Dedikasi dan Pelayanan

Pelayanan CU Sawiran di Gedog-Turen



 

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya, panas menyengat begitu terasa bagi kami yang sedang melangkah di deretan rumah-rumah di  daerah Turen, Kabupaten Malang. Pelayanan seminggu sekali ini tampaknya memang sangat ditunggu oleh penduduk sekitar. Begitu kami mengucapkan salam di depan pintu, setumpuk buku tabungan sudah disiapkan beserta isinya, ditambahkan senyum dan keramahan si pemilik rumah, sungguh panas matahari tadi berubah menjadi kesejukan di hati.

 

Berjarak 26 km dari TP Kepanjen,  daerah Turen memang tidak bisa dilayani setiap hari, jarak yang cukup jauh dan keterbatasan jumlah staff menjadi kendala. Namun kami ingin tetap melayani, menerima anggota yang menabung, mengangsur pinjaman, dan berkonsultasi tentang kebutuhan keuangan mereka. Pembicaraan seputar perkembangan usaha dan kehidupan sehari-hari pun mengalir bagai air. Di beberapa tempat ibu-ibu sambil menggendong anak, berkumpul untuk menunggu kedatangan kami.

 

Orang bijak mengatakan : dedikasi adalah kunci menuju kesuksesan.  Dedikasi melibatkan kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Sejarah mencatat, orang-orang yang berdedikasi pada suatu hal merupakan orang-orang yang berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah.  Warga Turen memang tidak tercatat dalam sejarah, namun dedikasi dalam keseharian yang dilakukan sangat nyata terlihat. Pemilik usaha yang ada,  merangkul tetangga, saudara, dan warga sekitar untuk ikut serta menjalankan usahanya.  Lihatlah usaha yang ada, pengrajin tahu, peternak sapi, pengrajin sangkar burung, pengrajin mebel, pandai besi, petani tebu dan banyak lagi yang belum disebutkan. Masing-masing dengan keuletan dan kerja kerasnya membangun ekonomi lokal.  Tidak ada keinginan bersaing secara tidak sehat atau meraih peluang yang ada sendirian. Semuanya dilakukan secara bersama sama demi kesejahteraan bersama pula.

 

Bertahun-tahun sedikit demi sedikit hasil yang diperoleh dikumpulkan untuk membangun masa depan. Membeli peralatan untuk usaha, membeli tanah, membangun rumah, membeli kendaraan, serta mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak mereka.

 

Kepercayaan dan kedekatan yang tumbuh dari pelayanan bertahun-tahun memang tidak diperoleh dengan mudah.  Seperti masyarakat Kepanjen, kami harus menjunjung tinggi dedikasi dalam pelayanan. Kesabaran menempuh jarak yang jauh, cuaca yang tidak bersahabat, keluletan melayani ratusan orang dengan ratusan latar belakang, konsisten melayani dari waktu kewaktu dengan memberikan yang terbaik. Dan yang penting : menumbuhkan kedekatan dan kepercayaan.

 

Tidak mudah, namun menghasilkan sesuatu yang indah. Senyum dan tawa anggota yang menyambut kami menjadi pelepas dahaga di siang yang terik itu. Masih banyak yang menanti kami untuk menjalin mimpi masa depan keluarga mereka bersama Sawiran, jadi kami harus melangkah lagi.

 

Salam Credit Union

Pak Arifin : Bagi saya, Sawiran adalah sebuah keluarga

Pak Arifin, pengusaha tahu dan peternak sapi



 

Bapak Arifin, anggota CU Sawiran TP Kepanjen,  benar-benar memulai usahanya dari nol. Baginya belajar adalah hal mutlak dengan tidak memandang usia dan kondisi seseorang. Pembelajaran hidup  yang bermula dari kesehariannya sebagai buruh pabrik tahu itulah, yang kemudian mengubah hidupnya.

