Potret Metro : Mulanya ragu-ragu, dan tidak percaya

Ibu Suwati, Pemilik Warung Hidayah Pak Bakri

Malam sudah menunjukkan pukul sembilan ketika metro mengunjungi Warung Hidayah yang dikelola Ibu Suwati bersama suaminya, Bapak Bakri. Lokasi warung ini memang strategis, yaitu tepat di seberang UGD Rumah Sakit Islam di Dinoyo, Malang. Kebanyakan tamunya adalah pengunjung rumah sakit, selain para mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) yang banyak kost di daerah MT Haryono. “Karena itu kami berani buka nonstop 24 jam,” tuturnya. Pantas saja karena ketika metro berada disana pengunjung seakan tak berhenti memenuhi kursi yang ada dan karpet yang memang disediakan untuk yang suka lesehan.

Warung yang sederhana ini menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, dan yang paling digemari adalah jamur tiram goreng. “Untungnya lumayan,” katanya sedikit membuka rahasia.
Dahulu warungnya hanya berupa gerobak dan berjualan di daerah Ketawangdede, tepatnya di Jalan Kerto Pamuji, dan sejak bulan Desember 2007, Ibu Suwati mulai berjualan di depan di lokasi yang sekarang.

Dibantu tiga orang karyawannya, omzetnya mencapai 1 juta rupiah kalau malam hari, dan sekitar 400
ribu rupiah di siang hari, maka tidak heran bahwa ibu yang sudah mempunyai satu cucu ini bisa menyetor tabungan sebesar 100 ribu – 300 ribu perharinya. Bahkan setiap karyawannya sudah dibukakan rekening tabungan, dan bisa menabung rata-rata 7 ribu rupiah per hari

Disamping warung sederhananya itu, metro melihat sebuah mobil Daihatsu Zebra berwarna putih sedang diparkir dan menjadi batas karpet yang digunakan lesehan. “ Itu mobil saya, baru dibeli 4 bulan lalu, sebagian dananya minjem di Sawiran, sebagian hasil tabungan saya sendiri” Wah… hebat juga, ya bu….

Ibu Suwati memang dari dulu suka sekali menabung, baik ke bank, Koperasi, BPR, maupun menginvestasikan uangnya dalam bentuk emas. “Sedikit-sedikit saya kumpulkan, hitung-hitung tabungan hari tua, “ katanya. Maka tak heran Ibu Suwati selalu menyambut baik apabila ada yang menawarkan tabungan ke warungnya, apalagi menawarkan fasilitas antar jemput tabungan.

Karena terlalu percaya, ia pernah mengalami kekecewaan, dibohongi oleh salah satu Koperasi. “Saat uangnya mau saya ambil ternyata kantornya sudah tutup dan pengelolanya melarikan diri, “ ceritanya sambil menunjukkan buku tabungan Koperasi yang dimaksud.

Sejak itu Ibu Suwati merasa harus berhati-hati dan selektif menerima tawaran untuk menabung, begitu juga saat masuk menjadi anggota Sawiran. “Pertama, tabungan saya tidak banyak, hanya dua puluh lima ribu saja setiap setor,” tuturnya,” saya masih ragu-ragu”.

Seiring berjalannya waktu jumlah tabungannya pun meningkat. Berkeinginan memperoleh pinjaman, pada awalnya ibu Suwati mengajukan pinjaman untuk tambahan modal dagangannya. “Saya sempat kecewa,” katanya, ”petugas di Sawiran mempertanyakan kemampuan saya membayar pinjaman.” Ia yang semula hanya berkeinginan meminjam selama 1 tahun dengan bunga menurun, dianjurkan meminjam dengan jangka waktu 3 tahun dengan bunga flat, karena khawatir keberatan dengan jumlah angsuran per bulannya.

Namun setelah dijelaskan bahwa angsuran sebaiknya tidak memberatkan dan tidak mengganggu alur keuangan dalam kesehariannya, Ibu Suwati bisa mengerti.

Dalam 6 bulan pinjaman pertamanya ia lunasi, dan mengajukan lagi untuk pembelian mobil. Ibu Suwati berencana melunasinya dengan segera, kemudian mengajukan lagi untuk pembelian tanah. “ Saya punya cita-cita membuka pujasera disana,” ujarnya yang dijawab senada oleh Pak Bakri.

Ibu Suwati mengaku tidak ragu lagi dengan Sawiran, apalagi setelah ia bertemu dengan anggota lain saat berbelanja di Pasar Gadang, yang berkenalan hanya karena sama sama memakai jaket CU Sawiran. Anggota itu bercerita bahwa ia baru saja kesusahan, karena keluarganya terserang sakit secara bergantian dan harus rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari. “Untung aja ada Sawiran,” cerita anggota tersebut,”saya tidak perlu khawatir dengan biaya rumah sakit, karena Sawiran sangat memperhatikan keluarga saya.”

Ibu Suwati juga bercerita bahwa ia cukup terkejut karena banyak keluarga pasien di RSI yang datang dari berbagai daerah dan makan di warungnya ternyata sama-sama anggota CU Sawiran. “Ternyata CU Sawiran sudah merakyat ya, anggotanya sangat banyak dan ada dimana-mana. Sekarang saya sudah percaya dan tidak ragu-ragu lagi. Saya bersyukur mengenal CU Sawiran, dan berharap semakin banyak orang merasakan manfaatnya.”

Malam sudah semakin larut, Warung Hidayah Pak Bakri semakin dipenuhi pembeli, sehingga kami harus menyudahi perbincangan menarik ini. Terima kasih ibu, sudah memilih CU Sawiran dan mempercayai kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s