Credit Union, Solusi Koperasi Macet dan yang Kecewa Bank

Kamis, 15 Oktober 2009

SLEMAN, KOMPAS.com – Masyarakat yang telanjur fanatik pada bank dan koperasi memang sulit melirik Credit Union atau CU. Namun, dengan kenyataan CU lebih manusiawi dan menguntungkan ketimbang koperasi dan bank mana saja, CU pasti berkembang. Di banyak daerah, CU terbukti menjadi solusi koperasi yang macet, dan masyarakat yang kecewa terhadap bank.

Demikian intisari Seminar Credit Union dalam rangka menyambut Hari CU Dunia 2009, Kamis (15/10). Pembicara dalam seminar itu adalah dua penggiat CU, yakni Francis Wahono (Ketua Pengurus Yayasan Ci ndelaras Paritrana Yogyakarta) dan Paul Sutopo, mantan Direktur Bank Indonesia yang kini sebagai Penasehat CU Bererod Gratia.

“Rakyat kecil tak bisa mendapat akses ke perbankan karena bank tidak percaya. Padahal mereka bisa membayar angsuran jika tak dibebani agunan, dan dibolehkan mengangsur semampunya. CU melihat faktor itu. Nilai uang sekecil apa pun dihargai,” ujar Paul.

Hanya saja, menurut Wahono, agar CU berkembang, orang-orang yang terlibat harus mempunyai dan ilmu prihatin . Pengurus CU harus rela meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk menelateni satu demi satu anggotanya. CU berbasis kepercayaan.

CH Tri Harnadi, Pengurus CU Sanqti mengatakan, pihaknya menerapkan CU sejak September 2007. Embrio CU Sanqti adalah koperasi guru dan karyawan TK-SMA Sang Timur. Gagasan menerapkan CU muncul karena koperasi mereka mati suri, tanpa kegiatan.

Saat ini CU tersebut mempunyai 530 anggota, dengan iuran per bulan Rp 25.000. Uang dari iuran inilah ditambah bunga pinjama yang menggerakkan urusan simpan-pinjam di CU tersebut. Sanqti menerapkan ketentuan bunga pinjaman 2,25 persen per bulan.

Sepintas, bunga pinjaman pada CU sama dengan bank. Namun, bunga pinjaman CU berlaku surut yang artinya bunga dihitung dari sisa angsuran, sementara bank menerapkan bunga tetap sehingga bunga dihitung dari pokok pinjaman. Bahasa gampangnya adalah, mengajukan kredit di bank sama dengan mencekik leher.

Uniknya lagi, bunga dan ketentuan CU angsuran bersifat fleksibel. Salah satu contoh adalah, pernah ada seorang guru yang anggota CU hendak melahirkan secara caesar. Ia mengajukan kredit Rp 5 juta, padahal tabungannya hanya Rp 1 juta. Ajuannya dikabulkan. Angsuran pun bisa disesuaikan agar si guru tidak keberatan secara finansial.

Haryono, Bidang Pendidikan Pusat Koperasi Kredit Bekatigade DIY-yang mengkoordinir seluruh CU di DIY-mengatakan, CU di DIY cukup sehat alias bisa mencukupi biaya operasional sendiri dengan memutar uang anggota. “Dari 50 CU di DIY, hanya 25 CU yang masih meminjam modal ke kami. Artinya ada 25 CU yang sehat. Bandingkan dengan koperasi,” ujarnya. Di Yogyakarta, CU mulai dijalankan sejak tahun 1983.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s