 

Sebagai buruh pabrik tahu, ia bertugas mengolah ampas tahu yang dihasilkan dan dianggap sebagai limbah. Dari situlah ia belajar bahwa di, limbah tahu ternyata juga menghasilkan uang. Ampas tahu diproduksi ulang menjadi  bahan baku tempe gembos, dan juga bisa dijual sebagai penganan yang disebut “tahu jegug” . Ampas tahu juga dipergunakan sebagai tambahan makanan bagi sapi.Berbekal pengalaman itulah ia nekat membuka pabrik tahu kecil-kecilan.  Namun karena kurang persiapan dan perhitungan yang matang, usahanya ambruk. “Saya waktu itu sempat bingung mengembalikan pinjaman dari sebuah bank swasta,” ceritanya.”Ketika saya menyampaikan permasalahan saya dan meminta  solusi, saya memperoleh kekecewaan.”

 

Pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. Berbekal dari tabungan istrinya, iapun mulai memproduksi tahu kembali.  “Saya hanya memegang uang sebesar tiga juta rupiah,” kenangnya. Padahal modal untuk peralatan mencapai lebih dari dua puluh juta , belum termasuk bahan baku utama seperti kedelai.

 

Saat itulah ia mengenal Sawiran dari pembicaraan rekan-rekannya bahwa ada lembaga keuangan yang concern mendukung gerakan ekonomi masyarakat di sekitar Gedog Wetan.  “Begitu menjadi anggota saya sangat terkesan  karena Sawiran menerima saya sebagai suatu keluarga.  Kesulitan permodalan saya dibantu, pengelolaan usaha saya memperoleh dukungan dan konsultasi, serta hubungan baik yang tetap terjaga sampai saat ini.

 

Maka Pak Arifin pun mulai bangkit, tanpa kenal lelah ia bersama istri menjalankan semuanya sendiri. Mencari bahan baku, mengolahnya menjadi tahu, menggoreng, kemudian menjual ke pasar.Pukul satu dini hari  ia sudah mulai berjualan di pasar sampai pukul tujuh pagi. Setelah beristirahat sejenak, ia  memproduksi tahu sampai pukul delapan malam, sementara istrinya menggoreng tahu yang sudah jadi sehingga siap dipasarkan.  Setelah semua siap,  ia  mengulangi rutinitasnya sebagai pedagang tahu di pasar. Saat ini semua itu tidak perlu ia lakukan sendiri, empat orang karyawan sudah siap membantunya membuat dan mengolah tahu sehingga siap jual.  Namun berjualan di Pasar Besar masih dilakukannya sendiri.

 

Kerja kerasnya bukan tanpa pemikiran keras dan proses pembelajaran terus menerus. Lima ekor sapi yang dimilikinya sekarang bukan hasil seketika. Ketekunannya belajar tentang cara merawat sapi membuatnya mengetahui seluk-beluk pemeliharaan sapi, bagaimana sistem pemasarannya,  dan yang penting  bagaimana cara menggunakan limbah tahu sebagai makanan sapi.

 

“Sawiran selalu hadir ketika saya membutuhkan,”tuturnya,”kepercayaan yang diberikan Sawiran sangat saya hargai, dan saya ingin sekali mengajak sebanyak mungkin orang untuk menjadi anggota.”Kemauan dan keinginan belajar dari pengalaman hidup, memang tidak pernah berhenti bagi Pak Arifin. Bapak yang sedang menunggu kelahiran anak keduanya ini  berencana untuk menjadi menjadi  pewaralaba satu minimarket terkenal, karena melihat peluang yang cukup besar di daerah tepat tinggalnya.

 

Semoga lancar ya, Pak Arifin. Kami dukung selalu langkah anda menuju masa depan, dan terima kasih telah menjadi bagian dan keluarga besar kami, keluarga CU Sawiran.  

 

Arief “Bak Mandi”, Pembuat kurungan dari Gedog Wetan



 

Suatu siang ketika metro berkunjung ke rumah bapak satu anak ini, kesibukan yang dilakukannya tak kunjung berhenti. Bersama istrinya, Bapak Arief sehari-hari membuat kurungan yang dipergunakan sebagai “bak mandi” bagi pecinta burung peliharaan.

 

“Fungsinya ganda,”katanya sambil menunjukkan kurungan yang dimaksud.”  Setiap kurungan mempunyai dua pintu, satu untuk sangkar berbentuk bulat, dan yang lainnya untuk sangkarberbentuk kotak.”

