Bagaimana Membangun Kepercayaan ? Perlu Etika Bisnis!

Ina, seorang pengusaha souvenir, geram luar biasa. Pasalnya salah satu rekannya menggunakan katalognya dan memproduksi barang yang persis sama kemudian menjualnya dengan harga yang lebih murah ke pelanggaannya. Akibatnya tidak hanya omzet menurun, Ina juag harus menanggung kerugian karena kehilangan kepercayaan pelanggan.

Perang harga. Menurunkan kualitas . Saling mencuri ide dan inovasi. Menarik perhatian konsumen dengan segala cara. Memang, tingkat persaingan dalam bisnis, bsik barang maupun jasa, semakin ketat. Kondisi ini pun terjadi karena mental konsumen yang selalu ingin membeli barang/jasa dengan dengan penawaran peling menarik dan harga paling murah. Kualitas barang pun bisa jadi prioritas kedua.

Ketatnya persaingan bisnis menyebabkan beberapa pelaku bisnisnya kurang memperhatikan etika dalam bisnis. Etika bisnis mempengaruhi tingkat kepercayaan atau trust dari masing-masing elemen dalam lingkaran bisnis. Pemasok (supplier), perusahaan, dan konsumen, adalah elemen yang salling mempengaruhi. Masing-masing elemen tersebut harus menjaga etika, sehingga kepercayaan yang menjadi prinsip kerja dapat terjaga dengan baik.

Etika berbisnis ini bisa dilakukan dalam segala aspek. Saling menjaga kepercayaan dalam kerjasama akan berpengaruh besar terhadap reputasi perusahaan tersebut, baik dalam lingkup mikro maupun makro. Tentunya ini  tidak akan memberikan keuntungan segera, namun ini adalah wujud investasi jangka panjang bagi seluruh elemen dalam lingkaran bisnis. Contoh yang lain adalah etika yang diterapkan dalam dunia perbankan atau lembaga keuangan, banyak bank atau lembaga keuangan yang mendasarkan kinerjanya pada etika berbisnis yang positif dalam pengesahan sebuah pengajuan kredit bagi nasabah-nasabahnya, dengan memprioritaskan aspek kepercayaan.

Etika bisnis yang paling utama dan sangat penting untuk diterapkan adalah kejujuran dan keterbukaan (fairness). Tanpa ini tidak akan terjadi keseimbangan kerjasama. Masing-masing elemen dalam dunia bisnis atau pun non bisnis sangat perlu mengutamakan ini dalam menjalin relasinya dengan pihak-pihak lain. Bukan jamannya lagi bagi perusahaan untuk mengelabuhi pihak lain dan menyembunyikan cacat produknya. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya. Kejujuran dan saling terbuka adalah awal pembentuk kepercayaan yang pada akhirnya akan menumbuhkan loyalitas yang tinggi antar perusahaan yang satu dengan yang lain, nasabah terhadap bank/ lembaga keuangan, karyawan terhadap perusahaannya, pembeli terhadap pedagang,  dsb.

Etika bisnis juga sangat membutuhkan integritas. Integritas merujuk pada konsistensi dan kpercayaan. Biasnis yang etis akan memperlakukan ke banyak pelakunya dengan hormat, jujur, dan berintegritas. Mereka kan menepati janji dan melaksanakan semua komitmennya dengan baik.

Ada satu hal yang sangat penting dalam menjalankan etika bisnis adalah dimulai dari pemimpinnya. Pemimpin harus menjadi teladan bagi bawahannya. Agar semua perencanaan penerapan etika bisnis sebagai  prinsip kerja dapat berjalan dengan baik.

Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah harga mati, yang tidak dapat ditawar lagi. Dalam zaman keterbukaan dan luasnya  informasi  saat ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat dan luas. Mmeposisikan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum secara etis dan jujur adalah satu-satunya cara supaya dapat bertahan di dalam dunia bisnis saat ini.

Iklan

Kecil- Kecil Cabe Rawit

Kunci Mengelola Usaha Kecil

Apabila bisnis yang telah besar, atau telah menjadi sebuah korporasi, administrasi dan keuangan telah tertata dengan baik. Bahkan telah mempunyai staf yang benar-benar profesional di bidangnya. Sedangkan usaha kecil masih dikelola secara sederhana, bahkan terkadang karyawan berasal dari keluarga sendiri, yang juga sering tak dibayar.

