalanan sampailah kita di Univ Katolik Widya Mandala Surabaya, yang udah ada ratusan orang berkaos kuning dBCN. Yang (sayangnya) sama sekali enggak ramah satu sama lain, dan enggak saling nyapa (malu kali ya…)

Sesi pertama 12.00 – 14.30 diisi mbak Dini Shanti tentang Internet Marketing, yang setelah di dengarkan materinya 100% sama dengan yang ada di member area (IM Modul) dan Training 99, hanya kali ini kita dengar dari Mba Dini in person. Sedangkan waktu ada tanya jawab, 90% nya pertanyaan sangat2 dasar, yang bisa dibilang enggak nyambung ama inti Training, sampai2 beberapa kali disela ama Mba Nadia Meutia. Setelah diamati,maklum, mostly newbie… (wew… emangnya saya bukan newbie? *jitak*)

Karena udah kupraktekkan hal-hal disampaikan oleh Mba Dini, dan tidak menemukan sesuatu yang baru, aku lebih memilih untuk orang-orang disekitarku… Mereka2 yang bawa laptop,modem… dan yang ditanyakan adalah… “Bagaimana cara mencari informasi di mbah Google? Apa yang harus di klik?” ampun dah….

Kayaknya lebih cocok ikutan yang Internet Marketing lanjutan yang bahas SEO deh…. (sayangnya ga tau kapan ada di Surabaya)

Jam 14.30-15.00 kita makan pangsit di sebelah UWM, wew.. yang luar biasa enak… dan ketemu satu dua member… yang enggak nyapa juga… akhirnya kitalah yang cuap-cuap duluan… akhirnya muncul obrolan… (hadeeew…. gimana mau maju di network marketing kalo ketemu sesama member aja diyeeeeem ajah… – cape deh-)

Jam 15.00 – 17.30 sesinya Mba Nadia, Training Binar-Binar yang fokus pada : bagaimana kita harus begitu excited jalankan bisnis ini, sehingga setiap ketemu orang, wajah kita tuh sampe berbinar2 pas ngejelasin… wew exciting nih…

Once again, sesi tanya jawab menyita waktu paling lama… nah mostly malah curhatan… karena kesel ama upline atau leader yang cuek.. dan ada satu member dengan pertanyaan yang lucu… “Mba Nad… bagaimana caranya ngadain beauty class, padahal kitanya ga bisa/suka dandan? Saya kan tomboy?” Hadew… mau bikin beauty class, tapi enggak mau blajar dandan kie piyeeee…

Anyway, karena Yustia khawatir ama babynya, kita mutusin pulang jam 17.30… Kudu jalan dulu ke halte.. dan Surabaya ternyata indah kalo di sore hari ya….

Perjalanan dimulai lagi dengan nyari bis kota… nunggu punya tunggu muncullah tuh bus tak ber ac, yang penuh banget, namun kondekturnya teriak “kosong…. kosong…” Sambil berdiri berhimpitan, saya jadi memperhatikan orang sekitar saya… rata-rata kelihatan baru pulang kerja.. Pada capek, lesu dan keringetan. Ada cowok rapi, tetep necis, sambil tetap asyik dengan blackberrynya…. ada ibu-ibu yang asik menelepon dengan suara keras pake hape made-in-chine nya.. ada yang ngumpetin rokok di tangan, padahal jelas-jelas ada tulisan “dilarang merokok untuk kenyamanan bersama”

Ada juga 2 anak remaja yang mengamen dengan lagu karangan sendiri… “kami anak jalanan, berjuang mencari makan… seandainya kami punya ibu, jam segini kami sudah duduk belajar, mengejar ilmu…” suaranya bagus… lagunya oke… Tapi begitu kerasnya kehidupan baginya… mencari recehan dengan naik turun bus…

Yang menarik dan perhatian banget sih si Pak Kondektur Bus… lah dia setiap 100meter meneriakkan tujuan dan mengingatkan orang2 yang mau turun… wih perhatian banget…. apa gak habis suara bapak tuh… belum ngingetin si Pak Sopir : kaleeemm… kaleeem.. kate mudhuun… (pelan-pelan… ada yang mo turun) puluhan kali sudah…

Pas ditarik ongkos cuman 3.000, hm… just wondering nih bapak kondektur/sopir bus sehari dapat berapa yah… begitu susah payah mandi keringat, dengan bus yang maaf -mirip kaleng-. Bandingkan dengan yang tadi siang : bus bagus ber ac dengan kondektur berdasi…ongkos beda 1.000, siapa yang pendapatannya lebih banyak?