 

Setiap minggu, jumlah kurungan hasil produksinya mencapai 60 buah, ataurata-rata membuat 10 buah perharinya. Membeli bahan yang berasal dari kayulimbah pabrik pun dilakukannya sendiri, begitu juga dengan menggergaji danmemotongnya sesuai ukuran dan kebutuhan.

 

Keluarga yang sudah dikaruniai satu putra ini pun saling bahu membahu. Sang istri  membantu mengebor dan memasangjeruji untuk kurungan, sedangkan Pak Arief, memotong dan menghaluskan, sertamerangkainya menjadi satu bentuk yang sesuai dengan pesanan. Karena itulah ia lebih dikenal dengan Arief “bak mandi” oleh para pembeli kurungan yangdibuatnya.

 

Berawal dari buruh  “menggepengkan” paku

Hasil garapan yang halus dan dikerjakan dengan cepat, ternyata didukung oleh beberapa peralatan yang dimilikinya. Dari alat untuk memotong dan menghaluskan kayu, alat untuk mengebor, sampai paku tembak. Tentang paku ini,Pak Arief punya cerita tersendiri. “Dulu saya bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan kurungan,”kisahnya,” selama bertahun-tahun tugas saya adalah memotong paku dibagian kepala, kemudian menggepengkannya, supaya kurungan kelihatan rapi ketika dipaku. ”

Ketika masih menjadi buruh itulah ia belajar seluk beluk pembuatankurungan, meski secara sembunyi-sembunyi. “Saya tidak diperbolehkan mencoba pekerjaan lain, mengebor kayu misalnya.”

Menurut Pak Arief, karena Sawiranlah ia bisa memiliki berbagai peralatanyang menunjang usahanya.  Sebagai anggotaia memperoleh fasilitas pinjaman untuk mengembangkan usaha yang dipergunakannyauntuk membeli alat-alat produksi satu persatu, serta konsultasi untukmengembangkan usaha.

 

Merasa nyaman dan adem ayem

“Dulu saya tidak memiliki rumah,”kenang Pak Arief. Sebagai seorang buruh,memang sulit baginya untuk mencapai impian memiliki rumah. “Namun karenaSawiran, saya yang semula hanya menyewa, kemudian bisa membeli tanah, dan membangun rumah seperti sekarang ini.”

 

Selama lima tahun setia menjadi anggota, Pak Arief tidak pernah sekalipunterlambat memenuhi kewajibannya. Ia selalu berusaha mengangsur dan menabung tepat waktu, karena ia  sadar, semua yang  dimilikinya sekarang adalah karena Sawiran.

 

“Kalau menjadi anggota di Sawiran, rasanya adem ayem,” ucapnya yangdiiyakan oleh sang istri. Kebersamaan, kedekatan dan kepercayaan  yang terbangun, serta perhatian Sawirankepada anggota membuatnya nyaman dan merasa sebagai bagian dalam suatu keluargabesar.

 

Kami juga bangga bertemu anda sebagai bagian dari keluarga Sawiran, PakArief. Kami berharap semakin banyak orang bangkit dan melangkah menujusejahtera seperti ribuan anggota lainnya.



Tips memilih lembaga keuangan

1.      Waspadai apabila ada yang menawari anda bunga simpanan yang sangat tinggi. Jangan cepat tergiur dengan keuntungan sesaat. Lembaga keuangan yang benar memberikan keuntungan yang wajar dan masuk akal.

 

2.      Waspadai juga apabila ada yang menawarkan kepada anda paket investasi secara pribadi, dan orang yang menawarkan tersebutmendapatkan keuntungan berupa fee karena mendapat nasabah. Waspadai sistem piramida yang berlaku yang merupakan salah satu ciri money game.

 

3.      Terbuka sistem pengelolaannya. Tanyakan bagaimana dana anda dikelola oleh lembaga tersebut, apakah dikelola secarainternal, ataukah diinvestasikan ke dalam bentuk yang lain? Apabila diinvestasikan dalam bentuk usaha, dimanakah usahanya? Berapakah keuntungannya?

 

4.      Di lembaga keuangan yang sehat, anda tidak akan mengalami kesulitan ketika ingin mengambil tabungan atau mencairkan simpanananda. Lembaga keuangan yang bermasalah dengan likuiditasnya akan mengulur waktu, memberikan janji, atau mencari alasan agar tidak segera mencairkansimpanan anda.

