[Balasan Bizmart] Jengkel dengan “Para Peniru” yang sama sekali ga kreatif!

ibu/mbak vivi,

saya turut prihatin atas kejadian yang ibu alami.
tapi satu hal yang harus ibu pahami ialah hasrat bisnis orang lain untuk mengikuti
jejak ibu yang sukses. Maka saran saya, jangan tutup usaha tersebut tetapi
perbaiki service anda. Kalau anda kalah dalam memberikan service, jangankan
berdekatan, yang jaraknya 1 km pun akan dicari orang. Satu hal lain yang bisa
ibu lakukan ialah dengan menaikkan predikat usaha anda. misalnya, kalau ibu
melihat jasa digital print semakin mejamur, maka ibu bisa menambah predikat
usaha anda dengan menjadi supplier tintanya atau kerta fotonya atau perbaikan
ini dan itu, dengan demikian, mereka justru sudah menjadi customer baru ibu
bukan. Kesempatan ini juga bisa dipakai untuk mengalahkan mereka dalam hal
harga, anda kan bisa secara sepihak menaikkan harga tinta yang ada jual ke
mereka, atau biaya perbaikan yang mereka terima dari anda. Nah… jadi
sebenarnya follower yang tadinya menjadi duri dalam daging telah beralih menjadi
penyedap rasa dalam hidangan usaha anda…. demikian masukan dari saya semoga
bisa membantu.

Salam

Barus mktnas@…

——————————————————————–

Hehehe…rekan Vivi,
Itulah tantangan setiap entrepreneur. Ya tidaklah mungkin kita bisa melarang
orang untuk berbisnis yang serupa dengan kita.
Anda lihat saja di seluruh pasar tradisional sampai di plaza atau mall, selalu
banyak usaha yang mirip bukan?

Nah, sebagai entrepreneur, anda harus bisa bersikap sabar dan ikhlas, jangan
merasa “mereka ikut2an bisnis”. Lebih baik dengan kesabaran dan keikhlasan, Anda
buat bisnis yang ada sekarang menjadi lebih baik lagi, sehingga tidak sampai
kehilangan pelanggan.

Percayalah, jika anda mulai bersikap ikhlas dan sabar dengan persaingan
bisnis, maka saya yakin, rejeki bisnis Anda semakin membaik saja dari waktu ke
waktu…
Jangan terlalu memikirkan orang “yang meniru usaha” Anda. Justru berpikirlah,
bahwa Anda ternyata bisa memberikan manfaat kepada orang lain, dengan ide
Anda…sehingga orang lain tsb bisa juga berusaha untuk “mengais rejeki”.

Semoga hal yang telah Anda lakukan tsb memperoleh imbalan dari Allah SWT.
Selamat menjadi entrepreneur sukses yang ikhlas ya.

Wasalam,
Wuryanano
http://wuryanano.com

——————————————————————–
Mba, ada sedikit yg mgkn bisa aq tambahin kenapa produk mba banyak
plagiatornya. Ini aq kutip dari buku “Ilmu Pasti Bisnis” terbitan
Kaifa, karangan Doug Hall, terbit thn 2004

Doug Hall menggambarkan ada 4 Kuadran untuk sebuah produk

1. Usaha yg butuh biaya mahal menerus

2. Usaha yg butuh biaya murah sebelum ada yg meniru

3. Hasilkan uang cepat…

4. Pertumbuhan terus
Kuadran 1 : Gagasan2 yg sulit diwujudkan, tp masih menawarkan hal yg
sama, biasanya pelaku usaha punya pengembangan dan penelitian
teknologi tinggi

Kuadran 2 : Gagasan yg mudah diwujudkan, tp jg menawarkan hal yg sama

Kuadran 3 : Gagasan2 yg mudah diwujudkan dan punya perbedaan yg
mencolok

Kuadran 4 : Gagasan2 yg sulit diwujudkan dan punya perbedaan yg
mencolok, akan menghasilkan pertumbuhan yg terus menerus