Sebetulnya kunci keberhasilan dalam mengelola usaha adalah :

a. Komitmen Pemilik dan Karyawan

Komitmen  pemilik dan pengelola usaha dengan karyawan sangat penting. Komitmen pemilik akan mendorong perbaikan dalam budaya kerja yang lebih solid, dan disiplin untuk menghasilkan kinerja lebih baik. Sedangkan komitmen karyawan, sangat penting karena menumbuhkan rasa memiliki. Pelatihan internal terhadap para karyawan juga diperlukan, agar bisa mempunyai kemampuan menjual dan berhubungan dengan pelanggan

b. Sistem dan Prosedur

Betapapun sangat sederhananya, tetap diperlukan adanya suatu sistem dan prosedur, yang tertulis  agar setiap orang yang bekerja dalam dalam usaha tersebut mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukan, dan mengapa harus dilakukan, serta apa risikonya jika prosedur tidak ditaati.

Pada usaha kecil , yang pada umumnya berada dilingkungan masyarakat yang masih memiliki sistem sosial yang dekat dan menjunjung tinggi nilai-nilai, maka etika bisnis, kesetiakawanan, serta komitmen terhadap janji masih dijunjung tinggi.

c. Pendidikan berkelanjutan

Pengelolaan bisnis yang berhasil sangat tergantung dari manajemen dan karyawan yang mengelolanya.  Usaha kecil akan dapat berkembang, jika pemilik  tidak mengabaikan pelatihan internal bagi para karyawannya, sehingga pada saat usaha semakin membesar, maka dukungan kemampuan dari karyawan telah siap. Banyak kegagalan terjadi, karena pelaku usaha tidak siap pada saat bisnis semakin besar.


d. Penghargaan kepada karyawan

Karena sebagian karyawan pada umumnya berasal dari tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan tak terlalu tinggi, atau masih ada hubungan saudara, terkadang pelaku usaha melupakan penghargaan kepada karyawan ini. Pelanggan dari usaha kecil pada umumnya tak menuntut pelayanan berlebihan, namun mereka berharap mendapatkan rasa nyaman saat datang sebagai pelanggan, dan merasakan datang ke tempat seorang teman atau sahabat.

Dan pelanggan ini akan senang jika yang melayani telah dikenal lama dan baik, sehingga diperlukan tenaga kerja yang bertahan dalam jangka lama, dan agar dapat bertahan lama, maka karyawan tadi mempunyai kepuasan dalam bekerja.

Pada umumnya karyawan yang mempunyai kepuasan bekerja adalah yang mampu menjalin hubungan dengan klien secara baik.

e. Administrasi yang tertata rapi

Setelah usaha makin berhasil dan nantinya makin besar, pelaku usaha perlu mempersiapkan diri sejak jauh hari, pelatihan kepada karyawan dan menata administrasi usahanya secara rapih, sehingga memudahkan pelaku usaha mengevaluasi sampai seberapa jauh perusahaan telah berjalan, serta bidang apakah yang bisa ditingkatkan karena memenuhi selera pelanggan. Tanpa administrasi yang rapih, pelaku usaha akan kesulitan mendeteksi jika terjadi hal-hal yang tidak tercatat, yang nantinya dapat menjadi ganjalan untuk meningkatkan usaha.

Credit Union adalah kabar baik bagi semua orang

“Saya tidak butuh pinjaman, jadi untuk apa saya bergabung di CU Sawiran?”. Kalimat ini pernah terlontar dari salah satu bapak ketika kami mengadakan sosialisasi.

Tidaklah benar apabila credit union disamakan dengan koperasi simpan pinjam, atau dianggap hanya membagi-bagian uang dalam bentuk pinjaman untuk mendapat keuntungan.

Mengapa? Karena CU adalah lembaga yang tidak menomorsatukan keuntungan, tidak juga memberikan derma, tapi memberikan pelayanan kepada anggota agar meraih kesejahteraan yang lebih tinggi (not for profit, not for charity, but for service)

Credit Union adalah salah satu solusi pemberdayaan ekonomi yang bisa melibatkan banyak kalangan masyarakat, lintas agama bahkan lintas usia, agar mereka bertanggungjawab akan masa depannya masing-masing. Yang pra sejahtera bisa naik menjadi lebih sejahtera; yang sudah sejahtera pun bisa memiliki nilai sosial dari uang simpanannya untuk digunakan bagi mereka yang membutuhkan. Bukan sekedar charity atau donasi, tetapi menjadi modal untuk mengangkat taraf hidup mereka sendiri.

Apakah anda menyadari, bahwa dengan menempatkan uang anda di credit union meskipun anda tidak membutuhkan pinjaman berarti memberikan kabar baik yang ingin didengar mereka yang berada dibawah garis kemiskinan.

Kabar baik bahwa sebentar lagi mereka tidak miskin lagi. Kabar baik bahwa sebentar lagi anak-anak mereka bisa terus sekolah. Dan  adalah adanya  jaminan pensiun bagi mereka kalau  mau mempersiapkannya dari sekarang.