 

5.       Lembaga keuangan yang ideal adalah lembaga yang memberikan laporan keuangannya secara terbuka dan berkala. Apabila dalam credit union, laporan keuangan dan laporan pertanggung jawaban secara lengkap diberikan kepada anggota setiap tahun.  Anggota juga diundang untuk mengikuti RapatAnggota Tahunan.



Hak Anda, Pilihan Anda

Pertengahan tahun  ini sekali lagidunia lembaga keuangan tercoreng oleh berita investasi bodong berkedok koperasi. Lembaga yang berkedok Koperasi Serba Usaha (KSU) tersebut dikabarkanberpusat di Sidoarjo dan mempunyai banyak cabang di seluruh Jawa, bahkan di Sumatera.

 

Milyaran uang anggotanya lenyap tak berbekas,ribuan orang pun mulai resah karena uang yang dikumpulkannya dengan susah payahkemudian diinvestasikan dengan harapan keuntungan yang tinggi, ternyata tidakakan kembali.

KSU  tersebut  dikabarkan memberikan iming-iming bungatinggi, yaitu 2,5% – 6% per bulan yang berarti 30%-72% per tahun kepadaanggotanya dalam Program Penyerta Dana dan Simpanan Berjangka. Dana yangdiperoleh dari anggota dikabarkan dinvestasikan kembali dalam usaha peternakansapi perah dan pabrik tahu. Bahkan diinformasikan bahwa limbah berupa ampastahu, digunakan sebagai makanan sapi, sehingga keuntungan akan semakin tinggi.Tapi ternyata para anggota tidak tahu menahu dimanakah peternakan dan pabrikitu berada . Anggota juga tidak pernah menerima laporan keuangan perjalananbisnis koperasi maupun laporan investasi mereka, apalagi diundang untukmengikuti Rapat Anggota Tahunan.

 

Tetapi apakah benar peternakan sapi perah dan pabrik susu yangdipergunakan sebagai tempat “mengolah” dana anggota mempunya keuntungamenghasilkan keuntungan sangat tinggi sehingga mampu membayar jasa simpanankepada seluruh anggota ?

Ternyata tidak ada yang tahu. Anggota hanya “disogok”dengan menerima jasa simpanan (bunga) setiap bulan yang bahkan diantarkan olefstaff koperasi ke rumah-rumah. Tidak ada pertanyaan  dari anggota selama mereka menerima bunga,baru setelah pembayaran tersebut mulai tersendat-sendat dan kemudian macet samasekali, anggota mulai bertanya-tanya dan mulai mengambil tindakan, namun sudahterlambat.

 

Disinilah kami kembali menghimbau anda, masyarakat Indonesia untuk lebihselektif memilih lembaga keuangan, jangan mudah tergiur oleh janji keuntunganbesar semata.  Bunga simpanan yang besardan tidak masuk akal justru meragukan, ketidak jelasan perputaran dana justrulebih meragukan lagi.

 

Di credit union,  simpanan saham anda dipergunakan untuk membantu anggota lain yang membutuhkan dalam bentukpinjaman. Keuntungan yang diperoleh dikembalikan sepenuhnya kepada anda dalambentuk Surplus Hasil Usaha dan fasilitas lain seperti dana-dana sosial,  dan asuransi simpanan dan pinjaman

 

Sebagai anggota, anda punya hak untuk menanyakan kemana dana anda bergulir.  Anda juga bisa memantau jalannya lembaga milik anda  ini dalam laporan keuangan yang anda terima secara berkala. Anda juga dapat mengikuti  Rapat Anggota yang diadakan setiap tahun.Yang pasti dengan menempatkan dana anda di credit union, anda akan membantubanyak orang yang membutuhkan, namun juga memperoleh keuntungan.

Maka terima kasih dengan tulus kami ucapkan kepada anda, anggotaSawiran.  Karena kepercayaan anda kamidapat melayani lebih banyak orang, membantu ribuan orang lain, dan membuka matapuluhan ribu orang bahwa ada cara terbaik meraih kesejahteraan dengan bahumembahu membantu orang lain meraih impiannya. Not for profit, not for charity,but for service. Salam Credit Union.