Dari kuadran2 itu
Sulit Diwujudkan
1 4 Menghasilkan Berbeda secara
Brg2 yg sama mencolok
2 3 Mudah Diwujudkan

Menurut Doug Hall,
Kuadran 1, hanya bisa memberi sedikit keuntungan, sehingga bisa mandeg
Kuadran 2, tempat yg tidak memberi keuntungan
Kuadran 3, kesuksesan pasar menyebabkan konsep kuadran 3 cepat ditiru
Kuadran 4, untuk pemilik visi jangka panjang karena menghasilkan pertumbuhan terus menerus dan akhirnya monopoli

Klo menurut buku tsb, konsep produk mba ada di kuadran 3, jadi bakal
ditiru banyak orang dan terlebih lg mba buka di lingkungan kampus,
dimana hal2 tsb sdh menjadi barang mainan penghibur sekaligus alat
cari duit buat mahasiswa, otomatis pemilik modal ga kekurangan
tenaga untuk meniru konsep mba

salam,

ulfa

——————————————————————–
Ibu Vivi,..

Saya cuman mo sharing saja,….
Ada salah satu jurus dari Pak Hermawan Kertajaya (pakar Marketing Indonesia),..
yang kalau boleh saya ambil dari buku beliau tentang 3 circle.

To the point saja dengan masalah ibu (Mbak) Vivi,.. karena banyak pesaing yang
‘ngikut’,…

Masih ingat iklannya ‘HOW LOW CAN YOU GO,..!!?” dari Sampoerna A Mild ,…
Mengapa mereka sampai membuat iklan seperti itu,..!??
Karena mereka ‘merasa’ bahwa untuk LOW TAR, LOW NIKOTIN,. rokok kretek yang pertama kalinya adalah mereka,.. sedangkan yang lain,… L.A. Wismilak, GG
dsb… muncul belakangan,.. yang theme of market adalah sama : LOW TAR AND NIKOTIN,…

Tapi meskipun hampir semua produsen besar rokok terjun ke ceruk yang sama,..
pasar yang sama,… Sampoerna A Mild,.. tetap bertahan bahkan membukukan
laba yang tidak sedikit,…. WHY !??

Saya rasa ada kemiripan dengan cerita mbak Vivi bukan,..!??
Salah satu ‘cara’ untuk mengatasi seperti hal itu menurut buku pak Hermawan,.
adalah kita harus :
1. Memastikan Segment pasar kita istilahnya : SEGMENTATION (CMIIW)
2. POSITIONING,.. menempatkan usaha anda pada posisi yang bagaimana,…
3. DIFFERENTING (CMIIW) : membuat sesuatu yang lain daripada yang lain alias UNIK

Dan yang terakhir adalah :
Apakah usaha tersebut masih bisa mendapatkan PROFIT !???

Kalau ya,… ya ngapain pusing-pusing,.. biar saja pengusaha lain muncul dengan
produk yang sama,.. biarpun ada 1000 pengusaha ngumpul di jalan yang sama,..
asal,.. profit usaha kita tetap gede,…. !! he..he.he..

Salam
Nurkhotim

——————————————————————–

sebelumnya saya ikut prihatin karena ibu akhirnya harus menutup usaha ibu yang
kalo dilihat adalah ‘pioneer’ di daerah ibu tadi…

Itulah tantangan usaha Bu (atau Mbak?), jika kita memulai usaha tentunya harus
memperhitungkan resiko semacam ini. Kalau para penirunya tidak kreatif, berarti
Ibu yang harus kreatif, bagaimana memberi nilai lebih dari produk/jasa yang ibu
berikan.

Di mana ada peluang, pasti orang tidak akan mau ketinggalan mendapatkan untung
jika dia mampu memberikan produk/jasa yang sama. Saingan Ibu yang tadi ibu
bilang buka pukul 06.00 sedangkan ibu pukul 10.00, itu salah satu nilai lebih
juga, walaupun hitungannya dia ‘meniru’ usaha yang ibu jalankan.