Sampai di terminal Bungurasih, ternyata “petualangan” belum berhenti… Kami masih harus berebutan mengejar bus Patas yang menuju Malang. Begitu bus datang, blom sampai di pemberhentian, udah banyak yang berlari2 mengejar, sambil memukul-mukul badan bus. Phew… begitu udah dibuka, saling dorong, saling tekan, cepet-cepetan… waaaaaa…. antri kan bisaaa…. Kecapekan kali ya seminggu kerja, pengen segera pulang ke rumah, dan tidur… maklum, pulang seminggu sekali, dan ini udah jam 19.30..

Yustia yang sudah biasa dengan keadaan ini sih merangsek naik bus yang sudah kepenuhan (dan terpaksa turun lagi karena ga ada kursi) saya yang agak melongo hhehehehe….

Setelah akhirnya dapat tempat duduk, dan kemudian ga bisa tidur sejenak (meski macet diporong) karena tetangga sebelah kursi ngobrol melulu… saya jadi merenung perjalanan hari ini…

  1. Susah payah orang cari duit, ada yang harus pp Malang-Surabaya tiap hari dengan alur angkot-bus antarkota-bus kota dan sebaliknya… dengan segala ribetnya
  2. Ada yang hemat ongkos dengan PP Malang –Sby seminggu sekali dengan milih kos di Sby… pulang2 ya itu rebutan bus
  3. Ada yang bertahan menjadi kondektur dan sopir bus seperti bapak tadi… memeras keringat di udara panas…
  4. Ada yang sampe jam 8 malem kudu nawarin bakpao dan tahu goreng di terminal…
  5. Ada yang ngamen demi recehan naik turun bis…. adakah alternatif lain mengubah hidup?

Sementara di Training tadi, sekitar 200-300an orang, berdandan rapi, menenteng laptop, punya kesempatan menjalankan usaha dari rumah, online, bermodal awal ga sampe 40 rb, menjalankan bisnis dengan setengah hati?

Ga perlu naik turun bus, teriak teriak dari pagi ampe sore, jualan keliling bawa keranjang, kena polusi, matahari, bau keringat… Masih saja keluhan-keluhan bermunculan… “aku ga bisa jualan nih…. aku malu nih omong ama orang…. aku ga bisa buat blog nih…. koneksi internetku lemot nih… uplineku cuek tuh… dll dll dll….”

Iya loh… kalo mau bisa dijalankan kaya gini nih, kayak saya, dari depan laptop aja bermodalkan modem dan laptop, serta kabelpowernya… (maklum laptop saya sudah berusia lebih dr setahun), bersyukurlaaaaah…. dibanding orang-orang diluar sana..

Wew… akhirnya saya sampai rumah jam 22.30, yang artinya 15 jam tadi saya di jalan…

Inti dari tulisan panjang ini (hehe….) bisnis kita loh online… banyak kemudahan…. jangan banyak alasan… ayo di seriusin…

 

Saya Kehilangan….

Dua hari ini saya kehilangan… jadi sedih…. pengen nangis, tapi ga bisa…

bukan barang, bukan uang…

Saya mendengar kabar kehilangan dua orang yang saya sukai : Cak Bud, tukang pangsit mie langganan saya, dan Si Mbah penjual es campur, langganan saya juga..