Kabar baik lainnnya adalah bahwa mereka yang meninggalpun tidak meninggalkan ‘hutang’, tapi justru bisa meninggalkan ‘berkat’ bagi ahli warisnya karena pinjamannya mendapatkan proteksi.

Dari semua hal diatas yang paling penting adalah adanya perubahan pola pikir masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan bagi para anggota sehingga mereka memiliki keinginan kuat untuk keluar dari keterbatasannya dan dipersiapkan menjadi wirausaha yang tangguh.

Maka mendirikan CU adalah suatu kabar baik bagi semua orang karena tujuannya adalah : membimbing dan mengembangkan sikap hemat menghadapi tantangan konsumerisme disekeliling kita.  Memberikan pinjaman layak, tepat, cepat dan murah; terutama bagi mereka yang tidak memiliki aset yang dapat dijaminkan ke lembaga keuangan. Membiasakan anggota agar menggunakan uang dengan bijaksana. Think Twice, Act Wise.

Para pengurus dan manajemen akan membimbing bagaimana memilih simpanan dan menggunakan pinjaman. Pembentukan karakter adalah salah satu prasyarat bagi permohonan kredit. Dan agar anggota dapat merancang masa depan yang lebih baik tidak hanya menghadapi kesulitan sekarang, tapi juga memikirkan masa depan anak-anaknya.

Jadi ,mari menyebarkan kabar baik ini bagi semua orang : bahwa credit union adalah sebuah solusi yang sungguh nyata adanya.

Ketulusan, Perhatian, dan Dukungan Layanan CU Sawiran

Sri Darwati, Pemilik Gendis Collection, Sawojajar, Malang

Bertemu dengan Mbak Atik Dar, panggilan akrab Ibu Sri Darwati ini langsung terasa keakraban yang muncul di butik miliknya. Gendis, adalah toko yang menyediakan busana untuk wanita, tas, dan busana muslim dan lokasinya pun berada di ruko yang sama dengan CU Sawiran.

“Ini adalah suatu kebetulan”, katanya. Mengapa? Karena Mbak Atik sudah mengenal CU Sawiran sejak tahun 2006, sebelum CU Sawiran hadir di Sawojajar. “Waktu itu masih ikut Dinoyo,” ceritanya. “ Saya mendaftar hanya karena sungkan sudah diajak oleh seorang teman.” Maka dia membuka rekening sibuhar dengan jumlah minimum, hanya Rp. 25.000 saja, dan tidak lagi menyetor maupun mengambilnya. “Saya pikir, biarkan sajalah, paling-paling beberapa bulan lagi saldonya sudah habis karena terpotong biaya administrasi.

Namun tak disangkanya, ketika bertemu lagi dengan CU Sawiran di Sawojajar, dan ia mengecek rekening miliknya, ternyata masih terdaftar. “Dan yang membuat saya terkejut, jumlahnya tidak berkurang, malah bertambah.”

Maka didorong oleh rasa penasaran, ia pun mencari informasi tentang produk dan layanan CU Sawiran. Merasa yakin, maka ia pun kemudian bergabung menjadi anggota. “Saya merasa memperoleh banyak keuntungan,” tuturnya.

Berdirinya Gendis Collection juga merupakan hasil dari salah satu keuntungan menjadi anggota. Pada mulanya ibu yang pernah bekerja pada salah satu perusahaan asing ini terkena PHK. Gelisah karena tidak bisa berpangku tangan, maka ketika berlibur ke pulau Bali bersama keluarganya, bakatnya untuk berwirausaha pun muncul.

“Bermula dari titipan tetangga yang ingin mendapatkan oleh-oleh khas Bali,”ceritanya,”saya membeli sembilan buah selimut khas Bali untuk dijual kembali, dan langsung laris manis.”
Berawal dari situ, ia pun membeli lagi sejumlah 20, 30 bahkan 50 selimut khas Bali dan dalam hitungan hari juga ludes diserbu pembeli. Sejak itu berapapun selimut yang ia beli, selalu saja habis. Maka ia pun menambahkan dengan sprei, sarung bantal, dan bed cover khas Bali, dan tanpa diduga memperoleh peminat yang luar biasa.

Namun ia menyadari bahwa usaha tersebut hanya sementara saja, karena meskipun permintaan selimut dan bedcover cukup tinggi, namun order tersebut suatu saat akan berhenti karena pasar sudah jenuh, maka ia memutuskan untuk focus pada penjualan busana wanita. “karena jenisnya sangat beragam dan mengikuti mode yang sedang berkembang, maka usaha ini tidak akan pernah mati.”