Sepertinya usaha yang ibu buka membutuhkan modal yang tidak sedikit, dan
tentunya hal ini (mungkin sekali) memberi peluang lebih besar pada yang bermodal
lebih besar, dengan memberikan layanan ekstra, harga yang lebih murah, bonus
bonus dan sebagainya.

Saya sepertinya tidak bisa juga memberi saran :p tapi coba disurvey lagi, usaha
apa yang bisa ibu jalankan dengan modal yang ibu miliki tetapi tetap bisa
memberikan nilai lebih tanpa harus takut dengan pemodal yang lebih besar.
Misalnya kalau mau usaha warung/tempat makan, tentunya makanan ‘khas’ bisa
menjadi nilai tambah, dan tentunya ini tergantung pada keahlian memasak :p

Bisa juga ibu membuat, menjual produk/jasa yang tingkat modifikasinya masih
sangat banyak. Jadi ketika ada yang meniru, ibu bisa langsung mencari modifikasi
dari produk ibu sebelumnya, walaupun terus menerus ditiru, lama-lama orang akan
tahu bahwa dari tempat ibulah produk/jasa itu bermula.

Dan tentunya tetap yakin, insya Allah tiap orang ada rezekinya.

Mohon maaf jika tidak membantu.
terima kasih.

Aditya A Romansa
Codephile Design Officer (CDO) .. yeah!

cell : +62 819 320 99 339
——————————————-
http://www.haveanyaidea.com

——————————————————————–

Wah saya membaca pengalaman mbak Vivi jadi ikutan miris. Tapi apa mau dikata?
Itulah realitas bisnis di Indonesia. Barrier to entry yg relatif hampir tidak
ada, merupakan kelebihan dan sekaligus jg menjadi kelemahan berbisnis di
Indonesia.

Menurut saya jawaban untuk pertanyaan mbak Vivi adalah attention to detail.
Terutama di bidang service kepada konsumen anda. Selalu berikan pelayanan yang
terbaik atau tambahkan pelayanan apapun meskipun kecil, kemungkinan besar peniru
bisnis mbak Vivi tidak akan memberikan service se-detil itu. Sebagai contoh
mungkin mbak Vivi bisa menyuguhkan kue untuk konsumen, atau sekedar minuman,
dll. Dan juga jangan pernah berhenti memunculkan ide kreatif, lama kelamaan
konsumen pasti akan menghargai.

Mudah2an bisa membantu.

Salam sukses!
Greg

——————————————————————

Hehehehe meniru utk usaha itu dah biasa dalam bisnis Mba apalagi
barang yg mudah didapat.

Kalo jualan service mungkin susah utk ditiru (tp tetap aja bisa
ditiru).

Jadi benar kata Hadi utk mencoba kreativitas dlm usaha dan doa
tentunya hehehe.

Menurut saya sih sah2 saja meniru apa yg dilakukan orang lain apalagi
dlm bisnis.

Jepang jarang membuat barang2 baru ttp selalu menghasilkan barang
inovatif dan kreatif dr barang yg diproduksi negara barat. Jadi kalo
negara barat membuat/menemukan barang A maka jepang akan mencontek
dan membuatnya jadi A+ hehehe ini yg menjadi nilai jual jepang.

Saya pada awalnya mencoba jualan voucher dgn saingan toko kanan kiri
dan sepanjang jalan yg udah seabrek2 tp saya tetap tdk mau kalah
tetap mau coba jualan voucher dgn prinsip rejeki saya tdk kemana kok
kalo kita usaha keras. Dan akhirnya tetap bertahan tuh hingga saat
ini dan tambah maju dr hari ke hari hehehe Alhamdulillah walopun toko
nyewa tp tetap mampu bersaing pantang mundur. Malah pernah digusur 3
kali ama yg punya toko krn yg punya toko mau buat usaha yg sama krn
melihat saya bisa bertahan dan maju hehehe.

Jadi intinya maju terus pantang mundur utk usaha kalo orang lain bisa
nyontek kenapa kita ngak nyontek juga toh halal kok yg kita lakukan.

