Rumah dan alasan memilikinya

Suatu siang di kota Malang, Jawa Timur, kami terjebak kemacetan yang sangat panjang karena ada proyek pembangunan rumah. Deretan umbul-umbul dan spanduk yang menginformasikan harga rumah dan fasilitas yang menyertainya memenuhi ruas jalan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini tempat tinggal merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok yang ingin dipenuhi oleh setiap keluarga. Pandangan masyarakat bahwa seseorang dikatakan sejahtera jika telah memenuhi kebutuhannya dalam pangan, sandang, dan papan, telah banyak terpatri di benak kita. Apakah pemilikan rumah sudah menjadi salah satu indikator kesejahteraan keluarga?

Bagi orang yang sudah berkeluarga, memiliki rumah adalah termasuk salah satu cita-cita dan dambaan terbesar dalam kehidupannya. Siapa sih yang tidak ingin memiliki rumah sendiri yang ideal, nyaman dan asri tempat menaungi seluruh anggota keluarga dari panas dan hujan? Punya ruang kamar yang memadai dengan jumlah yang cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga. Pekarangan yang indah disertai aneka bunga dan kebun kecil. Akan tetapi memang tidak mudah bisa mewujudkan sebuah rumah impian.

Beberapa alasan dan kondisi yang membuat seseorang mengambil keputusan untuk memiliki rumah. Diantaranya :

Budaya.
Dalam budaya Jawa seorang lelaki adalah pemimpin , keberhasilan seorang pemimpin didalam rumah tangganya dikatakan berhasil bila mempunyai 4 pegangan yaitu:
Pusaka, yang diartikan bahwa lelaki harus berpengetahuan teknologi atau pengetahuan , berketrampilan, berkemampuan kecil atau besar yang bisa diandalkan dibidangnya yang berguna menjadi sumber penghasilan dalam keluarganya.
Garwa, bahwa seorang lelaki harus beristri untuk mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Namun dalam arti dan maknanya seorang lelaki walau tanpa isteri harus menjunjung tinggi jasa dan pengorbanan seorang ibu yang melahirkannya didunia.
Turangga: lambangnya adalah kuda, artinya adalah dalam menjalani kehidupan, seorang pemimpin harus mempunyai daya analisis pemecahan masalah dan mengambil keputusan dengan benar.
Yang terakhir adalah Griya: lambangnya adalah rumah atau tempat tinggal, artinya seorang lelaki harus menjadi pelindung bagi anak dan istrinya, berpenghasilan yang aman walau tidak tetap, serta melindungi keluarga dari segala gangguan. Hal inilah yang sering diartikan harus memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal untuk mengayomi keluarga

Punya Rumah Dulu Baru Menikah. Alasan seperti ini memang sering muncul pada pria-pria muda yang mandiri yang baru merintis karir dan pekerjaannya. Banyak orang mendambakan hak ini karena sangat ingin membahagiakan keluarganya kelak, serta sebagai bukti sayang dan tanggungjawab, maka mereka rela menunda untuk menikah sebelum memiliki rumah sendiri. Namun dalam prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang membuat impian ini sulit terwujud, biasanya karena penghasilan sebagai karyawan baru yang belum memadai untuk memiliki rumah sendiri, atau karena banyak pengeluaran lainnya sehingga semakin memperlama proses perwujudan memiliki rumah idaman. Hingga akhirnya, lambat laun idealisme awal perlahan namun pasti mulai mengendur. Hingga kemudian mereka menjadi realistis, maka seringkali muncul keputusan alternatif yaitu menikah dulu, baru nanti memikirkan urusan rumah.

Tinggal bersama keluarga besar . Saat ini bagi mereka yang sudah menikah dan masih belum memiliki rumah sendiri, memilih tinggal bersama keluarga besar. Namun seiring dengan berjalannya waktu serta hadirnya anak-anak membuat sebuah keluarga mempertimbangkan untuk memiliki rumah sendiri dan terpisah dari keluarga besar.

Ketika hasil tabungan sudah cukup Ini mungkin menjadi salah satu yang paling banyak dipilih oleh para keluarga. Setelah sekian lama mengontrak/menyewa dengan sambil sedikit-demi sedikit menyisihkan penghasilan untuk membeli/membangun rumah, maka akhirnya setelah dirasa cukup maka mulai memberanikan diri untuk segera memiliki rumah sendiri. Baik dengan membeli dari developer maupun dengan membangun sendiri. Namun seringkali yang menjadi kendala, ketika tabungan sudah dirasa cukup untuk membeli rumah idaman, ternyata rumah yang diinginkan dan menjadi incaran, harganya sudah naik cukup tinggi.

Solusi yang bisa dilakukan adalah, mengambil Pinjaman Pemilikan Rumah, dengan jangka waktu dan angsuran yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Dengan demikian, rumah idaman sudah ada ditangan, senyum keluarga mengembang lebar, perencanaan keuangan lebih tertata

2 thoughts on “Rumah dan alasan memilikinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s