Mbak Atik yang ternyata sudah mempunyai bakat berdagang sejak bangku SMA, kembali menelusuri jalur-jalur distribusi yang sudah dikenalnya untukmemperoleh produk yang bagus dan mengikuti mode yang sedang diminati. “Mahal nggak sih harganya,” tanya metro, ingin tahu. “Nggak kok, meskipun selalu mengikuti mode, harganya sangat terjangkau, dari Rp. 50.000an sampai paling mahal Rp. 200.000.

Tidak hanya menjual busana di butiknya, namun Mbak Atik juga memberikan pelayanan lebih dengan saran-saran secara personal tentang dan membantu memadu padan aksesoris yang sesuai dengan karakter serta kepribadian pelanggan.

“Karena pelayanan dengan tulus akan memberikan kesan tersendiri kepada pelanggan,” tambahnya sembari tersenyum, “Seperti yang diberikan CU Sawiran kepada anggotanya, ketulusan, perhatian, dan dukungan.”

Kepedulian terhadap masa depan anak-anak

Cecilia Rosariningsih, Guru SMPK Widyatama, Batu

Baru sebentar bertemu dengan Bu Rosa, kami jadi tertular semangatnya.  Anggota teladan TP Batu tahun buku 2009 kemarin memang benar-benar punya spirit yang luar biasa untuk mengajak anak didiknya mempersiapkan masa depan mereka. Bagaimana tidak ? Hampir setiap hari  ia mengunjungi kami di TP Batu sambil membawa setumpuk buku Sibuhar Siswa.

Ibu Rosa memang bukan sekali ini melangkahkan kaki untuk membangun masa depan bagi anak-anak. Beberapa tahun lalu, Bu Rosa bersama beberapa teman-temannya  menyisihkan sedikit dari penghasilan mereka untuk membantu biaya sekolah anak-anak yang tidak mampu dalam perkumpulan bernama “Don Bosco”.  Perkumpulan ini memberikan bantuan untuk anak-anak dari berbagai kalangan.   “Meskipun saya saat ini tidak lagi aktif dalam perkumpulan itu, keinginan yang sangat kuat itu tetap ada,” tuturnya.

Baginya  mendidik siswa-siswi SMP yang sudah mulai beranjak remaja memang bukan perkara mudah, juga ketika mengajak mereka untuk  mulai menabung dan berpikir jauh untuk mempersiapkan masa depan.  “Saya ingin melihat mereka mandiri, dan memberikan pengertian bahwa hal itu dapat mereka wujudkan dari sesuatu yang kecil dan sederhana, misalnya menabung sebagian uang saku mereka, meskipun hanya dua ribu rupiah saja.”

Awalnya ia melihat banyak siswa yang memperoleh uang saku  dari orang tua mereka, namun tidak pernah disisihkan untuk menabung. Hadirnya Sibuhar Siswa di CU Sawiran mendorongnya untuk kembali mengajak siswanya berhemat dan menabungkan uang sakunya. Diberikannya semangat bahwa dengan tabungan mereka sendiri yang dikumpulkan sedikit demi sedikit,  dapat memenuhi kebutuhan sekolah tanpa merepotkan orang tua, seperti alat tulis, buku, dan fotokopi.

Yang menarik, Bu Rosa tidak hanya mengajak lewat kata-kata. Ia memberi semangat kepada murid muridnya dengan mengantarkan  buku tabungan mereka ke CU Sawiran untuk  melakukan setoran, setelah itu secara bertahap didorongnya mereka untuk datang dan menyetor tabungan sendiri ke TP.

Semangat inilah yang membuat kami kagum. Tidak hanya mengajak, tapi juga memfasilitasi. Tidak hanya berbicara, tapi juga memberi contoh.  Orang tua siswa pun di dorongnya untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak mereka melalui Sipintar seperti putri kecilnya,  Keisha.

Tidak hanya berhenti disitu,  pemikiran bahwa mempersiapkan masa depan tidak hanya melalui nilai-nilai bagus juga dilakukannya. Di kala murid-murid lain sedang melaksanakan remidi, ide untuk menumbuhkan kreativitas siswa melalui Olimpiade Bahasa Inggris pun di lontarkannya.   Bersama guru-guru lainnya Bu Rosa ingin memberikan wadah bagi mereka yang berprestasi dan berani untuk menyongsong masa depan.

Sungguh, kami jadi terharu, di masa pendidikan nasional carut marut di mata masyarakat. Dimana nilai-nilai ujian di dewakan, masih  ada kepedulian yang muncul untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Tidak hanya nilai yang tinggi, tidak hanya prestasi yang menonjol, namun juga kemauan dan ketetapan hati menyambut masa depan mereka sendiri.

Salam kami buat semua guru SMPK Widyatama, ya Bu Rosa…