Rumah dan alasan memilikinya

Suatu siang di kota Malang, Jawa Timur, kami terjebak kemacetan yang sangat panjang karena ada proyek pembangunan rumah. Deretan umbul-umbul dan spanduk yang menginformasikan harga rumah dan fasilitas yang menyertainya memenuhi ruas jalan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini tempat tinggal merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok yang ingin dipenuhi oleh setiap keluarga. Pandangan masyarakat bahwa seseorang dikatakan sejahtera jika telah memenuhi kebutuhannya dalam pangan, sandang, dan papan, telah banyak terpatri di benak kita. Apakah pemilikan rumah sudah menjadi salah satu indikator kesejahteraan keluarga?

Bagi orang yang sudah berkeluarga, memiliki rumah adalah termasuk salah satu cita-cita dan dambaan terbesar dalam kehidupannya. Siapa sih yang tidak ingin memiliki rumah sendiri yang ideal, nyaman dan asri tempat menaungi seluruh anggota keluarga dari panas dan hujan? Punya ruang kamar yang memadai dengan jumlah yang cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga. Pekarangan yang indah disertai aneka bunga dan kebun kecil. Akan tetapi memang tidak mudah bisa mewujudkan sebuah rumah impian.

Beberapa alasan dan kondisi yang membuat seseorang mengambil keputusan untuk memiliki rumah. Diantaranya :

Budaya.
Dalam budaya Jawa seorang lelaki adalah pemimpin , keberhasilan seorang pemimpin didalam rumah tangganya dikatakan berhasil bila mempunyai 4 pegangan yaitu:
Pusaka, yang diartikan bahwa lelaki harus berpengetahuan teknologi atau pengetahuan , berketrampilan, berkemampuan kecil atau besar yang bisa diandalkan dibidangnya yang berguna menjadi sumber penghasilan dalam keluarganya.
Garwa, bahwa seorang lelaki harus beristri untuk mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Namun dalam arti dan maknanya seorang lelaki walau tanpa isteri harus menjunjung tinggi jasa dan pengorbanan seorang ibu yang melahirkannya didunia.
Turangga: lambangnya adalah kuda, artinya adalah dalam menjalani kehidupan, seorang pemimpin harus mempunyai daya analisis pemecahan masalah dan mengambil keputusan dengan benar.
Yang terakhir adalah Griya: lambangnya adalah rumah atau tempat tinggal, artinya seorang lelaki harus menjadi pelindung bagi anak dan istrinya, berpenghasilan yang aman walau tidak tetap, serta melindungi keluarga dari segala gangguan. Hal inilah yang sering diartikan harus memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal untuk mengayomi keluarga

Punya Rumah Dulu Baru Menikah. Alasan seperti ini memang sering muncul pada pria-pria muda yang mandiri yang baru merintis karir dan pekerjaannya. Banyak orang mendambakan hak ini karena sangat ingin membahagiakan keluarganya kelak, serta sebagai bukti sayang dan tanggungjawab, maka mereka rela menunda untuk menikah sebelum memiliki rumah sendiri. Namun dalam prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang membuat impian ini sulit terwujud, biasanya karena penghasilan sebagai karyawan baru yang belum memadai untuk memiliki rumah sendiri, atau karena banyak pengeluaran lainnya sehingga semakin memperlama proses perwujudan memiliki rumah idaman. Hingga akhirnya, lambat laun idealisme awal perlahan namun pasti mulai mengendur. Hingga kemudian mereka menjadi realistis, maka seringkali muncul keputusan alternatif yaitu menikah dulu, baru nanti memikirkan urusan rumah.

Tinggal bersama keluarga besar . Saat ini bagi mereka yang sudah menikah dan masih belum memiliki rumah sendiri, memilih tinggal bersama keluarga besar. Namun seiring dengan berjalannya waktu serta hadirnya anak-anak membuat sebuah keluarga mempertimbangkan untuk memiliki rumah sendiri dan terpisah dari keluarga besar.