Salam,
Ale
Sales Garda Oto

——————————————————————–

Dear Mb Vivi,

Pertama, salam kenal🙂 next time kalo saya dolan ke Malang mau ah
makan pancake bakar juga😀
Just sharing aja mb vivi, untuk kendala peniruan itu sah-sah aja dan
sering dilakukan di dunia kita. Peniruan total alias plagiat atau ATM
alias modifikasi bisnis terjadi mulai dari industri besar sampai
kecil. Bahkan nama aja / merk bisa diplagiat, misal extrajoss dengan
enerjoss. Jadi, pada dasarnya hal tersebut nggak bisa kita hindari.
Yang ada kita hanya bisa mengurangi kecepatan peniruan terhadap
produk/usaha kita.
Kuncinya hanya satu sih mba, inovatif dan kreatif. Inovatif dan
kreatif ini sebaiknya sudah dimulai dari awal pembukaan suatu usaha.
Atau sudah diplanningkan. Misal dari planning awal, mb berencana
bulan 1 akan buat layanan delivery. Bulan 3 akan pasang testimonial.
Bulan 5 akan mulai promo ke kampus2 dst. Selama mb bisa terus
mengupdate usaha/produk yang mb miliki saya yakin mb akan survive.
Hal lain yang juga penting adalah sumber2 usaha (bukan hanya modal,
tapi lebih ke produknya). Menurut saya usaha pancake bakar termasuk
unik dan tingkat peniruannya akan sedikit slow dibandingkan dengan
usaha digital printin. Kenapa? Kan susah tuh bikin pancake bakar yang
sesuai selera pelanggan, sementara kalo usaha digital printing bisa
dengan mudah ditiru karena sumber2 usahanya bisa diperoleh dengan
mudah.
Tapi bukan berarti pancakenya ngga bisa ditiru orang lo mbak😀
Kira2 seperti itu tanggapan saya.😀

Rgrds,

Nadia
http://mindtipping.blogspot.com

——————————————————————–

Komen saya:

Sayang kalau mbak Vivi hengkang karena dirugikan banyak saingan. Menurut
saya, banyak saingan malah bisa dijadikan nilai plus, walaupun ini perlu
waktu. Kalau mbak Vivi buka warung lesehan di satu daerah, dan kemudian
bermunculan warung2 lesehan lainnya, maka mungkin akan muncul semacam
pusat warung-warung lesehan disitu. Dan pada akhirnya akan semakin
banyak orang yang datang karena banyak pilihan disitu.

Contohnya, penjual komputer di Glodok. Mungkin kalau hanya satu penjual
komputer disitu, maka nama Glodok tidak akan terkenal.

Mungkin yang diperlukan sama Mbak Vivi adalah kesabaran dan kreatifitas.
Karena kalaupun mbak Vivi buka warung di tempat lain, kejadian serupa
mungkin akan terjadi lagi. I ya to?

Salam SMART,

Endro

——————————————————————–

Maaf ya Mbak…saya gak bisa komentar bagaimana
caranya…

Dulu saya pernah jualan bubur ayam di depan KONI.
Awalnya hanya ada dua penjual bbur ayam termasuk
saya….lalu ada lagi dan lagi..sampai ada 4 atau 5
penjual bubur ayam…dan…mereka yang baru mulai
ambil tempat sebelum2 saya…tahu sendiri kan kalau di
depan KONI kan satu arah…jadinya saya alternatif
terakhir bagi mereka….

Jualannya sama kan ya…akhirnya saya tergerak karena
ada sekeluarga membeli bubur ayam saya dan nambah
terus….katanya service nya cepet jadi mereka
suka….

Jadi meskipun dapte pelanggan “buangan” dari buryam
yang lain….tapi berarti saya harus fight di
service….

oya udah nonton film “The Pursuit Happiness” yang main
Will Smith….

Destia Kusumawardhani

——————————————————————–

Duh…. sepertinya mbak Vivi bete banget ya.
Tapi saya sepakat dengan Mbak Destia.

Mestinya usahanya jangan buru-buru ditutup dulu.
Justru semakin banyak yang membuka usaha yang sama akan semakin bagus.
Lho koq begitu?
Secara tidak langsung lokasi tersebut akan menjadi rujukan konsumen dan akan
menjadi pasar yang khusus. Nah malah bagus bukan?

