Keluarga Kami, Keluarga Sawiran

Suatu sore ketika metro berkunjung ke warung serba ada
ini, tak henti-hentinya pembeli berdatangan, kebanyakan
para mahasiswa yang kost di sekitar Landungsari.
Disebut serba ada karena apa yang dijual lengkap sekali,
mulai dari makanan kecil, rokok, kopi, minyak tanah, beras,
sampai sayur-mayur. Tidak heran yang datang terus mengalir
membeli ini itu. Saking banyaknya permintaan pembeli,
warung ini baru tutup sekitar pukul 11 malam.
“Bukanya jam berapa, pak?” Jawabnya, “Setengah empat
pagi!” Wah…
Bu Minthuk, sang ‘bendahara’ menyahut, “Saya harus
belanja jam setengah dua pagi supaya bisa memenuhi
perintaan pelanggan.” Luar biasa…
Tapi semua itu memerlukan perjuangan, “Kami memulai
usaha ini kira-kira 15 tahun yang lalu,” tutur Cak Pri, panggilan
akrabnya. “Dulu kecil sekali dan barang yang dijual pun hanya
sedikit.”
Pelan-pelan ia menambah barang dagangannya sampai
seperti sekarang. Cak Pri juga mengatakan, ia mendisiplinkan
diri untuk setiap hari menyisihkan uang untuk ditabung,
“Sedikit-sedikit yang penting rutin,” katanya.
Hal yang sama disampaikan ibu dua anak ini, “Dulu
hanya bapaknya yang menabung,” kata bu minthuk sambil
menunjuk suaminya,” saya sama sekali tidak tahu.” Sebenarnya
ia agak heran suaminya kok punya buku tabungan CU
Sawiran. Maka karena penasaran ia coba mencari tahu
tentang Sawiran. Kebetulan di Pasar Dinoyo, Bu Minthuk
bertemu dengan salah satu staff CU Sawiran yang sedang
melayani anggota, “Saya mendapat penjelasan kalau saya
pun bisa menabung setiap hari dan bisa memperoleh fasilitas
jemput bola, karena agak sulit bagi saya meninggalkan
warung.”
Sejak saat itu Bu Minthuk pun mengikuti jejak suaminya
bergabung dengan Sawiran, karena merasa kebutuhannya
terpenuhi dan merasa nyaman di Sawiran, ibu ini pun
mengajak seluruh anggota keluarganya menabung di
Sawiran, tidak hanya anak-anaknya, namun juga adik,
kakak, dan orangtuanya semuanya diajak bergabung di
Sawiran. Tidak ketinggalan tetangga-tetangga sekitar ikut
bergabung karena “promosi” Cak Pri dan Ibu Minthuk, maka
tidak berlebihan kalau Sawiran mempunyai “keluarga besar”
di sana.
“Saya puas dan bangga ikut Sawiran, makanya saya tidak
segan-segan mengajak siapapun bergabung, termasuk juga
pembeli-pembeli di warung saya,” tuturnya.
Tidak terasa cukup lama metro ngobrol dengan keluarga
ini, sampai-sampai secangkir kopi pun tandas tak bersisa,
begitu juga sepiring batagor yang disuguhkan. Kami pun
mohon pamit. Terima kasih ya Pak, Bu, atas kepercayaannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s