Ketika hasil tabungan sudah cukup Ini mungkin menjadi salah satu yang paling banyak dipilih oleh para keluarga. Setelah sekian lama mengontrak/menyewa dengan sambil sedikit-demi sedikit menyisihkan penghasilan untuk membeli/membangun rumah, maka akhirnya setelah dirasa cukup maka mulai memberanikan diri untuk segera memiliki rumah sendiri. Baik dengan membeli dari developer maupun dengan membangun sendiri. Namun seringkali yang menjadi kendala, ketika tabungan sudah dirasa cukup untuk membeli rumah idaman, ternyata rumah yang diinginkan dan menjadi incaran, harganya sudah naik cukup tinggi.

Solusi yang bisa dilakukan adalah, mengambil Pinjaman Pemilikan Rumah, dengan jangka waktu dan angsuran yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Dengan demikian, rumah idaman sudah ada ditangan, senyum keluarga mengembang lebar, perencanaan keuangan lebih tertata

Sawojajar dan Pelayanan Sawiran

Apa yang melintas di benak masyarakat kota Malang ketika ditanya tentang wilayah Sawojajar? Pasti yang pertama kali yang terlintas adalah kata : perumahan. Ya, perumahan Sawojajar terletak di Kelurahan Sawojajar di wilayah Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.

Sepuluh tahun yang lalu di wilayah sawojajar banyak terdapat hamparan-hamparan sawah yang luas yang biasa dijadikan daerah serapan air untuk mencegah banjir. Sayangnya hal ini perlahan mulai menghilang karena banyak dibangun perumahan.

Perumahan di Sawojajar memang memiliki dikenal masyarakat memiliki prinsip rumah yang layak bagi semua, yaitu rumah merupakan hak bagi setiap orang untuk memiliki rumah yang layak. Perumahan di Sawojajar ini menganut sistem pembangunan formal karena termasuk dalam Perumnas (Perumahan Nasional) yang pembangunan, perencanaan, maupun pengelolanya dikerjakan oleh pemerintah. Disini pemerintah telah membangun dan menyediakan rumah dalam bentuk sudah jadi dan menggunakan standar rumah yang ideal.
Saat ini sebagian masyarakat Sawojajar telah banyak merubah kondisi rumah mereka sendiri, dan juga membangun bangunan rumah sendiri, namun tetap mengikuti standar rumah yang sehat, yang terlihat dari segi bangunannya dan kebersihannya, serta memenuhi segi kesehatan. Begitu juga dengan segi kekuatan bangunan, yang memperhatikan segi kenyamanan, dan memenuhi segi keterjangkauan.

Perumahan Sawojajar juga memiliki fasilitas umum yang memadai, seperti sekolah: TK, SD, SLTP, SLTA, SMK. Fasilitas Kesehatan seperti Pukesmas dan Posyandu, dan kantor-kantor pemerintahan. Sayangnya, di wilayah Sawojajar penempatan-penempatan jalan atau nama jalannya sedikit tidak tertata. Nomor dan nama jalan tidak berurutan sehingga dapat membingungkan pengguna jalan. Apabila melewati perbatasan Sawojajar I dan II, jalan sudah banyak berlubang dan yang lebih parah hanya di tutupi dengan sisa material bangunan. Jika seperti itu terus maka kondisi jalan akan semakin parah. Hal ini sangat meresahkan warga sekitar.
Perekonomian juga berkembang pesat dengan banyaknya usaha yang tumbuh di wilayah ini. Berbagai kebutuhan warga dapat dipenuhi tanpa harus keluar dari kompleks perumahan

Hadir Sejak 2007
CU Sawiran sendiri hadir di Sawojajar sejak tahun 2007. Pelayanan yang semula hanya melingkupi daerah di sekitar Jalan Danau Toba, meluas sampai ke Sawojajar Dua, dan juga wilayah lain di luar Perumahan Sawojajar. Pelayanan setiap hari melingkupi wilayah perekonomian seperti Pasar Sawojajar, Pasar Madyopuro, Pasar Tawangmangu, Pasar Besar dan Pasar Bunul Begitu juga dengan pedagang di Sarinah dan Malang Plaza begitu familiar dengan Sawiran.

Pelayanan juga meluas di lingkungan rumah sakit seperti RS Panti Nirmala dan RKZ.
Sawiran terus mengembangkan layanan ke wilayah yang lebih luas sehingga hadir bagi seluruh lapisan masyarakat di wilayah Sawojajar dan sekitarnya.