Lho… jangan ketawa… beneran ini…

Pangsit Mie Favorit

Saya sudah langganan dengan kedua orang tersebut sejak kurang lebih 10 tahun lalu.  Lokasi berjualan Cak Bud dan Si Mbah ini berhadapan… jadi begitu jam makan siang tiba… saya suka nongkrong di bangku kayu dibawah tiang listrik, di belakangan rombong Cak Bud, dan melambaikan tangan ke arah si mbah, untuk memesan es campur…

Kalau makannya satu orang, ya tunjukkan satu jari ke arah si Mbah di seberang jalan…. kalo pesen lima, ya tinggal kembangkan tangan….

jadi begitu pangsit mie matang… es campur pun datang… huwaaaahhh…. nikmat…

Pangsit Cak Bud ini semula di depan Bank Permata, jalan bromo…. tapi karena kegusur,kemudian pindah di depan kantor DIOMA…

Pelanggannya banyak, pegawai bank, peserta kursus komputer, karyawan dioma, pegawai asuransi, ibu-ibu yang pulang jemput anak dll…. dan disitu muncul suatu obrolan yang gayeng, ayem, menyenangkan…  satu pembeli dengan yang lain, yang tidak saling kenal, bisa ngobrol dengan enaknya…

Di samping itu pangsitnya emang enak…. dan rasanya tidak pernah berubah… ramah di kantong pula…

Saya benar-benar kehilangan… meski istri Cak Bud sekarang tetap meneruskan jualanya dengan rasa yang hampir sama (tidak sama)… tetap aja terasa berbeda…

Pangsit Mie Istimewa favorit saya (pake ampela ayam, ga pake atinya…), sekarang ditemani sebotol teh… tidak lagi semangkok es campur yang nikmat..

Iya. Cak Bud sudah kembali kepada Yang Kuasa karena terkena angin duduk…. sedangkan si Mbah, tak bisa lagi berjualan, karena terserang stroke…

Ya Allah, lindungilah orang-orang ini, meski sederhana… mereka membawa kegembiraan untuk banyak orang saat makan siang..

Ternyata saya pernah menulis tentang Pangsit Cak Bud di Makanan Favorit Versi Pipiw

Gadis Cilik Pembawa Bunga : Sebuah Ironi

Awal bulan Juni ini,  aku bersama teman-teman Komunitas Satu Hati, mengikuti acara gathering di Bali.

Seperti biasa, hari ketiga diisi dengan Rafting, dan kali ini lokasinya di Telagawaja, Karangasem, Bali.

Dibandingkan dengan Songa, Probolinggo, lokasi ini masih kalah jauuh…. baik keindahan alam, tantangan sungainya, pemandu nya… termasuk layanan yang lain….

Salah satu yang mengecewakan adalah, tidak adanya snack dan minuman hangat saat break. (inget waktu rafting di Kali Elo, Jateng, dikasih es degan, langsung dari buah kelapanya + jajan pasar dalam tampah)

Dan yang paling mengecewakan, saat makan siang, enggak disediakan minuman, jadi musti beli sendiri, mending kalo harga normal…mahaaaaallll… sepoci teh, dengan 2 kantong sariwangi = 20.000 ?

Yang menyebalkan… keramahan yang ditunjukkan berbeda antara kita (lokal euy) dengan para bule… apa karena mereka bayarnya dollar, kita rupiah ya… ckckckckc….

Anyway… ada yang menarik dari lokasi ini….

di sepanjang aliran sungai ada orang-orang membawa termos berjualan minuman dingin… menurut saya sih rada ga masuk akal… emang di tengah2 rafting, ada yang mo brenti beli minum gitu? Sebotol Aqua Rp. 20.000 ?

Lah dari pada nongkrong di pinggir sungai ga jelas, kenapa ga jualan aja di luar lokasi.. *aneh*

Ironi lain adalah banyaknya anak-anak kecil yang membawa bunga kamboja untuk diselipkan di rambut… eh… kirain eksotis… ternyata mereka minta uang…

Ada satu gadis kecil cantik yang memintanya secara sopan… eh jadi ga tega…  kukasih 10rb… eh kok aku di keroyok yang lain, bahkan ada yang minta secara kasar… “saya kok gak dibagi… saya kok gak dibagi…” yo wes dadi tak sentak…

sebenernya kasian banget…. di pulau yang kaya dengan pariwisata… dengan turis yang membawa dollar berlimpah… wisatawan yang tak kunjung henti…. banyak anak-anak meminta-minta… bahkan sampai di parkiran…

Sedih… Bingung…

Ada yang bilang ini sudah budaya… susah untuk diubah…

Akhirnya keeksotisan bunga yang terselip di rambut saya lenyap… tak lagi indah…entah kemana…