Masalah berikutnya adalah bagaimana usaha kita membuat konsumen menjadikan
tempat kita sebagai pilihan utama. Nah mbak Destia sudah memberikan kiatnya.

Baiknya mbak Vivi bertahan, karena mbak Vivi sudah punya poin tersendiri “Yang
Pertama”.
Yang namanya pengekor tidak mungkin dibendung, tapi bisa diantisipasi dan
disiasati.
Dengan adanya pengekor akan membuat kita lebih kreatif dan inovatif.
Perusahaan besar pun demikian.
Tinggal bagaimana kita dapat menjalin komunikasi yang baik dengan pengekor
agar persaingannya sehat, atau justru saling mendukung.

Coba kita belajar di pusat grosir pakaian, atau buku atau HP, dagangannya
sejenis, tapi mereka dapat saling membantu. Yang akan menjadi Leader adalah yang
paling kreatif dan inovatif.

Mohon maaf bila komentar saya terlalu panjang dan kurang berkenan.

Salam Sukses untuk Semua
Rizal
——————————————————————–

Mbak Vivi udah punya tempat strategis kok sekarang.
Kedai pancakenya dah di sumbersari.
tempatnya OK. sebelahnya ada warnetnya.
sekarang tinggal promosinya digiatin.
nanti saya akan cuba nulis promosi word of mouth.
atau coba belajar di http://www.customerladder.com
punya teman saya mbak annisah.

salam,

nb. ada temen club tiger di malang katanya kecewa nih ama pancake bakar
sumbersari
katanya biasa, dia kira sensaional…
lah emang pancake kan begitu yah…hehehehe apanya dunk yang harus di
modif.

Indharta

——————————————————————–

mb vivi, …
semangatnya luar biasa. mb itulah nikmatnya menjadi warga kampung
bismart, sesama tetap ngga tetap memberikan support untuk kemajuan
bisnis.

memang mb plagiator itu ga bakal habis, bahkan untuk pengusaha
awalan justru dianjurkan untuk ATM, amati, tiru dan modifikasi. nah
loh,…kl pakemnya udah begitu gimana dong. kuncinya memang tidak
lepas dari kreatif,kreatif dan kreatif.

mb vivi, pancake bakar kayaknya masih satu-satunya di malang ya? nah
mungkin ini juga harus punya planning, siap-siap di plagiat hi..hi..

insyallah saya mampir deh mb, pengin nyobain pancake bakar kesukaan
saya,..wah pasti yummi..yummi ya ….sambil ngobras bisnis ditemani
pancake bakar ..ehmm…ato bisa juga jadi salah satu basecamp
mahasiswa yang tertarik bisnis? tinggal ngumpulin begawan-begawan
entrepreneur malang kita undang mahasiswa yang pengin sharing ..jadi
deh basecamp bisnis? value added khan mb….

regard
ary putri
http://www.weddingmuslim.com

——————————————————————–

met siang mbak,

mau ikutan komentar nih,
terus terang saya adalah pebisnis yang paling suka ikut-ikutan,

jadi sistemnya saya akan ngikutin tren yg ada bikin itu jadi bisnis dan
modifikasi ke arah yg lebih baik.
misalnya lokasi yg lebih baik, kualitas yg lebih baik, pelayanan dan
kemudahan yg lebih baik
ada jaminan garansi, bisa diantar…dll….dll..

tapi sebenernya kalau dilihat sebagai follower jg gak seburuk itu sih,
lawong saya kebanyakan modifikasinya.

jadi saya rasa kunci untuk pertanyaan mbak ya cuma satu…DIFFERENTIATE OR
DIE…
karena biasanya para pengikut sangat mati-matian memberikan value for money
buat konsumennya
produk boleh sama tapi kalau nilai tambahnya ada SEGUDANG pasti pemenangnya
cuma satu, orang yg bisa menangin hati konsumennya.

terima kasih

adipraja
0817769970

——————————————————————–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s